INFO DUNIA PERIKANAN

Home » Info » DUA MALAM DI PULAU PANDAN

DUA MALAM DI PULAU PANDAN

Setelah menunggu beberapa hari lamanya sesuai waktu yang dijanjikan oleh kepala satker Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Pieh dan Laut Sekitarnya, akhirnya jadi juga berangkat ke Pulau Pandan untuk berkemah di pulau yang hanya dihuni oleh satu orang penjaga pulau yang ditemani oleh 3 ekor anjing kesayangannya selama dua malam.

Diiringi dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat, mendung dan sempat hujan juga, kondisi laut yang cukup bersahabat mengantar keberangkatan kami menuju Pulau Pandan.  Setelah 45 menit perjalanan, sekitar setengah 4-an sore kami sampai di Pulau Pandan.  Dengan bantuan rubber boat, kami berhasil membawa diri dan perbekalan untuk mendarat di pulau tanpa harus berbasah-basah ria.

Pak Setu, sang penunggu pulau yang ditemani oleh 3 ekor anjing setia kesayangnnya, menyambut kedatangan kami di pantai, ditemani oleh dua nelayan yang sedang merapat ke pulau.  Rupanya nelayan tersebut sedang mengalami masalah dengan kapalnya sehingga tidak bisa melanjutkan aktivitas penangkapan ikan.

Tanpa banyak basa-basi begitu tiba di pulau seluruh anggota tim yang dipimpin oleh ketua tim langsung mendirikan tenda untuk bermalam di Pulau Pandan. Setelah mendirikan tenda dan mempersiapkan tempat berkumpul sekaligus sebagai dapur umum, karena hari sudah semakin sore dan menuju gelap, kami segera menyiapkan makan malam.  Berbekal perlengkapan masak dan bahan-bahan instan dari darat, acara masak-memasak jadi lebih praktis.  Bagusnya lagi, malam ini kami dapat tambahan lauk untuk makan malam, yaitu ikan segar! Alhamdulillah sang nelayan berbaik hati untuk berbagi logistik.  Segera kami siapkan per-apian untuk membuat ikan bakar.

Acara masak-memasak sudah selesai dan siap untuk disantap, ketika cuaca semakin memburuk dan turun hujan lebat.  Wah, ternyata dapur terbuka yang kami siapkan juga mengalami bocor di sana-sini.  Akhirnya, kami hanya bisa duduk-duduk dan berdiri mengelilingi meja sambil masing-masing mengamankan diri supaya tidak kuyub.

Agenda malam pertama ini sebenarnya kami bermaksud melakukan patroli di laut dan di pantai sekeliling Pulau Pandan.  Patroli di laut dimaksudkan untuk mengamati aktivitas penangkapan yang terjadi di malam hari.  Patroli di pantai untuk melakukan pengamatan terhadap aktivitas penyu yang sewaktu-waktu naik dan hendak bertelur di pantai.  Apa mau dikata, cuaca benar-benar tidak memungkinkan.  Hujan turun dengan lebatnya.  Akhirnya kami ngungsi dan berdesak-desakan di “ruang tamu” Pak Setu, ngobrol-ngobrol dan menikmati menu makan malam.  Hari semakin malam dan hujan tak kunjung reda, kami memilih untuk beristirahat menikmati keheningan pulau ditemani rintik-rintik hujan yang setia mendinginkan suasana.

Esok harinya setelah sholat subuh, kami sudah memulai aktivitas.  Olah raga pagi keliling pulau sambil mencari, mana tahu masih ada jejak-jejak tertinggal apabila semalam memang ada penyu yang naik ke pantai.  Kami mulai mengelilingi pulau dari pantai sebelah timur, bergerak menuju selatan, terus ke barat dan berakhir di utara pulau ketika kami menemukan beberapa bekas jejak penyu.  Dari jejak yang ada, nampak oleh kami bahwa jejak tersebut masih baru.  Bisa jadi semalam ada penyu yang naik.  Kami coba lakukan pengamatan pada jejak tersebut.  Apakah memang itu jejak penyu yang naik untuk bertelur atau hanya jejak kamuflase sebagai fake nest.  Pagi itu kami menemukan sekitar tiga jejak penyu.

Karena tidak bisa memastikan apakah memang penyu yang naik tersebut bertelur di pantai atau tidak, akhirnya kami mengajak serta Pak Setu untuk mendatangi kembali jejak-jejak yang kami temukan.  Menurut Pak Setu, berdasarkan jejak tersebut, beliau memastikan hanya satu jejak yang menunjukkan bahwa di situ sang penyu menggali lubang dan bertelur!  Seolah tidak percaya dengan keterangan beliau, kami meminta beliau mengeluarkan ”senjatanya” berupa tongkat besi untuk memastikan kebenaran keterangan beliau.  Setelah melakukan penusukan beberapa kali ke pasir, beliau meyakinkan kami bahwa memang di situ terdapat telur di dalamnya.  Hal ini ditandai bahwa di ujung tongkat terasa ada bekas-bekas lendirnya.  Seakan masih belum percaya, kami menggali tempat tersebut.  Pada kedalaman sekitar 50 cm, barulah terbukti apa yang beliau sampaikan.  Di tempat tersebut memang terdapat telur penyu.  Memang, pengalamanlah yang akhirnya berbicara.

Kami tutup kembali lubang tersebut, dan mencoba menandai lokasi tersebut dengan memberikan tanda di sarang telur penyu dan menentukan lokasi keberadaannya.  Hari itu, tanggal 2 April 2013, kami mulai berhitung, 50 hari ke depan kami berharap telur-telur penyu di lokasi ini sudah menetas.  Semoga tetap terjaga!

Kami kembali ke base camp dan bersiap-siap untuk aktivitas selanjutnya.  Setelah melakukan pelepasan tukik, kami melakukan kegiatan bersih pantai, terutama pantai di sebelah timur.  Mungkin karena langsung berhadapan dengan Pulau Sumatera, kondisi pantai timur Pandan saat itu benar-benar kotor.  Sampah-sampah, baik sampah organik maupun anorganik nampak memanjang memenuhi pantai.  Sampah organik didominasi oleh kayu-kayu,baik itu bekas bangunan maupun patahan-patahan dari pohon.  Sedangkan sampah anorganik tentu saja didominasi oleh plastik!  Sampah-sampah tersebut kami kumpulkan.  Sampah organik selanjutnya dibakar, sedangkan sampah anorganik cukup dikumpulkan saja supaya tidak berserak-serak.

Pantai di Pulau Pandan memiliki pasir putih yang lembut serta dikelilingi perairan yang jernih, menyenangkan untuk aktivitas berjemur dan berenang sambil menikmati alam bawah airnya.

Aktivitas berikutnya yang kami lakukan adalah melakukan pengamatan di laut untuk mencari tahu aktivitas nelayan di dalam kawasan.  Rupanya hari itu laut sedang “sepi” tidak nampak satupun nelayan oleh kami.  Mungkin dampak cuaca yang kurang bagus semalam sehingga nelayan tidak ada yang melaut. Kemudian kami coba melakukan pengamatan kondisi bawah air sekitar Pulau Pandan, terutama di sebelah timur pulau. Terumbu karang yang ada secara umum dalam kondisi rusak dengan nampak di beberapa titik mulai terjadi recovery.  Di sebelah timur agak ke utara, telah nampak ada rapatan tutupan terumbu.  Namun, sayangnya di sekitar itu kami jumpai adanya predator alami terumbu karang,yaitu Acanthaster plancii  alias bintang laut berduri.  Hewan ini memangsa terumbu karang dengan memakan polip karang yang dampaknya bisa berakibat pada kematian terumbu karang dan terjadinya bleaching.  Saat itu kami jumpai sekitar 10 ekor lebih Acanthaster plancii  dalam satu area yang tidak begitu luas.  Jumlah yang tergolong banyak untuk luasan itu.

Setelah kembali ke kapal dan menuju darat untuk istirahat dan makan siang, kami mempersiapkan alat bantu untuk memungut predator-predator karang tersebut.  Hari menuju sore ketika cuaca kembali berubah kurang bersahabat, mendung disertai kondisi perairan yang tidak bagus dan tidak aman untuk melakukan penyelaman kembali.  Kami memutuskan untuk membatalkan agenda memungut sang bintang laut berduri.

Malam menjelang, sang hujan masih turun dengan lebatnya.  Terpaksa agenda malam untuk keliling pulau dan melakukan pengamatan terhadap penyu kembali gagal dilakukan.

Dini hari sekitar setengah empat pagi, kami terjaga dan karena hujan juga sudah reda kami memutuskan untuk melakukan pengamatan pantai. Belum jauh kami melangkah, kami melihat adanya jejak penyu.  Kami coba ikuti jejak itu, dan…….

Saat itu yang terpikir oleh kami, “Ini sudah menjelang pagi, kalau memang ada penyu di ujung jejak itu, kayaknya penyu sudah mulai bertelur atau malah sudah selesai dan sedang melakukan aktivitas menutup lubang!” Dan ini berarti bahwa tidak akan masalah apabila kami melakukan pengamatan lebih dekat.  Langsung saja kami sorotkan lampu sorot yang kami bawa.  Nampak seekor penyu berukuran besar, panjang karapas sekitar 1 meter, sedang menggerak-gerakkan kakinya untuk mengumpulkan pasir.  Karena ketidaktahuan kami, saat itu kami pikir penyu tersebut baru mulai menggali lubang dan ini malah berarti bahwa kehadiran kami mengganggunya dan terancam sang penyu akan membatalkan niat bertelurnya.

Pada saat akan melakukan aktivitas bertelur, penyu sangat sensitif.  Gangguan sekecil apapun, baik itu berupa suara ataupun sorotan cahaya akan membatalkannya bertelur, meskipun lubang sudah tergali olehnya.  Namun, apabila pengamatan dilakukan pada saat telur-telur sudah dikeluarkan, maka gangguan apapun tidak akan berpengaruh padanya.  Pada saat bertelur ini, penyu seolah-olah mengalami fly.  Inilah saat yang tepat untuk melakukan pengamatan.

Khawatir telah mengganggu penyu, kami segera mematikan lampu sorot dan berdiam diri.  Kamipun memutuskan untuk membagi diri, satu tim menunggu penyu tersebut, satu lagi melanjutkan keliling pantai untuk melakukan pengamatan pantai.  Setelah beberapa saat, kami kembali berkumpul.  Tim penjaga penyu melaporkan bahwa pada saat tim kembali ke base camp dan mencoba mengambil kamera, sang penyu telah beranjak dari tempatnya menuju ke laut.  Belum sempat diambil dokumentasinya, sang penyu telah berenang ke lautan lepas.  Tim yang melanjutkan keliling pantai melaporkan ditemukannya jejak penyu yang lain, ada sekitar 3 jejak namun tidak dijumpai penyunya.  Mungkin itu jejak penyu yang naik tadi malam.

Hari sudah terang ketika kami kembali mendatangi temuan kami dini hari tadi.  Beserta Pak Setu dan senjatanya, kami coba memastikan apakah penyu dan jejak yang kami temukan benar-benar jejak penyu bertelur atau hanya penyu yang sekedar naik dan tidak jadi bertelur.  Dari jejak-jejak yang kami temukan, jejak yang berujung dijumpai penyu ternyata benar-benar terdapat sarang telurnya.  Wah, kami benar-benar bersyukur mengetahuinya.  Kekhawatiran sempat muncul, jangan-jangan gara-gara kami sang penyu tidak jadi bertelur dan segera kembali ke laut.  Syukurlah hal itu tidak terjadi.  Sedangkan jejak yang lain merupakan jejak dari penyu yang naik namun tidak jadi bertelur.  Pada jejak yang berujung sarang telur kami beri tanda dan tentukan posisinya untuk dilakukan monitoring kembali di lain waktu.

Langit masih mendung dan cuaca masih kurang bersahabat. Awan putih menutupi angkasa dan hujanpun kembali turun pagi itu.  Setelah menyiapkan sarapan dan berkemas, kamipun harus meninggalkan pulau.  Diiringi hujan lebat yang mengguyur, Pak Setu melepas kepergian kami dari tepi pantai.  Terbayangkan oleh kami, bagaimana sepi dan sendirinya Pak Setu……

siap-siap berangkat

DSC03684.JPG

 

 

dayung… dayung….!

DSC03692.JPG

beskem!

DSC03703.JPG

tim dapur
DSC03709.JPG

 

ikan bakar, eh, bakar ikan!!!

DSC03707

jejak si penyuDSC03742.JPG

Pak Setu in action

DSC03814.JPG

tuh kan, ada telurnya!

DSC03817.JPG

bersih2 pantai, yuuuk…!!!

DSC03803.JPG

this is it ….. !!!!

DSC03832.JPG

ini dia…!!!!

DSC03698.JPG

Berlarilah lepas…bebas…menuju samudera nan luas…
DSC03789.JPG

by. WD FH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

April 2013
M T W T F S S
« Mar   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d bloggers like this: