INFO DUNIA PERIKANAN

Home » hama dan penyakit » PENYAKIT BERBAHAYA PADA BUDIDAYA IKAN PATIN DI SUMATERA

PENYAKIT BERBAHAYA PADA BUDIDAYA IKAN PATIN DI SUMATERA

Budidaya ikan patin merupakan suatu usaha lokal yang penting keberadaannya di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Sekarang ini, bagaimanapun juga, beberapa penyakit  berbahaya telah menyebar di kolam dan karamba jaring apung baik milik petani ikan maupun instansi pemerintah. Hal ini telah menyebabkan kerugian yang cukup serius pada aspek produksi karena mengakibatkan kematian massal. Berdasarkan pengamatan dan pengidentifikasian yang dilakukan, ditemukan 4 (empat) macam penyakit berbahaya untuk budidaya ikan patin. Keempat jenis penyakit tersebut yaitu penyakit bisul, nekrosis kulit, ‘chochin’, dan penyakit ‘tubercle’. 

 1. Penyakit bisul

Penyakit ini diamati pada budidaya ikan patin di karamba di Sungai Batanghari (instalasi IRD Perancis baik di Desa Kubukandang maupun setelah dipindahkan di Desa Rengas condong). Penyakit ini teridentifikasi pada September 2001 dan menginfeksi 50 % jumlah ikan yang dipelihara. Ikan patin yang terserang penyakit bisul ini adalah induk dan calon induk (tahap pembesaran)

Gejala klinisnya adalah sebagai berikut :

  1. Adanya bisul berukuran kecil, berdiameter kira – kira 1 cm, namun dalam sampai menyentuh lapisan otot/daging dan terdapat pendarahan pada permukaan tubuh bagian punggung di bagian ekor (Gambar 1).
  2. Pada awal gejala, terdapat pembengkakkan pada permukaan tubuh seperti bisul. Kemudian berkembang membentuk luka (bisul pecah), dan mulai terdapat nanah di dalamnya (Gambar 2).

Penyebab penyakit bisul ini diduga adalah bakteri. Namun, isolasi bakteri yang dilakukan gagal. Walaupun demikian, penggunaan antibiotik yaitu OTC (Oxytetracylin) sangat efektif. Ikan yang sakit dapat sehat kembali.

 2. Penyakit nekrosis kulit

Penyakit nekrosis kulit terjadi pada pertengahan Maret 2002 dan selama 1 bulan tingkat kematian mencapai 50 %. Pada akhirnya, tingkat mortalitas mencapai 100 % dalam waktu 5 bulan. Penyakit ini diamati pada budidaya ikan patin di karamba di Sungai Batanghari (instalasi IRD Perancis di Desa Kubukandang). Penyakit ini menyerang ikan patin ukuran induk dan calon induk.

Adapun gejala klinisnya adalah sebagai berikut :

  1. Terdapat satu atau dua borok berukuran besar yang membentuk nekrosis kulit pada permukaan tubuh (Gambar 3). Nekrosis kulit ini hanya terjadi pada jaringan kulit yang menutupi tubuh artinya tidak menembus jaringan otot atau daging (Gambar 4).
  2. Tidak ada nafsu makan.

Pemeriksaan yang dilakukan termasuk isolasi bakteri dan uji virus sederhana menggunakan kertas filtrat untuk virus, namun bakteri yang diisolasi pada media agar tidak merupakan bakteri yang menyebabkan penyakit ini. Bakteri tersebut merupakan bakteri sekunder yang menyerang ikan setelah terjadinya luka atau nekrosis kulit. Hasil uji virus adalah negatif. Pemeriksaan dilakukan juga secara histopathologi, namun kesimpulan yang didapat bahwa penyebab penyakit nekrosis kulit adalah kualitas air yang menurun atau adanya kontaminasi bahan/zat beracun di lingkungan perairan budidaya. Penggunaan antibiotik seperti OTC dan vitamin C tidak efektif untuk mengurangi jumlah kematian ikan.

Penyakit ‘chochin’

 

Penyakit ‘chochin’ diamati pada Maret 2002 menyerang ikan patin siam (Pangasius hypopthalmus) pada skala usaha pembesaran di Sungai Batanghari, Desa Kubukandang. Ikan patin siam tersebut berukuran 100 – 200 g/per ekor. Tingkat kematian ikan yang terserang penyakit ini sebesar 5 % . Penyakit ini kembali menyerang pada Juli 2003 di lokasi yang sama.

 

Gejala klinis serangan penyakit ‘chochin’ adalah sebagai berikut :

  1. Terdapat luka di belakang kepala sehingga terlihat seperti kulit kepala terkelupas Gambar 5 dan 6).
  2. Selain luka tersebut di atas, tidak terdapat gejala klinis lainnya baik pada penampakkan luar maupun pada organ dalam.

 

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi parasit dan bakteri, hasilnya negatif. Ada parasit yang teridentifikasi secara histopatologi, namun tidak berhubungan dengan terbentuknya luka tersebut. Ikan yang terserang penyakit ‘chochin’ ini dibawa ke Laboratorium Kesehatan Ikan BBAT Jambi dan dipelihara dengan air di BBAT Jambi selama 1 bulan. Ikan tersebut secara alami sembuh total, tanpa pemberian obat atau semacam antibiotik (Gambar 7).

 

Berdasarkan pemeriksaan dan percobaan yang dilakukan, penyebab penyakit ini disimpulkan adalah adanya stress di lingkungan perairan (kualitas air) atau pada media pemeliharaan yaitu seperti kepadatan ikan yang tinggi. Penggunaan antibiotik diberikan untuk mencegah terjadinya infeksi bakteri sekunder dari lingkungan perairan.

 

 

 

  1. Penyakit ‘tubercle

 

Pada awalnya penyakit ‘tubercle’ ini ditemukan menginfeksi ikan patin pada usaha pembesaran dan pendederan pada sistem resirkulasi di Desa Tangkit. Namun, sekarang telah menyebar ke daerah sekitarnya yaitu Desa Kumpeh Ulu dan Desa Sungai Gelam (Kecuali lokasi BBAT Jambi yang dinyatakan bebas dari serangan penyakit tersebut), keduanya berada di Kabupaten Muaro Jambi; serta daerah Kota Jambi, bahkan terjadi juga di Desa Senaning Kabupaten Batanghari. Begitu pula dengan jenis budidaya yang dilakukan, karena telah menyerang ikan patin pada usaha pendederan di akuarium dan bak serta pembesaran baik di karamba maupun jaring apung. Penyakit ‘tubercle’ ini dapat menyebabkan tingkat kematian ikan sampai mencapai 100 %, bila tidak secepatnya diberikan tindakan penanganan berupa pemberian antbiotik sesuai dosis yang dianjurkan.

 

Gejala klinis serangan penyakit ‘tubercle’ adalah sebagai berikut :

  1. Kemerahan pada daerah sekitar anus dan abdomen (perut) membengkak (Gambar 8).
  2. Terdapat bintik – bintik putih pada organ tubuh bagian dalam yaitu ginjal, limfa, dan hati (Gambar 9).
  3. Terdapat pendarahan pada daerah sirip.

 

Penyebab penyakit ini adalah bakteri yaitu Edwardsiella ictaluri, bakteri Gram negatif berbentuk batang (Gambar 10). Hal ini diketahui berdasarkan isolasi dan identifikasi yang dilakukan oleh Laboratorium Kesehatan Ikan BBAT Jambi, PTTC – JICA, dan Nippon Animal and Veterinary Science Jepang.

 

Penggunaan antibiotik seperti OTC pada awalnya efektif, namun penggunaan yang tidak terkontrol menyebabkan timbulnya tipe bakteri yang tahan/resistan terhadap antibiotik ini sehingga tidak efektif lagi. Penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol dapat berupa penggunaan yang tidak mengikuti dosis yang dianjurkan dan penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Satu jenis antibiotik (A)  dapat digunakan selama penggunaan antibiotik tersebut masih efektif. Bila tidak efektif lagi, gunakan jenis antibiotik yang lain (B); dan gunakan antibiotik lain (C) bila antibiotik tersebut (B) tidak efektif. Jenis antibiotik yang pertama kali digunakan (A) dapat digunakan setelah jenis antibiotik ketiga tidak efektif. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya tipe bakteri yang kebal/resistan terhadap antibiotik.

 

sumber : BBAT Jambi

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

February 2013
M T W T F S S
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  
%d bloggers like this: