INFO DUNIA PERIKANAN

Blog Stats

  • 70,552 hits

Start here

10 Jenis-jenis Terumbu Karang di Indonesia

Indonesia adalah negara yang berbentuk kepulauan. Oleh karena itu, indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki jumlah perairan yang luas. Memiliki banyak pulau serta perairan yang luas, membuat keanekaragaman hayati di Indonesia sangat bervariasi (Baca: Keanekaragaman Hayati di Indonesia Flora dan Fauna). Indonesia sendiri adalah negara dengan banyak memiliki gunung api. Aktivitas gunung api atau vulkanisme adalah salah satu faktor pembantuk tanah yang subur (Baca: Dampak Vulkanisme dalam Kehidupan). Sehingga, jenis flora yang ada di Indonesia semakin beragam.

Tidak hanya flora yang beragam, tetapi fauna yang ada di Indonesia juga beragam. Mulai dari yang tidak dilindungi, hingga yang dilindungi (Baca: Flora dan Fauna yang Dilindungi di Indonesia). Indonesia adalah negara yang di apit oleh dua samudra dan 2 benua. Hal ini menyababkan flora dan fauna di Indonesia sendiri memiliki perpaduan dari 2 benua dan samudra. Sebagai daerah yang memiliki iklim tropis dan di lalui oleh garis khatulistiwa, ekosistem di indonesia sangat banyak. Mulai dari hutan di indonesia seperti hutan hujan tropis, hutan musim, atau savana. Selain itu, ekosistem di indonesia memiliki banyak bentuk dan beragam. Seperti ekosistem sungai, ekosistem rawa, maupun ekosistem laut.

Sebagai negara dengan luas lautan kurang lebig 3,1 juta km persegi, membuat ekosistem laut di indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Salah satu mahkluk hidup yang banyak di indonesia adalah terumbu karang. Terumbu karang adalah sekelompoh biota laut yang bersimbiosis dengan tumbuhan laut seperti alga (baca: Terumbu Karang : Habitat, Jenis, dan Manfaatnya). Hal ini menyebabkan terbentuknya karang di dasar laut. Diperkirakan, luas terumbu karang di indonesia mencapai 60.000 km persegi. 1/8 jumlah terumbu karang dunia berada di wilayah indonesia.

Pengertian terumbu karang

Terumbu karang adalah salah satu makhluk hidup yang berada di dasar laut. Terumbu karang berfungsi sebagai habitat bagi tumbuhan laut, hewan laut, maupun mikrorganisme. Seperti halnya pada tumbuhan, terumbu karang juga melakukan fotosintesis dan mengeluarkan oksigen. Oleh karena itu, terumbu karang memerlukan sinar matahari untuk hidup. Biasanya terumbu karang dapat ditemukan hingga kedalaman 50 m, dimana sinar matahari masih dapat masuk. Terumbu karang termasuk makhluk hidup yang sensitif dengan perubahan, terutama perubahan suhu. Suhu ideal bagi terumbu karang berkisar kurang lebih 20 derajat celsius. Salah satu syarat lokasi hidup terumbu karang adalah lautan yang bebas dari polusi. Walau begitu, ada juga terumbu karang yang di temukan di laut dalam. terumbu karang ini tidak membentuk karang dari zat kapur, serta tidak memerlukan sinar matahari.

Terumbu karang adalah salah satu makhluk hidup yang mudah di temukan di sepanjang pantai. Terutama di pantai- pantai indonesia. Terumbu karang sendiri, memiliki berbagai macam jenis. Jenis-jenis terumbu karang di bedakan menjadi 4, yaitu berdasarkan tipenya, berdasarkan bentuk dan tempat tumbuhnya, berdasarkan letaknya, dan berdasarkan zonasinya.

A. Terumbu Karang Berdasarkan Tipenya

Terumbu karang berdasarkan tipenya dibagi menjadi dua, yaitu terumbu karang bertipe lunak dan terumbu karang bertipe keras.

  • Lunak: jenis terumbu karang ini adalah terumbu karang yang tumbuh di sepanjang pantai. Jenis terumbu ini tidak membentuk karang, dan cenderung subur karena mendapatkan sinar matahari yang cukup.
  • Keras: jenis terumbu ini adalaj terumbu karang yang membentuk batuan kapur di dalam laut. Jenis terumbu ini sangat rapuh dan rentan pada perubahan iklim. Terumbu karang ini adalah pembentuk utama ekosistem terumbu karang.

B. Terumbu Karang Berdasarkan Bentuk Dan Tempat Tumbuh

Terumbu karang jenis ini, dibagi menjadi 4 jenis, yaitu

  • Terumbu: terumbu adalah endapan dari batuan kapur. Endapan ini berbetuk seperti punggung laut yang menjadi salah satu pembentuk ekosistem pesisir.
  • Karang: karang adalah biota laut yang memiliki peran dalam pembentukan terumbu. Bentuk karang beruas- ruas seperti bambu.
  • Karang terumbu: karang terumbu adalah karang lunak yang tidak menghsilkan kapur. Karang terumbu banyak di jumpai di daerah pesisir pantai.
  • Terumbu karang: terumbu karang adalah ekosistem di dalam laut, yang pembuatan akibat adanya simbiosis antara hewan dan tumbuhan laut.

C. Terumbu Karang Berdasarkan Letaknya

Terumbu karang berdasarkan letaknya di bedakan menjadi 4, yaitu:

  • Terumbu Karang Tepi: terumbu ini adalah terumbu yang paling banyak ditemukan disekitar pesisir pantai. Terumbu ini bisa hidup hingga kedalaman 40 m. Terumbu ini berbentuk melingkar ke arah lautan lepas. Terumbu ini banyak ditemukan di Bunaken, Pulau Panaitan, dan Nusa Dua Bali.
  • Terumbu Karang Penghalang: Terumbu ini hampir sama dengan terumbu karang tepi. Hanya saja, terumbu ini letaknya jauh dari pesisir. Terumbu ini dapat tumbuh hingga kedalaman 75 m. Terumbu ini banyak ditemukan di Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, Kepulauan Banggai Sulawesi Tenggara.
  • Terumbu Karang Cincin: terumbu karang ini bebentu seperti cincin. Terumbu ini banyak ditemukan di sekitar samudra atlantik.
  • Terumbu Karang Datar: terumbu ini adalah terumbu karang yang membentuk pulau- pulau. Terumbu karang ini, tumbuh dari dasar laut menuju permukaan laut. Terumbu karang ini banyak ditemukan di Kepulauan Seribu dan Kepulauan Ujung Batu Aceh.

D. Terumbu Karang Berdasarkan Zonasi

Terumbu karang berdasarkan zonasi dibagi menjadi 2, yaitu yang menghadap ke arah angin, dan membelakangi angin.

  • Terumbu yang menghadap ke angin: terumbu ini adalah terumbu yang lerengnya mengarah ke lautan lepas. Terumbu ini bisa hidup hingga kedalaman 50 m dan cenderung subur. Terumbu karang ini juga bisa disebut dengan pamatang alga.
  • Terumbu yang membelakangi angin: terumbu ini adalah terumbu yang umumnya bersifat keras. Bisa ditemukan pada kedalaman laut kurang dari 50 m. Bentuk terumbu ini seperti hampatan karang yang sempit.

Terumbu Karang Di Indonesia

Indonesia adalah salah satu pemilik ekosistem terumbu karang terbesar di dunia. Diperkirakan, terdapat 300 jenis jenis terumbu karang yang ada di Indonesia. Berikut ini 10 contoh terumbu karang yang ada di Indonesia.

 1. Acropora Cervicurnis

Acropora Cervicornis

  • Jenis terumbu karang ini bisa hidup pada kedalaman 3-15 m dari atas permukaaan laut.
  • Terumbu ini berbentuk seperti pipa kecil yang ada di dalam laut. koloni terumbu ini dapat berkumpul hingga beberapa meter. Terumbu ini tersusun dari cabang- cabang dan membentuk terumbu karang yang lebat, serta cabang- cabang yang silindris.. Aksial koralit dari terumbu karang ini dapat dibedakan.
  • Memiliki kemiripan dengan terumbu karang Acropora Prolifera.
  • Terumbu karang ini biasanya berwarna coklat muda.
  • Hidup pada perairan yang jernih serta tidak berpolusi.  Serta tumbuh di bagian atas lereng atau lagun dangkal yang jernih serta di tengah- tengah karang. Terumbu karang ini banyak di jumpai di perairan Indonesia, Jamaika Serta kepulauan Cayman.

2. Acropora Elegantula

Acropora Elegantula

  • Terumbu karang ini hidup pada kedalaman 3-15 m dari atas permukaan laut.
  • Terumbu karang ini berbentuk seperti semak dan berbentuk melebar. Cabang dari terumbu karang ini berbentuk horizontal yang menyabar serta tipis. Serta aksial koralit yang terlihat jelas. Saat terkena arus laut, terumbu karang ini akan bergerak dengan sangat lembut, seperti sedang menari akibat dari ukuran cabang yang hampir seragam.
  • Terumbu karang ini berwarna abu- abu, dengan warna ujungnya akan semakin berwarna muda.
  • Terumbu karang ini memiliki kesamaan dengan Acropora Aculeus
  • Terumbu karang ini mudah ditemukan pada perairan dangkal. Selain Indonesia, terumbu karang ini dapat ditemukan di Sri Langka.

3. Acropoda Micropthalma

Acropora Micropthalma

  • Terumbu karang ini bisa hidup pada kedalaman 3-15 m dari atas permukaan laut.
  • Terumbu karang ini berbentuk melebar serta pipih, dengan luas bisa mencapai 2 m.
  • Tarumbu ini biasanya hanya terdiri dari 1 spesies, terdiri dari satu koralit kecil, yang membentuk satu terumbu karang. koralit kecil ini biasanya berjumlah banyak dengan ukuran yang sama.
  • Memiliki kemiripan dengan Acropora Copiosa, Acropora Parilis, dan Acropora Horrida.
  • Dapat ditemukan pada perairan yang keruh, serta lagun yang berpasir. Selain itu, dapat ditemukan pada perairan dangkal dan di atas karang. Selain di Indonesia, terumbu karang ini bisa di jumpai di Australia dan Papua.

4. Acropora Millepora

Millepora

  • Terumbu karang ini hidup pada kedalaman 3-15 m.
  • Berbentuk bantalan dengan cabang yang pendek dan gemuk serta dengan ukuran yang sama. terumbu karang ini ada kemiripan dengan Acropora Aspera. Yang membedakan adalah radial koralit yang rapat serta aksial koralit yang terpisah- pisah.
  • Terumbu karang ini biasanya berwarna hijau, merah, biru, atau jingga.
  • Terumbu karang ini memiliki kemiripan dengan Acropora Covexa, Acropora Aspera dan Acropora Pulchra.
  • Mudah ditemukan pada perairan yang dangkal serta tidak berpolusi. Selain di Indonesia, terumbu ini juga ditemukan di Filipina dan Australia

5.  Acropora Humilis

Acropora Humillis

  • Terumbu karang ini hidup pada kedalaman 1-7 m
  • Berbentuk bercabang- cabang. Cabang- cabang dari terumbu karang ini berbentuk tebal. Memiliki koralit yang besar, dan memiliki rdial koralit dengan dua ukuran.
  • Terumbu karang ini juga desebut sebagai karang bercabang. Akibat dari bentuk karang yang bercabang- cabang.
  • Memiliki kurimbosa dengan warna ungu atau merah muda. Tapi warna yang sering di jumpai adalah krem, coklat, atau biru.
  • Hidup disekitar terumbu yang datar, selain itu juga bisa ditemukan pada lereng karang. Jenis terumbu karang ini banyak ditemukan pada perairan indonesia dan tersebar mulai dari laut merah hingga America Tengah dan Indo- Pasifik.

6. Acropora Hyacinthus

Acropora Hyacinthus

  • Terumbu ini hidup pada kedalaman 15-35 m
  • Berbetuk seperti piring dengan cabang yang tipis. Terumbu karang ini termasuk terumbu karang yang mudah rapuh. Koralit dari terumbu karang ini berbentuk mangkok, dengan bagian yang melebar.
  • Terumbu ini berwarna coklat, hijau, merah muda, abu- abu, dan biru.
  • Memiliki kemiripan dengan Acripora Cytherea.
  • Terumbu karang ini juga disebut sebagai karang meja. Hal ini karena bentuknya yang lebar seperti meja.
  • Dapat ditemukan disekitar lereng karang atau perairan yang dangkal. Selain di Indonesia, terumbu karang ini banyak dijumpai di Australia

7. Sidesratra Sidereal

Siderastrea Sidereal

  • Terumbu karang ini hidup pada kedalaman 7-14 m
  • Pada beberapa kesempatan karang ini juga sering ditemukan berada di atas ketinggian 1 meter dari permukaan laut.
  • Terumbu karang ini membentuk koloni yang menyerupai batu bulat dan besar. Koloni terumbu karang ini bisa tersebar hingga beberapa meter. Beberapa terumbu karang ini berbentu sedikit lebih pipih dari biasanya.
  • Terumbu karang ini biasanya berwarna coklat atau abu- abu. warna dari terumbu karang ini biasanya seragam
  • Berada di perairan jernih dan bebas dari polusi. Selain di Indonesia, jenis terumbu karang ini banyak ditemukan di laut karibia.

8. Montipora Danae

Montipora Danae

  • Terumbu karang ini hidup pada kedalaman 3-15 m dari permukaan laut.
  • Berbentuk plat datar seperti kubah dengan koralit yang kecil. Selain itu, terumbu ini ada berbentuk seperti piring yang terbalik.
  • Terumbu karang ini berwarna coklat muda, ungu atau terkadang berwarna sangat cerah.
  • Terumbu karang ini memiliki kemiripan dengan MontiporaVerrucosa dan Montipora Palawanensis.
  • sifat dari terumbu karang ini tidak menjadi benalu bagi terumbu karang yang lain. Akan tetapi, terumbu karang ini memiliki kemampuan untuk tumbuh dengan sangat cepat. Sehingga mengambil banyak tempat di akuarium.
  • Dapat di temukan hidup di sekitar lereng karang bagian atas atau lagun yang jernih. selain di Indonesia, terumbu karang ini banyak ditemukan di Papua Nugini, Filipina, Jepang, hingga Madagaskar.

9. Montipora Aquituberculata

Montipora Aquituberculata

  • Terumbu ini hidup pada kedalaman 3-15 m
  • Berbentuk seperti corong dengan lapisan yang bersusun- susun. Terumbu karang ini terdiri dari koralit dengan dikelilingi papila yang tebal. Terumbu karang ini lama kalamaan akan mengerak sehingga tersusun menjadi seperti corong.
  • Terumbu Karang ini memeliki kemiripan dengan MontiporaPeltiformis.
  • Terumbu ini berwarna coklat atau jingga
  • Dapat di temukan hidup pada perairan dangkal dengan banyak karang. Daerah pesebarannya selain di Indonesia sama dengan Montipora Danae, yaitu Filipina Jepanng hingga ke Madagaskar. Akan tetapi, terumbu karang ini juga bisa ditemukan di Australia.

10. Acropora Grandis

Acropora Grandis

  • Terumbu ini hidup pada kedalaman 3-15 m
  • Semakin dalam lokasi terumbu ini maka cabang akan semakin panjang dan terbuka. semakin dangkal, maka cabangnya akan semakin pendek.
  • Terumbu ini berwarna coklat, merah muda, biru, atau hijau. Pada ujungnya, warna akan semakin muda.
  • Dapat ditemukan hidup pada lereng karang bagian atas. Memiliki persebaran yang sama dengan Montipora Danae. yaitu Indonesia, Filipina, Jepang, hingga Madagaskar. selain itu, jenis terumbu karang ini tersebar hingga Indo- Pasifik. Terumbu karang ini banyak tumbuh di daerah yang beriklim tropis.

 

sumber: http://ilmugeografi.com/biogeografi/jenis-jenis-terumbu-karang

Hutan Mangrove : Pengertian, Ciri-ciri, Ekosistem, Fungsi dan Persebarannya

Kita mungkin sudah sering mendengar mengenai hutan mangrove, atau paling tidak kita sering mendengar nama hutan mangrove di telinga kita, terlebih kita tinggal di Indonesia (baca: letak astronomis dan geografis Indonesia) . Hutan mangrove ini sama saja dengan jenis hutan yang lainnya. Alasan mengapa hutan ini dinamakan sebagai hutan mangrove adalah karena pepohonan yang hidup di hutan ini didominasi atau hampir semuanya adalah pepohonan mangrove atau pepohonan bakau, sehingga dinamakan sebagai hutan mangrove.

Hutan mangrove atau hutan bakau (baca: ciri-ciri hutan bakau) ini merupakan hutan yang berada di lingkungan perairan payau. Hutan ini merupakan hutan yang sangat dipengaruhi okeh keberadaan pasang surut air laut (baca: manfaat pasang surut air laut). Ekosistem hutan ini juga khas. Ke khasan ekosistem hutan mangrove ini salah satunya karena adanya pelumpuran di wilayah hutan tersebut. Karena  jenis tanah yang dimiliki oleh hutan ini cenderung berlumpur, maka bisa dibayangkan hanya sedikit jenis tumbuhan yang bisa hidup di daerah ini.

Ciri ciri Hutan Mangrove

Setiap jenis hutan tentulah berbeda antara satu dengan yang lainnya. Jika suatu hutan tidak berbeda satu dengan yang lainnya, tentu tidak akan ada jenis- jenis hutan. Setiap hutan pasti mempunyai karakteristik atau ciri-cirinya masing- masing, begitu pula dengan hutan mangrove ini. Hutan mangrove mempunyai karakteristik atau ciri- ciri tertentu. Beberapa karakteristik atau ciri- ciri yang dimiliki oleh hutan mangrove ini antara lain adalah sebagai berikut:

  • Didominasi oleh tumbuhan mangrove atau tumbuhan bakau, yakni tumbuhan yang mempunyai akar mencuat ke permukaan
  • Tumbuh di kawasan perairan payau, yakni perairan yang terdiri atas campuran air tawar dan air asin
  • Sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut
  • Keberadaannya terutama di daerah yang mengalami pelumpuran dan juga terjadi akumulasi bahan organik

Itulah beberapa karakteristik atau ciri- ciri yang dimiliki oleh hutan mangrove ini. Ciri- ciri yang telah disebutkan di atas merupakan ciri khusus yang hanya dimiliki oleh hutan ini saja, sehingga hanya disebutkan beberapa saja. Untuk mengetahui lebih lengkap dan jelas mengenai hutan mengrove ini, baca di ciri- ciri hutan mangrove.

Ekosistem Hutan Mangrove

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa di Bumi ini makhluk hidup akan bersosialisasi atau berinteraksi dengan lingkungan yang berada di sekitarnya, dan juga dengan komponen- komponen yang ada di dalamnya (baik komponen biotik maupun abiotik). Proses interaksi antara keduanya ini disebut dengan ekosistem (baca ekosistem darat dan ekosistem air). Ekosistem ini ada di setiap tempat di Bumi, dimana setiap tempat di Bumi atau disetiap habitat mempunyai ekosistemnya masing- masing. Termasuk juga dengan hutan mangrove ini adalah sebuah ekosistem tersendiri.

Ekosistem hutan (baca: ekosistem hutan hujan tropis) mangrove ini bisa dikatakan sebagai jenis ekosistem yang khas. Mengapa dikatakan khas? Hal ini karena ada sesuatu yang membedakan antara yang dimiliki oleh ekosistem hutan mangrove ini dan tidak dimiliki oleh ekosistem hutan yang lainnya. Beberapa ke khasan yang dimiliki oleh ekosistem hutan mangrove ini antara lain adalah adanya pelumpuran yeng mengakibatkan hal – hal sebagai berikut:

  • Kurangnya abrasi tanah
  • Salinitas tanah yang tinggi
  • Mengalami daur penggenangan oleh pasang surut air laut
  • Hanya sedikit jenis tumbuhan yang dapat hidup
  • Jenis tumbuhan yang dapat tumbuh bersifat khas karena telah melewati proses adaptasi dan juga evolusi

Itulah beberapa ke khasan yang dimiliki oleh ekosistem hutan bakau ini. Ekosistem hutan bakau ini merupakan ekosistem yang sangat unik. Ekosistem hutan mangrove ini sangat perlu dipelihara dan dilestarikan, Hal ini karena ekosistem hutan mangrove ini sangat bermanfaat dan mengandung fungsi yang banyak.

Flora di Hutan Mangrove

Hutan mangrove merupakan jenis hutan yang tidak hanya ditumbuhi oleh satu macam tanaman saja, yakni tanaman mangrove. Namun, hutan mangrove juga ditumbuhi oleh jenis tumbuhan yang lainnya. Jenis tumbuhan yang mampu tumbuh di hutan mangrove ini berbeda- berbeda satu dengan yang lainnya, hal ini karena bereaksi terhadap variasi atau perubahan faktor lingkungan fisik tertentu, sehingga menimbulkan zona- zona vegetasi tertentu. Beberapa faktor lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi jenis tanaman yang tumbuh antara lain:

  1. Jenis tanah

Faktor lingkungan fisik yang pertama mempengaruhi jenis tanaman yang tumbuh adalah jenis tanah (baca: lapisan tanah). Sebagai tempat pengendapan, substrat yang ada di wilayah pesisir pantai (baca: manfaat pantai) bisa sangat berbeda dengan daerah lainnya. Pada umumnya, hutan bakau ini berada di wilayah yang tanahnya berupa lumpur tanah liat dan bercampur dengan bahan- bahan organik. Namun ada beberapa wilayah yang memiliki bahan organik dengan porsi yang berlebihan, bahkan berupa lahan gambut (baca: ciri-ciri hutan rawa gambut). Selain itu juga ada substrat yang berupa lumpur mengandung pasir yang tinggi, bahkan dominan pecahan- pecahan karang. Hal seperti ini terjadi di pantai- pantai yang yang dekat dengan kawasan terumbu karang. Dengan kondisi substrat yang demikian, maka jenis tumbuhan yang dapat tumbuh di hutan mangrove ini harus bisa beradaptasi dengan keadaan substrat yang demikian.

  1. Terpaan ombak

Selain jenis tanah, faktor selanjutnya yang akan mempengaruhi jenis tanaman di hutan mangrove adalah terpaan ombak. Bagian luar dari hutan mangrove ini berhadapan langsung dengan laut lepas, hal ini tentu saja akan membuat bagian depan hutan ini selalu diterpa oleh ombak yang keras juga aliran air yang kuat. Sementara di bagian dalam hutan lebih tenang daripada bagian luarnya.

Hutan mangrove ada kemiripan dengan hutan yang lainnya, yakni di bgaian hutan yang berhadapan langsung dengan muara sungai. Melihat kenyataan keadaan di hutan mangrove ini, terlebih berkaitan dengan terpaan ombak, maka sudah bisa dipastikan bahwa tanaman yang berada di luar dan berada di dalam berbeda. Jenis tanaman yang berada di luar tentunya lebih kuat daripada yang ada di dalam karena harus berhadapan langsung dengan ombak dan aliran air yang keras. Jenis mangrove yang tumbuh di bagian luar dan sering digempur ombak adalah mangrove Rhizophora spp. Jenis mangrove yang ada di bagian dalam dimana air lebih teang adalah adalah jenis api- api hitam atau Avicennia alba.

  1. Penggenangan oleh air

Faktor fisik yang ketiga yang mempengaruhi jenis tumbuhan di hutan bakau adalah tentang genanagn air. Di hutan mangrove yang mana bagian luarnya selalu terkena terpaan ombak, maka akan mengalami genangan air yakni genangan air ombak maupun air pasang. Terkadang genangan ini akan merendam dalam waktu yang lama daripada di bagian lainnya. Sehingga dapat dipastikan bahwa di hutahn mangrove akan terbentuk variasi kondisi lingkungan, dimana bagian luar akan sangat basah, bagian tengan lembab, dan bagian dalam yang relatif lebih kering.

Dengan adanya perbedaan kondisi yang demikian ini maka akan tercipta zonasi vegetasi mangrove yang berlapis- lapis secara alami, dan jenis mangrove yang tumbuh pun berbeda- beda di setiap zona nya. Di bagian yang lebih dalam, dimana banyak terdapat air yang tergenang ditmbuhi  R. mucronata dengan jenis kendeka atau Bruguiera spp, kaboa atau Aegiceras corniculata, dan lain sebagainya.

Di dekat sungai (baca: manfaat sungai), dimana terdapat air tawar, hidup nipah atau Nypa fruticans, pipada atau Sonneratiacaseolaris, dan bintaro atau Cerbera spp. Sementara di bagian yang paling dalam, dimana keadaannya kering, tumbuh  nirih atau Xylocarpus spp, teruntum atau Lumnitzera racemosa, dungun kecil atau Heritiera littoralis, dan kayu buta- buta atau Exoceria agallocha.

Itulah beberapa faktor yang mempengaruhi jenis flora yang tumbuh di hutan mangrove berdasarkan karakteristik wilayah atau zona nya masing- masing. Selanjutnya, flora yang ada di hutan mangrove ini mengalami bentuk adaptasinya sendiri- sendiri. Bagaimanakah bentuk adaptasi dari tanaman di hutan mangrove ini?

Bentuk Adaptasi Hutan Mangrove

Semua makhluk hidup harus melakukan adaptasi demi bisa bertahan hidup di lingkungannya (baca: fungsi lingkungan hidup). Demikian halnya dengan pepohonan yang berada di hutan mangrove ini. Pepohonan mangrove harus melalukan adaptasi demi bertahan hidup melawan kerasnya lingkungan hidupnya, yakni yang berada di tepi pantai (baca: ekosistem pantai). Adaptasi tersebut dilakukan baik secara fisik maupun secara non fisik atau secara fisiologis. Beberapa bentuk adaptasi yang dilakukan oleh tumbuh- tumbuhan yang ada di hutan mangrove ini antara lain adalah:

  • Mengembangkan akar tunjang – Pengembangan akar tunjang ini dilakukan oleh mangrove Rhizophora spp. Mangrove ini biasanya hidup di zona terluar dari lingkungan hutan mangrove. Pengembangan akar tunjang ini dilakukan untuk bisa bertahan hidup dari ganasnya gelombang laut yang menerpa.
  • Menumbuhkan akar napas – Penumbuhan akar napas ini dilakukan oleh mangrove jenis Avicennia spp dan Sonneratia spp. Akar napas tersebut muncul dari pekatnya lumpur (baca: banjir lumpur) dan bertujuan untuk mengambil oksigen dari udara (baca: cara menjaga kelestarian udara).
  • Penggunaan akar lutut – Untuk pohon kendeka atau Bruguiera spp, bentuk adaptasi yang dilakukan adalah akar lutut atau knee root.
  • Akar papan – Adaptasi dengan menggunakaan akar papan dilakukan oleh tumbuhan nirih atau Xylocarpus spp. Akar papan yang dimiliki oleh tumbuhan ini berbentuk panjang dan berkelok- kelok. Keduanya ini untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur dan untuk mendapatkan udara untuk bernapas.
  • Lubang pori atau lentisel – Kebanyakan dari flora yang tumbuh di hutan mangrove ini memiliki lentisel atau lubang pori. Lubang ini digunakan untuk bernafas. Contohnya adalah di tanaman pepagan.
  • Mengeluarkan kelebihan garam – Mengeluarkan kelebihan garam adalah bentuk adaptasi fisiologis. Adaptasi ini dilakukan oleh Avicennia spp, untuk mengatasi salinitas yang tinggi. Avicennia spp mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya.
  • Pengembangan sistem perakaran yang hampir tidak tertembus oleh air garam – Adaptasi ini dilakukan oleh Rhizophora spp, dimana air yang telah terserap telah hampir tawar. Kandungan garam sekitar 90% hingga 97% tidak mampu melewati saringan akar- akar ini. sementara untuk garam yang sudah terserap di tubung pohon akan diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang saat daun tersebut gugur.

Fungsi Hutan Mangrove

Seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya hutan merupakan sesuatu yang sangat penting di Bumi. Hutan sebagai paru-paru dunia memiliki fungsi yang sangat vital dalam berbagai hal. Misalnya sebagai penetralisir udara yang ada di Bumi dimana telah terkontaminasi dengan berbagai polusi di udara. Selain sebagai pembersih udara, hutan juga sangat berperan sebagai penangkal banjir dan juga tanah longsor. Selain itu hutan juga berperan sebagai penyeimbang ekosistem dan menyimpan cadangan air di akar- akar pohonnya, sehingga ketika musim kemarau tiba kita tidak akan kehabisan air tawar. Itulah fungsi dari hutan secara umum. Lalu, apakan hutan mangrove ini memiliki fungsi seperti dengan hutan- hutan pada umumnya? Tentu saja ya, hutan mangrove memiliki fungsinya sendiri. Beberapa fungsi atau manfaat yang dimiliki oleh hutan mangrove ini antara lain adalah:

1. Fungsi ekonomi. Dilihat dari segi ekonomisnya, hutan mangrove ini memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Menghasilkan beberapa jenis kayu yang kualitasnya diakui baik
  • Menghasilkan hasil- hasil non kayu. Hasil non kayu yang dihasilkan hutan ini dikenal sebagi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Hasil hutan bukan kayu ini biasanya serupa arang kayu, tanin, bahan pewarna, kosmetik, hewan, serta bahan pangan dan juga minuman.

2. Fungsi ekologis. Dilihat dari segi ekologisnya, hutan mangrove ini memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Hutan mangrove memiliki fungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi ombak- ombak laut yang bisa mengikis pinggir- pinggir pantai
  • Menjadi habitat berbagai jenis hewan. Hewan- hewan yang hidup di sekitar pantai antara lain biawak air, kepiting bakau, udang lumpur, siput bakau, dan berbagai jenis ikan belodok
  • Menjadi tempat hidup atau habitat bagi banyak tumbuhan atau flora

Itulah beberapa fungsi yang dimiliki oleh hutan mangrove. Diantara fungsi- fungsi yang telah disebutkan, terdapat fungsi utama dari hutan mangrove. Fungsi utama dari hutan mangrove tersebut adalah melindungi garis pantai dari abrasi atau pengikisan, selain itu hutan mangrove juga meredam gelombang besar termasuk gelombang tsunami (baca: ciri-ciri terjadinya tsunami). Contoh pemfungsian hutan mangrove sebagai penghalau gelombang adalah di negara Jepang.

Di negara ini menerapkan green belt atau sabuk hijau yang berupa hutan mangrove sebagai upaya untuk mengurangi dampak ancaman tsunami. Semntara itu di Indonesia, terdapat sekitar 28 wilayah yang dikategorikan sebgai wilayah rawan terkena tsunami (baca: penyebab tsunami). Hal ini karena hutan bakau (baca: ciri-ciri hutan bakau)  di wilayah tersebut sudah banyak yang dialihfungsikan sebagai tambak, kebun kelapa sawit, dan lain sebagainya.

Persebaran Hutan Mangrove

Hutan mangrove ini bukanlah hutan yang sulit untuk kita temui keberadaannya. Ada berbagai wilayah yang memiliki hutan mangrove. Hutan mangrove ini tersebar luas di bagian memiliki iklim cukup panas di dunia. Hutan mangrove ini terutama banyak di temui di daerah sekitar garis khatulistiwa tau ekuator, yakni daerah yang memiliki iklim tropis, dan sedikit di daerah yang memiliki iklim sub tropika.

Sementara di Indonesia, adalah negara yang memiliki hutan mangrove terluas di dunia, yaitu antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar. Luas sekian ini melebihi hutan mangrove yang ada di Brazil yakni 1,3 jukta hektar, Nigeria yakni 1,1 juta hektar, dan Australia yakni 0.97 hektar. Luas hutan mangrove yang dimiliki Indonesia ini memenuhi 25% dari total semua hutan mangrove yang ada di dunia. Meskipun jumlahnya banyak, namun sebagian dari kondisi hutan mangrove tersebut kondisinya rusak.

Di Indonesia sendiri, hutan mangrove yang paling luas terdapat di sekitar Dangkala Sunda yang relatif tenang. Tempat ini juga merupakan tembat bermuaranya berbagai sungai- sungai besar, yakni di pantai timur Sumatera dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Selain itu hutan mangrove terdapat di pantai utara Pulau Jawa, namun di wilayah ini kondisi hutan mangrove yang ada telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan yang ada.

 

Upaya Melestarikan Hutan Mangrove

Hutan mangrove adalah hutan yang mempunyai banyak sekali manfaat. Manfaat- manfaat dari hutan mangrove sendiri telah dipaparkan di atas. Oleh karena hutan mangrove ini mempunyai banyak sekali manfaat dan juga sifat penting, maka keberadaan hutan mangrove ini perlu dilestarikan. Sementara itu hutan mangrove yang ada di Indonesia sudah banyak mengalami kerusakan, maka dari itulah perlu dilakukan upaya- upaya untuk melestarikan kembali hutan mangrove yang telah rusak. Beberapa cara untuk melestarikan kembali hutan mangrove yang telah rusak antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Penanaman kembali hutan mangrove

Perbaikan dan pelestarian hutan mangrove bisa  dilakukan dengan melakukan peneneman kembali pohon- pohon mangrove. Penanaman ini jangan lupa untuk selalu melibatkan masyarakat sekitar. Mengapa harus melibatkan masyarakat? Hal selain akan meringankan proses penanaman kembali, juga akan menumbuhkan rasa kepemilikan dan kesadaran pada masyarakat sebagai pemilik wilayah, sehingga nantinya masyarakat akan turut serta melindungi hutan mangrove tersebut. Selain itu, masyarakat sekitar juga akan mendapatkan beberapa keuntungan seperti terbukanya peluang kerja, sehingga otomatis akan meningkatkan pendapatan masyarakat.

  1. Pengaturan kembali tata ruang wilayah pesisir

Selain penanaman kembali, upaya pelestarian hutan mangrove juga dapat dilakukan dengan mengatur ulang wilayah pesisir, seperti pemukiman, vegetasi, dan lain sebagainya. Hal ini karena wilayah pesisir pantai dapat dijadikan kota ekologi sekaligus berpotensi sebagai objek wisata, sehingga hutan mangrove yang berada di sekitar wilayah tersebut akan dapat dikelola dengan baik.

  1. Peningkatan kesadaran masyarakat

Kesadaran masyarakat juga merupakan hal yang harus ditumbuhkan demi terciptanya hutan mangrove yang lestari. Bagaimanapun juga, masyarakat sekitar adalah orang- orang yang paling dekat dengan hutan mangrove, sehingga apabila masyarakat yang berada di sekitarnya memiliki kesadaran yang tinggi, hal itu akan berpotensi menjadikan hutan mangrove tetap lestari.

  1. Peningkatan pengetahuan masyarakat dan penerapan kearifan lokal mengenai konservasi

Seperti yang kita ketahui bersama bahwasannya hutan mangrove ini memiliki fungsi sebagai konservasi lahan pantai, sehingga keberadaan hutan mangrove ini sangatlah penting. Masyarakat perlu mengetahui dan juga menyadari tentang fungsi dari hutang mangrove ini dan juga memahami dengan jelas arti dari konservasi. Jika masyarakat memahami arti penting konservasi, maka hutan mangrove akan dapat diselamatkan dari tangan- tangan jahil masyarakat yang tidak bertanggung jawab dan ingin mengubahnya menjadi lahan- lahan yang bernilai komaersial.

  1. Program komunikasi konservasi hutan mangrove

Selain perlunya mmebangun kesadaran mengenai hutan mangrove, perlu juga diadakan tentang komunikasi atau penyuluhan mengenai konservasi hutan mangrove ini. Hal ini tentu saja sangat penting untuk menjaga kelestarian hutan mangrove. Selain bertujuan agar masyarakat memahami arti penting konservasi hutan mangrive, juga bertujuan menginformasikan kepada masyarakat bagaimana caranya untuk melakukan upaya pelestarian kepada hutan mangrove tersebut, sehingga pada akhirnya masyarakat dapat berduyun- duyun untuk melestarikan hutan mangrove secara bersama- sama dengan pemerintah atau pengelola wilayah sekitar hutan tersebut.

  1. Perbaikan ekosistem wilayah pesisir secara terpadu dan berbasis masyarakat

Hal ini berarti dalam memperbaiki ekosistem wilayah pesisir pantai, masyarakt sangat penting utuk selalu dilibatkan. Hal ini karena masyarakat mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Selain itu kearifan loka juga perlu dikembangkan sejauh dapat mendukung program ini dengan baik.

Itulah beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki maupun melestarikan hutan mangrove. Upaya- upaya tersebut dapat dilakukan oleh pemerintang bersama- sama dengan masyarakat.

 

sumber: http://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/hutan/hutan-mangrove

POHON BAKAU

Pohon bakau

Pohon bakau dari jenis Rhizophora mangle. (Foto: James St. John/Flickr CC)

 

Pohon bakau adalah jenis tanaman mangrove tropis dari genus Rhizophora. Di hutan mangrove, bakau biasanya tumbuh di bagian paling depan yang berhadapan dengan laut. Memiliki akar tunjang yang tumbuh menyembul dari batang bawah. Akar tersebut berfungsi untuk memperkokoh cengkeraman pohon agar tidak rebah. Selain itu berfungsi juga sebagai alat pernapasan.

Pohon bakau bisa tumbuh di lingkungan dengan kadar garam tinggi, terendam air, tanah berpasir, dan sedimen lumpur. Akar bakau memiliki kelenjar khusus yang bisa menyaring garam dari air laut. Sebagian garam juga dibuang melalui daun-daun tua yang digugurkan. Daun pohon bakau memiliki lapisan kutikula yang tebal untuk mengurangi penguapan.

Kadang-kadang bakau dianggap sama dengan mangrove. Namun di beberapa literatur bakau dan mangrove dianggap dua istilah yang berbeda. Bakau merupakan salah satu jenis mangrove dari genus Rhizopora. Jadi bakau merupakan salah satu jenis mangrove.

Perkembangbiakan pohon bakau

Bunga pohon bakau melakukan penyerbukan dengan bantuan angin. Bunga bakau juga bisa melakukan penyerbukan sendiri. Benih yang telah matang jatuh di sekitar pohon induknya dan kadang terbawa air laut sampai jauh. Benih tersebut bisa bertahan lama hingga berminggu-minggu terbawa arus.

Pada awalnya benih bakau jatuh dalam posisi horisontal. Kemudian salah satu ujungnya akan menyerap air sehingga ujung tersebut menjadi berat dan posisinya berubah menjadi vertikal. Dalam beberapa minggu akan tumbuh akar dan daun di ujung lain yang menghadap ke atas. Ketika bibit yang telah berkecambah tersebut menyentuh tanah, akar tersebut akan berfungsi seperi jangkar sehingga pohon tidak melayang di atas air. Pada keadaan tersebut pohon bakau akan tumbuh dengan cepat. Akar akan terus menghujam tanah dan tumbuh daun-daun baru.

Dalam tahun pertama bakau bisa tumbuh hingga 60 cm.1 Karena kemampuan tumbuh yang cepat di tahun-tahun awal, pohon bakau memiliki peluang yang besar untuk bertahan hidup di lahan pasang surut. Oleh karena itu pohon ini sering digunakan untuk reboisasi hutan mangrove.

Pustaka

  • Yus Rusila Noor, dkk. 1999. Panduan pengenalan mangrove di Indonesia. Cetakan ulang ke-3. Ditjen PHKA dan Wetlland International

 

sumber: https://jurnalbumi.com/pohon-bakau/

 

Bersama Lestarikan Dugong dan Habitat Lamun di Indonesia

https://i2.wp.com/awsassets.wwf.or.id/img/original/small_ww1221.jpg

Oleh: Casandra Tania (Marine Species OfficerI) dan Adella Adiningtyas (Marine & Fishery Campaign and Social Media Assistant)

Populasi dugong yang ada di perairan Indonesia sampai dengan saat ini belum dapat dipastikan jumlahnya karena masih terbatasnya kajian status populasi yang dilakukan. Dengan ancaman yang beragam dan terus meningkat, Dugong sebagai satwa laut yang dilindungi kini terdesak keberadaannya dan membutuhkan sebuah upaya terpadu antara pihak yang terkait.

Awal tahun ini, dalam koridor Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP), WWF-Indonesia bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan rangkaian acara Penyusunan Strategi Komunikasi dan Advokasi Upaya Perlindungan Dugong dan Habitat Lamun. Berfokus pada empat lokasi di Indonesia, yaitu Bintan, Kotawaringin Barat, Tolitoli, dan Alor, serta tingkat nasional, kegiatan penyusunan strategi komunikasi dilangsungkan pada 9 – 11 Januari di Bogor dan 12 Januari di Jakarta telah berlangsung sukses.

“Komunitas pemerhati lingkungan bisa membantu menyebarkan informasi pelestarian dugong dan habitat lamun di Indonesia. Penyampaian informasi yang dibutuhkan di setiap wilayah tentu berbeda karena kondisi yang dihadapi berbeda. Maka dibutuhkan strategi komunikasi yang efektif agar setiap informasi yang diberikan dapat merubah sikap dan pandangan sehingga tujuannya tersampaikan dengan baik”, ucap Pak Andi Rusandi, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, KKP.

Selama di Bogor, peserta lokakarya telah menentukan tujuan komunikasi, pesan kunci, target khalayak, dan media komunikasi yang akan digunakan ke depan. Peserta juga menentukan jadwal kegiatan dan merancang rencana evaluasi untuk strategi yang telah disusun. Beberapa pesan kunci menarik telah dirumuskan seperti “Ekosistem Lamun Sama Pentingnya dengan Ekosistem Bakau dan Ekosistem Terumbu Karang” dari nasional, “Dugong dan Lamun Lestari, Bintan Gemilang” dari Bintan, “Memburu dan Mengonsumsi Duyung serta Merusak Padang Lamun Melanggar Fatwa MUI” dari Kotawaringin Barat, “Dugong Terjaga, Lamun Seimbang, Tangkapan Nelayan Meningkat” dari Tolitoli, dan “Jaga Dugong, Wisatawan Puas, Masyarakat Sejahtera” dari Alor.

Bapak Onesimus Laa, ketua kelompok nelayan Alor, memiliki keinginan untuk melestarikan dugong di Perairan Alor dengan mengajak warga di sana agar menangkap ikan menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Beliau juga percaya bahwa jika kita bersikap baik dengan dugong, maka satwa itu pun akan memberikan manfaat bagi nelayan. Salah satunya melalui kegiatan wisata yang bertanggung jawab. Senada dengan harapan Bapak Onesimus, Wawan Ridwan, Direktur Coral Triangle WWF Indonesia mengatakan, “Tidak ada makhluk yang tidak memberikan manfaat untuk kehidupan manusia. Keberadaan dugong dan padang lamun yang terjaga tentu akan memberikan manfaat bagi masyarakat.”

Ke depan, WWF Indonesia akan mendukung implementasi DSCP di 4 lokasi bersama dengan KKP, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan mitra terkait lainnya. Dokumen Strategi Komunikasi yang disusun akan menjadi acuan bersama para pihak untuk membangun kesadaran publik guna mengurangi tekanan dan ancaman terhadap dugong dan habitat lamunnya.

 

sumber: http://www.wwf.or.id/?54502/Bersama-Lestarikan-Dugong-dan-Habitat-Lamun-di-Indonesia

DUGONG

https://i1.wp.com/animaldiversity.org/collections/contributors/Grzimek_mammals/Dugongidae/Dugong_dugon/button.jpg

Geographic Range

Dugongs (Dugong dugon), also known as sea cows, have a broad but fragmented range, encompassing tropical waters from East Africa to Vanuatu, about 26 degrees both north and south of the equator. This range spans at least 48 countries and about 140,000 km of tropical coastline. The largest population of sea cows is found in the northern waters of Australia between Shark Bay (Western Australia) and Moreton Bay (Queensland). The second largest population is found in the Arabian Gulf. Dugongs are not considered migratory but are known to travel great distances within their range in order to find food. (“Australian Government Great Barrier Reef Marine Park Authority”, 2002; Lawler, et al., 2002; Marsh, 2009; “ARKive. Images of Life on Earth.”, 2003; “Australian Government Great Barrier Reef Marine Park Authority”, 2002; Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Marsh, 2009; “ARKive. Images of Life on Earth.”, 2003)

Habitat

Unlike their mostly freshwater cousins, manatees, dugongs are primarily marine mammals. Dugongs generally inhabit shallow waters, remaining at depths of around 10 m, although they occasionally dive to depths of 39 m to feed. These shallow areas are typically located in protected bays, wide mangrove channels and in sheltered areas of inshore islands. Seagrass beds consisting of phanerogamous seagrasses, their primary source of nourishment, coincide with these optimal habitats. Dugongs, however, are also observed in deeper water where the continental shelf is broad, neritic and sheltered. Dugongs use different habitats for different activities. For example, tidal sandbanks and estuaries that are quite shallow, are potential areas suitable for calving. Another example of specialized habitats are lekking areas, which are only used during mating season. (Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Whiting, 2008)

In a study off the coast of Australia, near Darwin, a pair of dugongs was captured in and tracked frequenting rocky reef habitats. Aerial surveys also showed that most dugongs in that region were found associated with a rocky reef. Because habitats of this kind have relatively low spatial coverage, dugongs actively select them. However, it is not known why dugongs frequently seem to forage in these areas, as there is no seagrasses on these reefs and they are not known algae consumers. (Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Whiting, 2008)

Physical Description

Dugongs are large, solid mammals with short, paddle-like front flippers and a tail with a straight or concave perimeter that is used as a propeller. Their tail differentiates them from manatees, the tail of which is paddle-shaped. Dugong fins resemble those of dolphins, but unlike dolphins, dugongs lack a dorsal fin. Females have mammary glands under the fins from which their calves suckle. Adult dugongs weigh from 230 to 400 kg and can range from 2.4 to 4 m in length. Their thick skin is brownish-grey, and its color can vary when algae grows on it. Tusks are present in all dugongs, but they are usually only visible through the skin in mature males, whose tusks are prominent, and in old females. Their tusks are projections of the incisor teeth. There are no other external physical differences between sexes, as they are monomorphic. Their ears have no flaps or lobes but are nonetheless very sensitive. Dugongs are suspected to have high auditory accuity to compensate for poor eye sight. Their snout is rather large, rounded over and ends in a cleft. This cleft is a muscular lip that hangs over the down-turned mouth and aids the dugong in its foraging of sea grass. Dugongs have a down-tipped jaw which accommodates the enlarged incisors. Sensory bristles that cover their upper lip assist in locating food. Bristles also cover the dugong’s body. Paired nostrils, used in ventilation when the dugong surfaces every few minutes, are located on top of the head. Valves keep them shut during dives. (Anderson, 1984; Lawler, et al., 2002; Odell, 2003; Spain, et al., 1977; “ARKive. Images of Life on Earth.”, 2003)

The only other species known in the family Dugongidae is Hydrodamalis gigas (Steller’s sea cow), hunted to extinction in 1767, just 36 years after their discovery. They were similar in appearance and color to dugongs but were substantially larger, with a body length of 7 to 10 m and weight between 4,500 and 5,900 kg. (Anderson, 1984; Lawler, et al., 2002; Odell, 2003; Spain, et al., 1977; “ARKive. Images of Life on Earth.”, 2003)

Reproduction

The mating behavior of dugongs varies slightly with location. For example, in a mating herd in Moreton Bay, off the coast of Queensland, males take part in aggressive competitions for females in oestrous. In comparison, dugongs in South Cove in Western Australia display a mating behavior similar to lekking. A lek refers to a traditional area where male dugongs gather during mating season to participate in competitive activities and displays that attract females. As these lekking areas lack resources necessary to females, they are drawn to the area only to view the males’ displays. Male dugongs defend their territories, and they change their behavioral displays to attract females. After attracting females, male dugongs proceed through several phases in order to copulate. The “following phase” occurs when groups of males follow a single female, attempting to mate with her. The “fighting phase” occurs after, consisting of splashing, tail thrashing, rolls and body lunges. This can be violent, as witnessed by scars observed on the body of females and on competing males from their protruding tusks. The “mounting phase” occurs when a single male mounts a female from underneath, while more males continue to vie for that position. Hence, the female is mounted several times with the competing males, almost guaranteeing conception. Dugongs are thus polyandrous. (“Australian Government Great Barrier Reef Marine Park Authority”, 2002; Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Wursig, et al., 2002)

Female dugongs reach sexual maturity at 6 years of age and may have their first calf between the ages of 6 and 17. Males reach sexual maturity between 6 and 12 years of age. Because breeding occurs year-round, males are always waiting for a female in oestrous. The reproductive rate of dugongs is very low, and they only produce one calf every 2.5 to 7 years depending on location. This may be due to the long gestation period, which is between 13 and 14 months. At birth, calves are about 30 kg in weight, 1.2 m in length, and very vulnerable to predators. Calves nurse for 18 months or longer, during which time they do not stray far from their mother, often riding on their mother’s back. Despite the fact that dugong calves can eat seagrasses almost immediately after birth, the suckling period allows them to grow at a much faster rate. Calves mature between 6 and 9 years of age for both genders.n. Once mature, they leave their mothers and seek out potential mates. (“Australian Government Great Barrier Reef Marine Park Authority”, 2002; Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; “ARKive. Images of Life on Earth.”, 2003)
Females dugongs invest considerable time and energy in raising calves and are the primary caregivers of their young. Mothers and calfs form a bond which is strengthened throughout the long suckling period of the calf, which is up to 18 months, as well as physical touches that occur during swimming and nursing. Each female spends about 6 years with their calf. During the first 1.5 years, mothers nurse their calf and demonstrate how to feed on seagrasses. The next 4.5 years, or until the calf reaches maturity, are spent feeding together and bonding. In their early years, calves do not travel far from their mother as they are easy prey for sharks, killer whales and crocodiles. (Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; “ARKive. Images of Life on Earth.”, 2003; Wursig, et al., 2002)

Lifespan/Longevity

Dugongs have lifespans of 70 years or more in the wild, which is estimated by counting the growth layers that make up a dugong’s tusks. However, they are prone to a extensive array of parasites and diseases, some of which are infectious. Dugongs are difficult to keep in captivity due to their specialized diet, which is expensive to provide as the specific type of seagrasses cannot be grown in captivity. Calves are rarely seen in captivity because they suckle for about 18 months after birth. Only one orphaned calf has ever been successfully introduced into captivity in Australia. (Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002)

Behavior

Dugongs are a very social species and are found in groups varying from 2 to 200 individuals. Smaller groups usually consist of a mother and calf pair. Although herds of two hundred dugongs have been seen, they are uncommon as seagrass beds cannot support large groups of dugongs for extended periods of time. Dugongs are a semi-nomadic species. They may migrate long distances in order to find a specific seagrass bed, but they may also inhabit a single range for most of their life. Traveling is driven by the quantity and quality of their primary food source, seagrass. If a certain seagrass bed is depleted, they move on to the next one.

Because dugongs are usually found in turbid water, they are difficult to observe without disturbing them. When disturbed, they rapidly and furtively move away from the source. They are quite shy, and when approached cautiously, they investigate diver or boat at a long range but hesitate to come any closer. Because of this and their difficulty to maintain in captivity, little is known regarding the behavior of dugongs. (Anderson, 1984; Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Spain, et al., 1977; Wursig, et al., 2002)

Communication and Perception

Dugongs are very social creatures, occurring in mother and calf pairs to herds of 200 individuals. Communication is therefore vital among individuals in this species. The two primary methods of communication this species uses are sound and vision. Much like dolphins, dugongs use chirps, whistles, barks and other sounds that echo underwater in order to communicate. Each sound has its own amplitude and frequency that characterizes the signal, which implies a possible purpose. For example, “chirp-squeaks” have frequencies between 3 and 18 kHz and last for about 60 ms. These “chirp-squeaks” were observed in dugongs foraging on the sea floor for vegetation and when patrolling territories. Barks are used in aggressive behavior and trills in movements that seem to be displays. In order to hear the ranges of sound, dugongs have developed exceptional hearing, which they use more than their sight. (Anderson and Barclay, 1995; Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Wursig, et al., 2002)

Visual communication is a useful source of communication when dugongs are in close contact. During breeding season, males perform lekking behavior, a physical display in a specific location to draw in females with which to mate. The vision of dugongs, however, is quite poor and they rely on other senses to create a mental map of their surroundings. Dugongs also utilize their sense of smell. They have an elementary olfactory system that allows them to sense chemicals in their environment to a certain degree. This can be used to detect other dugongs, or most likely, for foraging. They can smell aquatic plants and can therefore determine where the next feeding ground should be or where to proceed on their feeding furrow. (Anderson and Barclay, 1995; Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Wursig, et al., 2002)

Touch is another sense that dugongs use in order to communicate. They have sensatory bristles all over their body, including many on their lip, which help detect vibrations from their surrounds. This allows dugongs to forage more efficiently as they can sense the seagrass against their bristles. This is particularly useful as it complements their poor eyesight. Mothers and calves also engage in physical communication, such as nose touching or nuzzling that strengthens their relationship. Mothers are almost always in physical contact with their calf, the calf either swimming beneath the mother by the fin or riding on top of her. Calve may even on occasion reach out a fin to touch their mother to gain reassurance. (Anderson and Barclay, 1995; Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Wursig, et al., 2002)

Food Habits

Dugongs are primary consumers and the only completely herbivorous marine mammals. They consume seagrass, particularly of the families Potamogetonaceae and Hydrocharitaceae in the genera Halophila and Halodule. They prefer seagrasses that are low in fiber, high in available nitrogen, and are easily digestible for better nutrient absorption. Their long intestine aids the digestion of seagrass. They also have a low metabolism. When seagrass is scarce, dugongs also eat marine algae. They are speculated to supplement their diet with invertebrates such as polychaete worms, shellfish and sea squirts which live in seagrasses. (Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Spain, et al., 1977; “ARKive. Images of Life on Earth.”, 2003)

Dugongs use their flexible upper lip to rip up entire seagrass plants. If the entire plant cannot be uprooted, they rip off leaves. Their grazing leaves distinctive furrows in the seagrass beds that can be detected from the surface. To be supported properly by their environment for a year, dugongs require a territory with approximately 0.4 ha of seagrass. This area varies with individual and the extent of their movement, the amount of seagrass detected on the sea floor compared to what it actually ingested, the yearly productivities of seagrass, and the rates of re-growth of seagrass. (Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Spain, et al., 1977; “ARKive. Images of Life on Earth.”, 2003)

Predation

Dugongs have very few natural predators. Their massive size, tough skin, dense bone structure, and rapidly clotting blood may aid defenses. Sharks, crocodiles, and killer whales, however, feed on juvenile dugongs. Additionally, dugongs are often killed by humans. The are hunted by some ethnic tribes in Australia and Malaysia, caught in gill and mesh nets set by fishers, struck by boats and ships, and are losing habitat and resources due to anthropogenic activities. (“Australian Government Great Barrier Reef Marine Park Authority”, 2002; Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Marsh, 2009; “ARKive. Images of Life on Earth.”, 2003; “Australian Government Great Barrier Reef Marine Park Authority”, 2002; Anderson, 1984; Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Marsh, 2009; “ARKive. Images of Life on Earth.”, 2003)

Ecosystem Roles

Intensive grazing of dugongs on seagrass has numerous effects on the ecosystem, both directly on the seagrass and indirectly on other organisms that live in or feed on seagrass. Their grazing contributes to nutrient cycling and energy flow as they stir up sediment. Their fecal matter also acts as a fertilizer, which helps seagrass to more quickly reestablish. However, in the short term, intense grazing reduces habitats and nurseries for important commercial fish species and other invertebrates which live in seagrass. (Anderson, 1984; Spain, et al., 1977)

Economic Importance for Humans: Positive

Dugongs are economically valuable while alive as a form of ecotourism. Activities such as dugong-watching cruises in Australia and swimming with dugongs in the Philippines and Vanuatu help local economies. Dugongs are also hunted for a variety of reasons. In Malaysia, dugongs are eaten opportunistically when incidentally caught in fishing nets or traps and when incidentally or purposely caught when fish bombing, a method of fishing which involves throwing a bomb into the water. Dugongs killed in these circumstances are usually consumed locally or sold to neighboring islands for a good price, as the meat is considered a delicacy. One dugong apparently sold for $105 USD, which could stimulate local economy. In Australia, some native people regard hunting the dugong an integral part of their traditions. Humans eat their meat and use their oil. Dugong tusks are also used as a treatment for a variety of ailments including asthma, back pain, and shock. Tusks are also made into amulets and, in powdered form, mixed to make a drink. Smoking pipes can be carved from the tusks and the emitted smoke is said to have medicinal properties. Dugongs provide a thriving trade between villages and islands, although trafficking dugong parts is illegal. (Cabanban, et al., 2006; Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002)

Economic Importance for Humans: Negative

There are no known adverse effects of dugongs on humans.

Conservation Status

Dugongs are listed as a vulnerable on the IUCN Red List, endangered on the US Federal list, and is on Appendix I on CITES. This threatened status is primarily due to human hunting and activities. Dugongs are inadvertently trapped in fish and shark nets and die due to lack of oxygen. They also get struck by boats and ships. Additionally, pollution into the oceans from surrounding land kills seagrass beds and may also negatively influence dugongs directly. Dugongs are also hunted for their meat, oil and other valuable commodities as previously mentioned. (Whiting, 2008; “Australian Government Great Barrier Reef Marine Park Authority”, 2002; Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Marsh, 2009; Whiting, 2008; “ARKive. Images of Life on Earth.”, 2003)

Populations of dugongs are unable to rebound in part because of their very low reproduction rate. If all female dugongs in the population bred at their full potential, the maximum rate the population could increase is 5%. This rate is low even despite their long lifespan and low natural mortality rate from lack of predators. (Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Marsh, 2009; Whiting, 2008; “ARKive. Images of Life on Earth.”, 2003)

Some protected sites for dugongs have been established, particularly off the coast of Australia. These areas contain seagrass beds and optimal environments for dugongs, such as shallow water and areas in which to calve. Reports have been made assessing what each country in the dugong range should carry out to preserve and rehabilitate these gentle creatures. (“Australian Government Great Barrier Reef Marine Park Authority”, 2002; Lawler, et al., 2002; Marsh, et al., 2002; Marsh, 2009; Whiting, 2008; “ARKive. Images of Life on Earth.”, 2003)

 

References

Wildscreen. 2003. “ARKive. Images of Life on Earth.” (On-line). Accessed December 19, 2009 at http://www.arkive.org/dugong/dugong-dugon/info.html.

2002. “Australian Government Great Barrier Reef Marine Park Authority” (On-line). Accessed September 19, 2009 at http://www.gbrmpa.gov.au/corp_site/info_services/publications/sotr/latest_updates/marine_mammals.

Adulyanukosol, K., S. Thongsukdee, T. Hara, N. Arai, M. Tsuchiya. 2007. Observations of dugong reproductive behaviour in Trang Province, Thailand: further evidence of intraspecific variation in dugong behavior. Marine Biology, 151(5): 1887-1891. Accessed June 20, 2010 at http://web.ebscohost.com.login.ezproxy.library.ualberta.ca/ehost/pdfviewer/pdfviewer?vid=2&hid=111&sid=5ea1b00f-ea6d-4cbf-96a0-fb4b6394d2f9%40sessionmgr110.

Anderson, D. 1984. Sea Cows and Manatees. Pp. 292-303 in D Macdonald, P Forbes, B MacKeith, R Peberdy, G Bateman, eds. The Encyclopedia of Mammals, Vol. 1, 1st Edition. New York, NY: Facts on File Inc..

Anderson, P., R. Barclay. 1995. Acoustic signals of solitary dugongs : physical characteristics and behavioral correlates. Journal of Mammology, Vol. 76: 1226-1237. Accessed October 11, 2009 at http://cat.inist.fr/?aModele=afficheN&cpsidt=2924260.

Anderson, P. 1997. Shark Bay dugongs in summer. I: Lek mating. Behaviour, 134(5/6): 433-462. Accessed June 20, 2010 at http://links.jstor.org.login.ezproxy.library.ualberta.ca/sici?origin=sfx%3Asfx&sici=0005-7959(1997)134%3C433%3ASDDIS.%3E2.0.CO%3B2-I.

Anderson, P., R. Barclay. 1995. Acoustic signals of solitary dugongs: physical characteristics and behavioral correlates. Journal of Mammology, 76(4): 1226-1237. Accessed June 20, 2010 at http://links.jstor.org.login.ezproxy.library.ualberta.ca/sici?origin=sfx%3Asfx&sici=0022-2372(1995)76%3A4%3C1226%3AAOSDPC%3E2.0.CO%3B2-K&.

Cabanban, D., D. Rahman, L. Rajamani. 2006. Indigenous Use and Trade of Dugong ( Dugong dugon ) in Sabah, Malaysia. AMBIO: A Journal of the Human Environment, 35(5): 266-268. Accessed November 12, 2009 at http://www.bioone.org/doi/full/10.1579/05-S-093.1.

De Iongh, H., W. Kiswara, W. Kustiawan, P. Loth. 2007. A review of research on the interactions between dugongs (Dugong dugon Muller 1776) and intertidal seagrass beds in Indonesia. Hydrobiologia, 591: 73-83. Accessed June 20, 2010 at http://web.ebscohost.com.login.ezproxy.library.ualberta.ca/ehost/pdfviewer/pdfviewer?vid=2&hid=112&sid=24492456-1417-41fd-8a12-c6226920a35f%40sessionmgr112.

Gribble, N., G. McPherson, B. Lane. 1998. Effect of the Queensland shark control program on non-target species: whale, dugong, turtle and dolphin: a review. Marine Freshwater Research, 49(7): 645-651. Accessed June 20, 2010 at http://www.publish.csiro.au.login.ezproxy.library.ualberta.ca/?act=view_file&file_id=MF97053.pdf.

Heithaus, M., A. Wirsing, D. Burkholder, J. Thomson, L. Dill. 2009. Towards a predictive framework for predator risk effects: the interaction of landscape features and prey escape tactics. Journal of Animal Ecology, 78(3): 556-562. Accessed June 20, 2010 at http://onlinelibrary.wiley.com.login.ezproxy.library.ualberta.ca/doi/10.1111/j.1365-2656.2008.01512.x/pdf.

Hunter, M., D. Broderick, J. Ovenden, K. Tucker, R. Bonde, P. McGuire, J. Lanyon. 2010. Characterization of highly informative cross-species microsatellite panels for the Australian dugong ( Dugong dugon ) and Florida manatee ( Trichechus manatus latirostris ) including five novel primers. Molecular Ecology Resources, 10(2): 368-377. Accessed June 20, 2010 at http://onlinelibrary.wiley.com.login.ezproxy.library.ualberta.ca/doi/10.1111/j.1755-0998.2009.02761.x/pdf.

Ichikawa, K., C. Tsutsumi, N. Arai, T. Akamatsu, T. Shinke, T. Hara, K. Adulyanukosol. 2006. Dugong ( Dugong dugon ) vocalization patterns recorded by automatic underwater sound monitoring systems. Journal of the Acoustical Society of America, 119(6): 3726-3733. Accessed June 20, 2010 at http://web.ebscohost.com.login.ezproxy.library.ualberta.ca/ehost/pdfviewer/pdfviewer?vid=2&hid=111&sid=00dccd57-ec5b-4e42-b4d7-36d02f0a86dd%40sessionmgr113.

Ilangakoon, A., T. Tun. 2007. Rediscovering the dugong ( Dugong dugon ) in Myanmar and capacity building for research and conservation. The Raffles Bulletin of Zoology, 55(1): 195-199. Accessed June 20, 2010 at http://rmbr.nus.edu.sg.login.ezproxy.library.ualberta.ca/rbz/biblio/55/55rbz195-199.pdf.

Lanyon, J., G. Sanson. 2006. Degenerate dentition of the dugong (Dugong dugon), or why a grazer does not need teeth: morphology, occlusion and wear of mouthparts. Journal of Zoology, 268: 133-152. Accessed June 20, 2010 at http://web.ebscohost.com.login.ezproxy.library.ualberta.ca/ehost/pdfviewer/pdfviewer?vid=2&hid=107&sid=b0693d1e-acec-4eb5-871e-3956ab5de378%40sessionmgr113.

Lanyon, J., G. Sanson. 2006. Mechanical disruption of seagrass in the digestive tract of the dugong. Journal of Zoology, 270: 277-289. Accessed June 20, 2010 at http://web.ebscohost.com.login.ezproxy.library.ualberta.ca/ehost/pdfviewer/pdfviewer?vid=2&hid=112&sid=20f87c8f-0ba9-4b9e-a745-9101cd768ed4%40sessionmgr113.

Lanyon, J., H. Sneath, J. Ovenden, D. Broderick, R. Bonde. 2009. Sexing Sirenians: Validation of visual and molecular sex determination in both wild dugongs (Dugong dugon) and florida manatees (Trichechus manatus latirostris). Aquatic Mammals, 35 (2): 187-192. Accessed June 20, 2010 at http://web.ebscohost.com.login.ezproxy.library.ualberta.ca/ehost/detail?vid=1&hid=112&sid=049dcc69-d556-4592-973e-61ae0dc14724%40sessionmgr114&bdata=JnNpdGU9ZWhvc3QtbGl2ZSZzY29wZT1zaXRl#db=a9h&AN=45282237.

Lawler, I., H. Marsh, B. McDonald, T. Stokes. 2002. “Dugongs in the Great Barrier Reef” (On-line pdf). Accessed September 19, 2009 at http://www.reef.crc.org.au/publications/brochures/dugong_2002.pdf.

Marsh, H. 2009. “IUCN Red List of Threatened Species” (On-line). Accessed September 19, 2009 at http://www.iucnredlist.org/details/6909/0.

Marsh, H., G. Heinsohn, L. Marsh. 1984. Breeding cycle, life history, and population dynamics of the Dugong, Dugong dugon (Sirenia: Dugongidae). Australian Journal of Zoology, 32(6): 767-788. Accessed June 20, 2010 at http://www.publish.csiro.au.login.ezproxy.library.ualberta.ca/paper/ZO9840767.htm.

Marsh, H. 2004. Diving behaviours of dugongs, Dugong dugon. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology, 304(2): 203-224. Accessed June 20, 2010 at http://www.sciencedirect.com.login.ezproxy.library.ualberta.ca/science?_ob=ArticleURL&_udi=B6T8F-4C817DC-5&_user=1067472&_coverDate=06%2F30%2F2004&_rdoc=1&_fmt=high&_orig=search&_origin=search&_sort=d&_docanchor=&view=c&_acct=C000051251&_version=1&_urlVersion=0&_userid=1067472&md5=16f7fd39213cad9ef1c82c6549137d43&searchtype=a.

Marsh, H., H. Penrose, C. Eros, J. Hugues. 2002. “Dugong. Status Report and Action Plans for Countries and Territories” (On-line pdf). Accessed September 19, 2009 at http://data.iucn.org/dbtw-wpd/edocs/2002-001.pdf.

Odell, D. 2003. Dugongs and sea cows. Pp. 199-204 in D Kleiman, V Giest, M McDade, M Hutchins, eds. Grzimek’s Animal Life Encyclopedia, Vol. 15, 2nd Edition. Farmington Hills: Gale Group.

Spain, A., H. Marsh, J. Wake, G. Heinsohn. 1977. The Dugong (Dugong dugon [Muller]) in the Seagrass System. Aquaculture, 12: 235-248. Accessed October 11, 2009 at http://dugong.id.au/publications/JournalPapers/1977/Heinsohn%20et%20al%201977.%20Aquaculture,%2012..pdf.

Whiting, S. 2008. Movements and distribution of dugongs (Dugong dugon) in a macro-tidal environment in northern Australia. Australian Journal of Zoology, 215–222: 215-222. Accessed November 12, 2009 at http://www.publish.csiro.au/view/journals/dsp_journal_fulltext.cfm?nid=90&f=ZO08033.

Wursig, B., J. Thewissen, W. Perrin. 2002. Communication. Pp. 248-249, 251-253, 256-260, 263-267, 271 in B Wursig, J Thewissen, W Perrin, eds. Encyclopedia of Marine Mammals, Vol. 1, 2nd Edition. San Diego: Gulf Professional Publishing. Accessed October 11, 2009 at http://books.google.ca/books?id=RsEKkDNF5f4C&printsec=frontcover&source=gbs_navlinks_s#v=onepage&q=Communication%20dugongs&f=false.

sumber: http://animaldiversity.org/accounts/Dugong_dugon/#geographic_range

 

BIOLOGI DAN REPRODUKSI BIVALVIA

Kelas bivalvia adalah jenis moluska yang memiliki dua cangkang yang digabungkan oleh jaringan ikat (ligament) dan berfungsi sebagai engsel (Abbot, 1954; Tracy et al., 1979; Craig, 1994). Bivalvia merupakan kelas moluska terbesar kedua dengan jumlah spesies mencapai 2.000, yang tersebar di perairan tawar dan laut (Tracy et al., 1979). Termasuk dalam kelas bivalvia adalah kimah, kerang mutiara dan kerang Donax sp.. Bivalvia umumnya dimanfaatkan sebagai sumber makanan dan sebagai penghasil mutiara alam (genus Pinctada).

Kerang pada umumnya bersifat filter feeder, yaitu memperoleh makanan dengan menyaring tanaman mikroskopik dan hewan kecil yang terdapat di perairan sekitarnya. Air yang masuk kedalam tubuh disaring oleh insang yang dilengkapi dengan cilia yang menyerupai rambut, selanjutnya air keluar melalui saluran pembuangan. Makanan yang berhasil disaring melalui insang diteruskan ke dalam mulut dan selanjutnya makanan terbawa lendir masuk ke dalam lambung. Beberapa jenis kerang juga memakan bahan-bahan organik (detritus) yang diambil dari substrat tempat hidupnya (Abbot, 1954; Tracy, 1979; King, 1998). Akan tetapi kerang Donax sp. harus bersaing dengan makrobenthos lainnya untuk mendapatkan makanan (Laudien et al.,2004).

Kebanyakan jenis kerang memiliki organ reproduksi terpisah dan dapat dibedakan secara jelas. Tetapi beberapa jenis ada yang hermaphrodit seperti Crassostera spp. atau memiliki gonad yang berfungsi sebagai ovarium dan testis pada saat yang bersamaan (Tridacna sp.). Pemijahan biasanya dilakukan secara eksternal, dimana telur dan sperma dikeluarkan langsung ke dalam air. Telur yang telah dibuahi kemudian menjadi trocophore, kemudian berkembang menjadi veliger yang bersifat planktonik dan beberapa minggu kemudian bentuknya sudah menyerupai induknya, kemudian menetap pada substrat tertentu.

Pada fase planktonik terjadi tingkat kematian yang tinggi, hal ini diakibatkan adanya pemangsaan oleh predator. Kerang dewasa hidup menetap atau membenamkan diri pada substrat berpasir atau berlumpur, beberapa ada yang hidup menempel pada benda keras dan sebagian lainnya mempunyai kemampuan untuk berenang bebas di perairan (Abbot, 1954; King, 1998).

Distribusi dan populasi kerang dipengaruhi oleh adanya pergeseran pasif yang diakibatkan ombak, semakin jauh dari batas surut terendah jumlah mortalitas bivalvia semakin meningkat (Ramon, 2003). Akan tetapi kerang Donax sp. mempunyai kemampuan untuk bergerak dalam substrat sebagai respon terhadap perubahan kelembaban subtrat dan perubahan suhu. Habitat Donax sp. Ekosistem perairan pantai di daerah tropik mengalami perubahan yang cepat akibat adanya perubahan tinggi pasang surut yang diakibatkan gaya tarik bulan.

Masukan air tawar juga dapat mengakibatkan terjadinya perubahan lingkungan yang ekstrim, seperti perubahan salinitas dan konsentrasi nutrien (Lazareth et al., 2003). Kerang Donax sp. banyak ditemukan di pantai berpasir yang merupakan daerah pasang surut (zona intertidal). Pasang surut merupakan faktor lingkungan paling penting yang mempengaruhi kehidupan zona intertidal. Akan tetapi karena pasang surut terjadi secara teratur dan dapat diramalkan, maka pasang surut cenderung menimbulkan irama tertentu pada organisme pantai.

Faktor lingkungan lainnya yang berpengaruh adalah lamanya zona intertidal berada di udara terbuka dan suhu udara (Nybakken, 1988; Laudien et al.,2004). Selanjutnya dikatakan bahwa beberapa jenis kerang, seperti Donax sp. dan Mytilus edulis, mempunyai kemampuan hidup di daerah intertidal karena mempunyai kemampuan untuk mencegah kehilangan air. Kerang akan menutup rapat cangkangnya yang kedap air, sehingga air tidak keluar dari tubuhnya. Kerang juga mempunyai kemampuan untuk membenamkan diri ke dalam substrat untuk mencari tempat yang lebih lembab.

Sementara itu adaptasi terhadap suhu tinggi dilakukan dengan menyimpan air dalam cangkang yang berfungsi sebagai pendingin. Tetapi kerang tidak memiliki mekanisme adaptasi terhadap perubahan salinitas, sehingga fluktuasi salinitas yang dapat menyebabkan kematian. Kerang Donax sp. mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan pasang surut, tetapi distribusinya dibatasi oleh kebutuhannya terhadap lingkungan pantai dengan energi tinggi dan kaya bahan organik (Laudien et al., 2004). Hubungan Allometrik Ukuran cangkang (panjang, tinggi, lebar) dan volume cangkang dapat digunakan untuk menduga pertumbuhan (Baron et al., 2004).

Pertumbuhan kerang Donax sp. dipengaruhi oleh faktor lingkungan, sehingga pada kondisi lingkungan yang berbeda akan mengakibatkan pola pertumbuhan yang berbeda pula (Gimin et al., 2004). Energi yang dihasilkan melalui proses metabolisme makanan digunakan oleh biota air untuk pemeliharaan tubuh, aktifitas dan reproduksi. Hanya sebagian kecil energi (kurang dari sepertiganya) yang digunakan untuk pertumbuhan. Laju pertumbuhan yang cepat pada biota air dapat meningkatkan tingkat kelulushidupan karena menurunnya ancaman dari predator.

Biota air berukuran kecil mempunyai resiko kematian akibat pemangsaan yang lebih tinggi daripada biota air yang berukuran lebih besar. Biota air berukuran besar juga memiliki kemampuan menghasilkan telur lebih banyak atau lebih besar sehingga meningkatkan kelulushidupan larva. Dilihat dari sudut pandang perikanan, pertumbuhan dan rekuitmen suatu individu sangat berpengaruh terhadap kelestarian biota air dan hasil tangkapan dari suatu stok (King, 1998; Sparre dan Venema, 1999).

Daftar Pustaka
– Abbot, R. T. 1954. American Seashells. P. van Nostrand Company, Inc., New York. p:107-115.
– Baron, P.J., L.E. Real, N.F. Ciocco dan M.E Re. 2004. Morphometry, growth and reproduction of an Atlantic Population of the Razor Clam (Enzis macha, Molina 1782). Scientia Marina, 68 (2) p: 211-217.
– Craig, P. D. dan R. J. McLoughlin. 1994. Modelling Scallop Larvae Movement in Great Oyster Bay. Coastal and Estuaries Studies: the Biophysics of Marine Larvae Dispersal. Sammarco,
– P. W. dan Heron, M. L. (Eds.). American Geography Union, Washington. Gimin, R., R. Mohan, L.V. Thinh, dan A.D. Griffiths. 2004. The relationship of shell dimensions and shell volume to live weight and soft tissue weight in the mangrove clam, Polymesoda erosa (Solander, 1786) from northern Australia. NAGA,The ICLARM Quarterly Vol. 27 No. 3-4.
– King, M. 1998. Fisheries Biology, Assestment and Management. Blackwell Science Ltd., UK. p:3-192
– Laudien, J. T., T. Brey, dan W. E. Arntz. 2003. Population Structure, Growth and Production of the Surf Clam Donax serra on Two Namibian Sandy Beach. Estuarine, Coastal and Shelf Science vol. 58, p 105-115.
– Lazareth, C. E., E. V. Rutten, L. Andre dan F. Rehairs. 2003. High Resolution Trace Elements Profiles in Shells of the Mangrove Bivalve Isogmon ephiphium: A Record of Environmental Spatio-temproral Variations?. Estuarine, Coastal and Shelf Science vol. 57, p 1103-1114.
– Park, K.Y. dan C.W. Oh. 2002. Length-weight Relationship of Bivalves from Coastal Waters of Korea. Naga, The ICLARM Quarterly Vol. 25, No. 1.
– Ramon, M. 2003. Population Dynamics and Secondary Production of the Cockle (Cerastodema edule L.) in a Backbarrier Tidal Flat of the Wadden Sea. Scientia Marina, 67 (4) p:429-443. Sparre, P. dan S.C. Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. FAO-Puslitbangkan-Balitbangtan, Jakarta, Indonesia. p: 50-173
– Tracy, L.S., R.C. Stebbins, dan J.W. Nybakken. 1979. General Zoology. McGraw-Hill Book Company, New york. p:481-487.

 

sumber: http://www.cintalaut.com/2013/07/biologi-dan-reproduksi-bivalvia.html

Pentingnya Proses Reproduksi Kerang Raksasa Kima

Kima yang sering disebut tridacna ini merupakan kerang yang mampu berukuran sangat besar berbeda dengan kerang lainnya. Saat ini kerang kima ini sangat sulit dijumpai akibat dari perkembangan jaman dan teknoligi. Berbagai alasan dilakukan manusia untuk memanfaatkan kerang kima ini. Mulai kesehatan, penelitian, souvenir, makanan, dll.

Perlu diketahui bahwasannya pertumbuhan kima ini sangatlah lama, dan tidak banyak instansi / personal yang membudidayakan kerang kima ini. Jika dipikirkan akibat yang timbul adalah ketidak seimbangan ekosistem alam yang semakin parah lagi.

Reproduksi kerang kima merupakan hal yang sangat penting untuk di ketahui, dengan mengetahui sistem reproduksi perkembangbiakan kerang kima / tridacna ini maka paling tidak kita sadar akan sulitnya kima itu berkembangbiak dan tumbuh.
Sistem Reproduksi Kima

Saya ingin mencoba membagiakan kepada teman-teman tentang sistem reproduksi dari kerang kima itu sendiri. Berikut ulasannya melaui peraga gambar:

gambar reproduksi kerang kima

Keterangan:
1. Kedua induk mengeluarkan spresma dan yang satunya mengeluarkan telur / eggs dengan jumlah yang sangat banyak.
2. Fertilisasi terjadi diluar tubuh induk, dalam artian pertemuan antara sperma dan telur terjadi di perairan lepas. Dapat dibanyakkan mulai dari proses ini sudah terasa sangat rentan oleh bahaya, mulai dari ancaman ombak, tidak bertemu, sampai pemangsa.
3. Apabila sperma dan telur tersebut berhasil untuk melakukan fertilisasi, maka akan membentuk trochophore ini sejenis larva. Pada proses ini kerang akan hanyut oleh arus dan menempel dalam substrat dan muali membentuk cangkang.
4. Proses perkembangbiakan selanjutnya adalah Veliger.
5. Valiger tersebut akan menempel dan mencari substrat yang baik menurut mereka.
6. Perkembangan hanya 1 cm selama 1 tahun.

Reproduksi kerang kima sangat penting untuk diketahui kita semua, karena dengan mengerti sekali lagi kita dapat memahami kemudian bersimpati dan tidak merusak ekosistem alam yang dikethui membutuhkan waktu yang lama untuk berkembang.

Jenis-Jenis Kima di Dunia:

1. Tridacna costata
2. Tridacna crocea
3. Tridacna derasa
4. Tridacna gigas
5. Tridacna maxima
6. Tridacna squamosa

Catatan: Proses repoduksi kerang kima itu membutuhkan waktu yang sangat lama.

 

sumber: http://www.cintalaut.com/2013/12/pentingnya-proses-reproduksi-kerang.html