INFO DUNIA PERIKANAN

Blog Stats

  • 126,523 hits

Start here

Advertisements

Pakan Ikan Mandiri, Potensial Gantikan Pakan Produksi Industri

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kini fokus untuk terus menurunkan harga pakan yang beredar di pasaran. Salah satunya, dengan menggenjot produksi pakan mandiri yang dilakukan masyarakat umum. Dengan cara tersebut, diharapkan kebutuhan pakan nasional tidak lagi hanya bergantung pada hasil produksi industri pakan nasional.

Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) KKP Slamet Soebjakto, Rabu (01/6/2015). Menurut dia, kebutuhan pakan nasional saat ini masih bergantung pada hasil produksi industri pakan nasional. Namun, industri pakan nasional pun masih bergantung pada impor bahan baku.

“Akibatnya, harga pakan dari industri pakan nasional mahal. Ini yang sedang kita upayakan supaya harga pakan bisa terjangkau,” ungkap dia.

Slamet menjelaskan, karena harga yang masih tinggi, biaya produksi perikanan budidaya menjadi lebih mahal. Padahal, dari 100 persen biaya produksi budidaya, 70 persen itu dihabiskan untuk membeli pakan.

Karena itu, Slamet menilai, jika ingin perikanan budidaya mendapatkan hasil yang maksimal, maka biaya produksi harus ditekan dengan cara menurunkan harga pakan yang beredar di pasaran. Namun, kata dia, untuk menurunkan harga pakan nasional itu juga bukan perkara yang gampang karena bergantung pada industri pakan nasional.

“Satu-satunya cara adalah dengan menggenjot produksi pakan mandiri. Tidak usaha muluk-muluk, jika bisa menurunkan 20 persen saja dari 70 persen biaya pakan, maka itu sudah sangat bagus,” tutur dia.

Untuk bisa menggenjot pakan mandiri, Slamet mengungkap, pihaknya kini mendorong setiap daerah untuk melakukan inovasi dengan potensi alam yang ada. Karena, antara satu daerah dengan daerah lain di Indonesia, potensinya berbeda-beda.

“Potensi yang ada itu misalnya kacang-kacangan, limbah kelapa sawit, limbah kelapa, daun-daunan, ataupun keong-keongan. Apa saja potensi yang ada di Indonesia akan kita manfaatkan untuk pakan mandiri,” sebut dia.

“Pokoknya, kita akan genjot terus. Karena, sekarang ini, bahan baku tepung ikan lokal juga sudah mulai banyak. Itu bagus untuk pakan mandiri,” tambah dia.

Budidaya Ikan Air Tawar

Untuk sementara, menurut Slamet Soebjakto, pemanfaatan pakan mandiri akan difokuskan untuk budidaya ikan air tawar. Hal itu, karena hingga saat ini konsumsi pakan untuk budidaya di air tawar masih lebih banyak dibandingkan dengan budidaya di air payau.

“Selain itu, harga jual ikan air tawar juga tidak terlalu tinggi. Jadi, biaya produksinya harus ditekan. Beda dengan air payau, udang saja bisa Rp100 ribu per kilo, sementara ikan air tawar hanya Rp12 ribu per kilo,” papar dia.

Karena fokus untuk air tawar, Slamet menyebut, pihaknya saat ini berusaha menggenjot produksi pakan mandiri untuk mengurangi suplai pakan dari industri pakan nasional. Kata dia, jika dalam tahun ini bisa mengurangi sebesar 1 persen saja, maka itu sudah sangat bagus.

“Sekarang ini keperluan pakan untuk budidaya ikan di air tawar bisa mencapa 200 ribuan kilo per tahun. Jika kita bisa mensuplai 1 persen saja dari pakan mandiri, itu prestasi tahun ini,” tandas dia.

Tiga Tantangan

Sementara itu Dekan Fakultan Ilmu Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Luky Adrianto menjelaskan, saat ini masih ada tiga masalah yang menghambat pengembangan pakan mandiri di seluruh Indonesia.

Tiga masalah tersebut, tutur dia, adalah masih belum adanya hasil identifikasi oleh akademisi terkait bahan baku yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi pakan mandiri. Kemudian, jikapun sudah bisa teridentifikasi, masih belum diketahui bagaimana pasokan bahan baku tersebut untuk produksi pakan mandiri.

“Ketiga atau terakhir, adalah problem mekanisasi. Tidak mungkin mengolah bahan baku dengan tangan. Itu pasti memerlukan bantuan mesin, supaya pengolahannya masif. Dan itu hingga saat ini masih belum kita miliki,” ucap dia.

Akan tetapi, Luky mengatakan, tiga masalah yang masih dihadapi Indonesia tersebut, sejatinya menjadi tantangan yang harus dijawab oleh para akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Utamanya, perguruan tinggi yang menyediakan perkuliahan ilmu perikanan dan kelautan.

“Pakan mandiri ini sangat bagus karena bisa mendorong ketahanan industri perikanan budidaya nasional. Hal itu, karena pakan mandiri ini dari sehi harga bisa 50 persen lebih murah dari harga di pasaran, tapi kualitasnya hanya berbeda tipis,” ucap dia.

Luky mencontohkan, jika pakan yang diproduksi perusahaan nasional kandungan proteinnya dalam jumlah satuan mencapai angka 10, maka untuk pakan mandiri jumlahnya mencapai 9. Perbedaan tipis tersebut, bagi dia, memberi kekuatan sekaligus keuntungan bagi pakan mandiri untuk bisa bersaing di pasar pakan nasional.

“Setiap daerah itu punya bahan baku lokal yang berkualitas. Tinggal bagaimana bisa mengidentifikasi dan kemudian memanfaatkannya. Contohnya, rumput laut, itu kan banyak dan suka dibuang-buang. Kenapa tidak dimanfaatkan untuk kebutuhan serat untuk pakan saja,” pungkas.

Dengan demikian, diharapkan ke depan, pakan mandiri bisa berkembang dan dicari oleh pembudidaya ikan nasional. Hal itu, berarti, secara bertahap, ketergantungan terhadap impor bahan baku pakan bisa dikurangi.

sumber:

http://www.mongabay.co.id/2016/06/02/pakan-ikan-mandiri-potensial-gantikan-pakan-produksi-industri/

Advertisements

Manfaat Pepaya untuk Lancarkan Pencernaan Ikan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa mengonsumsi pepaya ampuh untuk mengatasi masalah pencernaan, melancarkan sembelit karena kandungan. Pepaya memiliki serat yang tinggi dan kaya kandungan antioksidan yang mampu membersihkan sisa makanan pada usus, kemudian membuangnya melalui saluran pembuangan. Hampir sama dengan kondisi manusia, aplikasi pemberian pepaya pada ikan juga akan membantu melancarkan pencernaan ikan.

 Tanaman pepaya (Carica papaya L.) berpotensi sebagai sumber enzim, khusunya enzim protease. Enzim protease komersil sudah banyak tersedia, biasanya digunakan sebagai sumber enzim dalam pakan ikan. Pepaya mengandung enzim proteolitik papain yang digunakan hidrolisis protein. Papain merupakan satu dari enzim paling kuat yang dihasilkan oleh seluruh bagian tanaman pepaya. Namun hasil penelitian menunjukan bahwa enzim papain pada buah pepaya yang masih mentah memiliki dua kali lipat lebih banyak dibandingkan pepaya yang sudah matang.

 Anatomi sistem pencernaan pada ikan terdiri atas dua bagian yakni saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan pada ikan meliputi mulut, rongga mulut, pharynx, esphagus, lambung, usus, dan anus. Sedangkan kelenjar pencernaan adalah bagian saluran pencernaan yang menghasilkan enzim pencernaan yang nantinya akan bertugas membantu proses penghancuran makanan.

 Pemberian pakan pada ikan, terutama pada stadia benih, seringkali tidak termanfaatkan secara baik oleh ikan sehingga berdampak pada pertumbuhan yang tidak optimal. Yang menjadi penyebabnya, salah satunya disebabkan karena kemampuan sistem pencernaan ikan. Kemampuan ikan mencerna pakan tergantung pada faktor fisik dan kimia makanan, umur ikan, jenis makanan, serta jumlah enzim pencernaan.

  

 Saat ikan masih berada pada stadia benih,  produksi enzim endogenousnya masih sangat minim. Kondisi ini mengakibatkan pemecahan protein tiak sempurna dan daya cerna protein menjadi rendah. Padahal fungsi enzim endogen ini adalah kunci untuk menghidrolisis pakan sehingga nutrisi pakan dapat diserap oleh tubuh. Oleh karena itu mulai digunakan pakan yang mengandung enzim untuk membantu kerja dari enzim endogen.

Pemberian Pepaya

Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa enzim protease dalam tanaman pepaya dapat meningkatkan pertumbuhan dan FCR (konversi pakan) beberapa jenis ikan. Penambahan tepung daging pepaya (simplisia) dalam pakan komersial dengan dosis berkisar 5 %- 15% menunjukkan terjadinya peningkatan laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup, serta FCR yang semakin rendah pada ikan lele, patin, gurami, dan nila. Pemberian tepung daun pepaya sebanyak 5 % memberikan laju pertumbuhan tertinggi 1.704%, konversi pakan 1.648 dan kelangsungan hidup 100% bagi benih ikan lele sangkuriang (Nugraha, 2016).

 Sedangkan penggunaan dalam bentuk enzim murni memerlukan dosis yang lebih kecil, yaitu berkisar 2.25-2.5 % dalam pakan. Meskipun eningkatan pertumbuhan yang nilainya kecil, namun sudah menunjukkan bahwa tanaman pepaya memiliki kemampuan enzimatis untuk membantu memecah protein dalam pakan.

 Adapun kemampuan nya terkait pada jumlah enzim dan aktivitas enzim protease yang terkandung di dalam pepaya. Analisis aktivitas enzim protease buah pepaya menunjukkan nilai hanya 2.16 unit/mg protein sedangkan nilai aktivitas enzim protease murni mencapai 32,88 unit/mg protein.

 Sumber:

Staf Pengajar Prodi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Manajer Kemahasiswaan dan Hubungi Alumni Sekolah Pascasarjana Universitas Padjadjaran

http://www.isw.co.id/single-post/2016/08/08/Pepaya-Sumber-Enzim-Pakan-Ikan

Teknologi Pengembangan Probiotik

Pengembangan perikanan khususnya pada sektor budidaya pada era perdagang bebas sekarang tidak hanya terfokus pada hasil produksi semata, tetapi faktor keamanan pangan dan budidaya ramah lingkungan serta berkelanjutan mulai menjadi faktor yang penting untuk diperhatikan, Sesuai dengan Peraturan Mentri Kelautan dan Perikanan KEP-02-MEN-2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik,(CBIB), maka pengguna obat-obatan dan bahan kimia dilakukan pembatasan khususnya pada obat antibiotik sangat dilarang untuk digunakan atau dicampur pada pakan ikan. Sebagai ganti pembatasan penggunaan antibiotik dalam kegiatan perikanan adalah probiotik. Berbeda dengan antibiotik yang tersusun dari bahan kimia, probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang sifatnya menguntungkan bagi inangnya serta mampu memperbaiki kualitas lingkungan perairan. UPT Pelatihan Teknis Perikanan Budidaya dan Pengolahan Produk Kelautan dan Perikanan (PTPBP2KP) Kepanjen mencoba untuk mengembangkan perbanyakan probiotik dengan menggabungkan antara bahan prebiotik dengan bakteri probiotik. Formulasi perbanyakan probiotik sebanyak 100 liter, yaitu :

Tabel bahan probiotik

Tabel bahan probiotik

Cara Pembuatan:

Seluruh bahan ditimbang sesuai dengan formulasi lalu dihaluskan dengan blender atau mesin penghalus. Setelah halus dimasukkan ke wadah drum plastik. Tahap selanjutnya merebus air sampai mendidih dan memasukkannya kedalam drum plastik dalam kondisi panas. Wadah drum plstik dipenuhi dengan air panas sampai penuh, setelah itu ditutup dan diamkan selama 2 hari sampai kondisi air dalam wadah drum plastik dingin.

Pelatihan pengembangan probiotik oleh UPT PTPBP2KP Kepanjen

Pelatihan pengembangan probiotik oleh UPT PTPBP2KP Kepanjen

Tahap selanjutnya pemberian starter probiotik Lactobacillus casei, Saccharomyces cerevisiae, Bacillus sp. Wadah drum ditutup rapat dan diamkan (difermentasi) selama 1 bulan. Selama proses fermentasi dalam wadah drum plastik akan muncul gas, untuk mengurangi gas cukup membuka wadah untuk mengeluarkan gas lalu menutupnya rapat kembali. setelah 1 bulan perbanyakan probiotik dapat dipanen dan dikemas dalam wadah botol plastik berwarna gelap (tidak transparan). Perbanyakan Probiotik dapat dimanfaatkan untuk fermentasi pakan ikan, menjaga kualitas air media budidaya ikan dan persiapan lahan budidaya. (bidangbudidaya)

sumber:

http://dkp.jatimprov.go.id/index.php/2018/02/23/teknologi-pengembangan-probiotik/

Kultur Pakan Alami Ikan

Dalam melakukan usaha budidaya ikan ada dua kegiatan yang begitu penting, yaitu pembenihan ikan dan juga pembesaran. Pembenihan ikan memainkan peran penting dalam pengembangan suatu usaha budidaya ikan. Salah satu faktor yang berperan penting dalam mendukung keberhasilan usaha pembenihan ialah ketersediaan pakan alami bagi ikan.

Kutu air (Daphnia sp.) banyak tersedia di alam, kutu air biasa hidup di daerah comberan dan di sawah-sawah. kutu air (Daphnia sp.) akan tumbuh subur di perairan yang mengandung banyak bahan organik. Untuk memperoleh kutu air bisa dengan mendapatkannya langsung dari alam, kutu air juga bisa kembangkan (dibudidayakan). kutu air akan sulit diperoleh di daerah-daerah yang tidak banyak persawahan dan comberan. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan pakan alami ikan, terutama pada saat fase dalam pembenihan, maka kutu air  ini harus dikulturkan sendiri. 

Kultur kutu air ini sendiri telah banyak dilakukan dengan cara konvensional, yaitu dengan menggunakan induknya (Daphnia sp.) yang tertangkap dari alam atau hasil beli dipasaran. Cara ini masih banyak dipakai sampai saat ini untuk memenuhi kebutuhan terhadap Daphnia sp. (Darmanto dkk, 2000).  Cara membudidaya kutu air (Daphnia sp.) cukup mudah.

Berikut Langkah-Langkahnya Untuk Kultur Kutu Air:

  1. Persiapan wadah atau tempat, boleh dari fiber atau bak beton. 
  2. Bak atau wadah yang sudah dipersiapkan dibersihkan terlebih dahulu. 
  3. Bak diisi dengan air bersih yang tidak mengandung kaporit, bisa dengan memanfaatkan air sumur
  4. Pemupukan, lebih baik dengan pupuk kandang seperti kotoran ayam kampung dan kotoran sapi, kotoran harus bebas dari bahan kimia, dengan dosis 4-5 g/liter air. 
  5. Pemupukan dilakukan dengan cara memasukkan kotoran ke dalam karung atau bahan yang yang sejenisnya,tujuannya agar kotoran tidak masuk dalam kandang dan air tetap bersih.
  6. Air dalam bak akan berubah menjadi kecoklatan seperti teh  jika pemupukan berhasil dilakukan, Pupuk yang sudah dimasukkan  tersebut dibiarkan selama 7 hari agar terjadi proses dekomposisi, tujuannya untuk meminimalisir gas-gas beracun yang ditiimbulkan akibat proses dekomposisi pupuk tersebut. 
  7. Pada hari kedelapan lakukan penebaran bibit atau inokiulasi kutu air. bibit bisa didapatkan dari alam atau dengan cara membeli. 
  8. Bibit kutu air yang sudah diinokulasi akan tumbuh dengan cepat dalam beberapa hari dan bisa dipanen menggunakan scopnet halus bermata jaring 1,5-2mm. 
  9. Bibit-bibit kutu air  tersebut sudah bisa diberikan pada benih atau larva ikan.
  10. Lakukan pemupukan ulang sebanyak ½ dosis pemupukan pertama dengan interval pemberian pupuk selama 7-8 hari sekali untuk menajaga agar kutu air tumbuh lagi.
  11. Jika bak kultur sudah penuh dengan pupuk, maka sebelum dilakukan pemupukan ulang harus dikeluarkan terlebih dahulu pupuk yang sudah diberikan sebelumnya.

Demikianlah cara melakukan kultur kutu air sendiri di rumah atau di kampus, semoga bermanfaat bagi rekan-rekan sekalian.

 

sumber:

http://www.superperikanan.com/2016/02/dwiindah09.html

Cara pembenihan ikan lele

Cara pembenihan ikan lele

Terdapat dua segmen usaha dalam budidaya ikan lele, yakni usaha pembesaran dan usaha pembenihan. Para peternak pembesaran biasanya tidak membenihkan sendiri. Lebih praktis bagi mereka untuk membeli benih dari peternak benih. Karena usaha pembenihan ikan lele memerlukan tingkat keterampilan dan ketelitian yang lebih tinggi.

Cara pemeliharaan dan perlakuan budidaya pembesaran berbeda dengan budidaya pembenihan. Akan lebih baik apabila peternak fokus terhadap salah satu segmen usaha tersebut. Setelah sebelumnya kami membahas segmen pembesaran ikan lele, kali ini kami akan membahas cara pembenihan ikan lele. Untuk mengetahui lebih jauh silahkan simak terus artikel ini.

Seleksi indukan ikan lele

Memilih indukan untuk pembenihan ikan lele hendaknya dimulai sejak calon indukan masih berukuran sekitar 5-10 cm. Pilih ikan lele yang mempunyai sifat-sifat unggul seperti tidak cacat, memiliki bentuk tubuh yang baik, gerakannya lincah, pertumbuhannya paling cepat dibanding lainnya. Kemudian pelihara calon-calon indukan unggul tersebut dalam kolam pemeliharaan tersendiri. Pemeliharaan calon indukan akan lebih baik bila diperlakukan lebih istimewa, dengan memberikan pakan berkualitas dan pengairan yang bagus.

Penyeleksian terhadap calon indukan untuk pembenihan ikan lele dilakukan setiap 2 minggu sekali. Jangan lupa pisahkan berdasarkan ukuran agar tidak saling kanibal. Lakukan secara berkala sampai mendapatkan indukan yang benar-benar baik. Ikan lele jantan bisa dijadikan indukan setelah berumur 8 bulan, sedangkan untuk lele betina setidaknya berumur satu tahun. Bobot indukan yang baik setidaknya mencapai 0,5 kg.

Setelah calon-calon indukan cukup umur dan ukuran, pilih indukan-indukan yang terlihat bugar, bebas penyakit dan bentuk tubuh yang bagus untuk proses pemijahan. Indukan yang akan dipijahkan sebaiknya dipelihara dalam kolam khusus. Pisahkan antara jantan dan betina agar tidak terjadi pembuahan diluar rencana.

Kolam khusus berfungsi untuk memelihara calon induk sampai siap matang gonad. Berikan pakan dengan mutu baik untuk mempercepat kematangan gonad. Jumlah pakan yang harus diberikan pada calon induk setidaknya 3-5% dari bobot tubuhnya setiap hari dan diberikan dengan frekuensi 3-5 kali sehari. Kepadatan kolam untuk pemeliharan indukan ini tidak boleh lebih dari 6 ekor per m2. Dari kolam ini indukan lele yang memenuhi kriteria matang gonad, diambil untuk dipijahkan.

Indukan betina yang telah matang gonad memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Bagian perut membesar ke arah anus, apabila diraba tersa lembek
  • Apabila diurut akan keluar telur berwarna hijau tua
  • Alat kelamin berwarna kemerahan dan terlihat membengkak
  • Warna tubuh berubah menjadi coklat kemerahan
  • Gerakannya lambat

Sedangkan untuk indukan jantan untuk pembenihan ikan lele hendaknya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Tubuhnya ramping
  • Alat kelaminnya memerah
  • Warna tubuh akan terlihat coklat kemerahan
  • Gerakannya lincah

Teknik pemijahan ikan lele

Pemijahan atau mengawinkan ikan untuk pembenihan ikan lele bisa dilakukan dengan berbagai metode, baik yang alami atau intensif. Pemijahan alami yaitu perkawinan yang tidak memerlukan campur tangan manusia dalam proses pembuahan sel telur dengan sperma. Sedangkan pemijahan intensif merupakan proses perkawinan yang memerlukan intervensi manusia dalam proses pembuahannya. Terdapat beberapa cara populer yang biasa dipakai untuk memijahkan ikan lele secara intensif, yaitu:

  1. Penyuntikan hipofisa
  2. Penyuntikan hormon buatan
  3. Pembuahan in vitro (dalam tabung)

Untuk mengetahui secara lebih detail mengenai teknik-teknik di atas, silahkan baca artikel cara pemijahan ikan lele.

Pemeliharaan larva

Dari proses pemijahan akan dihasilkan larva ikan yang harus dibesarkan dalam tahap pembenihan ikan lele selanjutnya. Pisahkan larva dari induknya. Kualitas air kolam untuk pemeliharaan larva harus terjaga. Usahakan ada aerasi dengan aerotor untuk menyuplai oksigen. Suhu kolam harus dipertahankan pada kisaran 28-29oC. Pada suhu dibawah 25oC, biasanya akan terbentuk bintik putih pada larva yang menyebabkan kematian massal.

Apabila terjadi perubahan suhu, usahakan tidak terjadi secara ekstrim. Perubahan suhu kolam sebaiknya tidak berfluktuasi lebih dari 1oC. Banyak larva yang tidak mentolerir suhu yang berubah-ubah.

Hal penting lainnya adalah menjaga kebersihan kolam. Bersihkan kolam dari kotoroan dan sisa pakan dengan spons. Kotoran dan sisa pakan bisa menimbulkan gas amonia yang bisa memicu kematian larva.

Larva masih membawa persediaan makanan dalam dirinya, jadi tidak perlu diberi pakan hingga 3-4 hari. Setelah persediaan makanannya habis, larva harus segera diberi pakan. Pakan bisa berupa kuning telur yang telah direbus. Ambil bagian kuningnya, lumat hingga halus dan campurkan dengan 1 liter air bersih. Larutan tersebut cukup untuk 100.000 ekor larva.

Setelah larva berumur satu minggu, berikan pakan berpa cacing sutera (Tubifex sp.). Cacing ini bernilai gizi tinggi dan disukai benih ikan yang baru tumbuh. Pakan berupa cacing ini meringankan perawatan, karena bisa hidup dalam air dan tidak mengotori kolam. Sehingga meminimalkan resiko keracunan akibat sisa pakan yang membusuk.

Cacing sutera diberikan hingga larva berumur 3 minggu atau berukuran 1-2 cm. Setelah itu, larva bisa dikatakan telah menjadi benih ikan dan siap diberi pelet yang berbentuk tepung.

Pendederan benih

Pendederan adalah suatu tahapan untuk melepas benih ikan ke tempat pembesaran sementara. Proses pendederan merupakan salah satu tahapan penting dalam pembenihan ikan lele. Tempat pendederan biasanya berupa kolam kecil dengan pengaturan lingkungan yang ketat. Tahapan ini diperlukan karena benih ikan masih rentan terhadap serangan hama, penyakit dan perubahan lingkungan yang ekstrem. Benih ikan didederkan hingga siap untuk ditebar di kolam budidaya yang lebih luas.

a. Menyiapkan kolam pendederan

Kolam pendederan untuk pembenihan ikan lele bisa berupa kolam tanah, kolam semen atau kolam dari terpal. Tidak ada patokan luasan yang disarankan untuk kolam pendederan. Namun lebih baik tidak terlalu luas, sehingga lebih mudah dikontrol, misalnya ukuran 2×3 atau 3×4 m dengan kedalaman kolam 0,75-1 meter. Kolam tersebut juga harus memungkinkan di pasangi peneduh seperti paranet, untuk menghindari kematian benih karena terik matahari di musim kemarau.

Dalam menyiapkan kolam pendederan, perhatikan dengan seksama saluran masuk dan keluar pintu air. Gunakan jaring yang halus agar benih tidak bisa melintas saluran air dan tidak ada hama dari luar yang terbawa masuk ke kolam. Lakukan pengeringan kolam sebelum digunakan. Lebih baik apabila kolam dijemur untuk menghilangkan bibit penyakit yang mungkin tersisa dari aktivitas sebelumnya. Khusus untuk jenis kolam tanah yang akan digunakan untuk pembenihan ikan lele, lakukan pengolahan tanah dan pemupukan dasar kolam.

Pengisian air kolam untuk pembenihan ikan lele, hendaknya dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal isi kolam dengan kedalaman 20-30 cm. Hal ini mengingat benih ikan masih sangat kecil, apabila kolam terlampau dalam benih tersebut akan kesulitan untuk berenang ke atas dan mengambil oksigen dari udara. Setelah benih membesar tambahkan kedalaman kolam secara bertahap, sesuaikan dengan ukuran benih ikan.

b. Pelepasan benih

Benih ikan lele sudah bisa dipindahkan ke kolam pendederan setelah berumur 3 minggu dihitung sejak menetas di tempat pemijahan. Atau, kira-kira berukuran panjang 1-2 cm. Kepadatan tebar benih lele berkisar 300-600 ekor per m2.

Benih ikan yang masih kecil sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan yang ekstrim. Oleh karena itu, memindahkan benih ikan ke kolam pendederan perlu kehati-hatian. Caranya, Gunakan wadah atau ember plastik, kemudian isi dengan dari kolam asal hingga penuh. Ambil benih ikan gunakan jaring yang halus, lalu masukkan ke dalam wadah tadi.

Setelah wadah terisi penuh, angkat dan pindahkan wadah tersebut ke kolam pendederan. Kemudian miringkan, sehingga air dalam wadah menyatu dengan air kolam pendederan. Diamkan sejenak dan biarkan benih ikan berenang keluar dengan sendirinya dari dalam wadah.

c. Pemberian pakan pembenihan ikan lele

Ketika benih masih berukuran 1-2 cm, gunakan tepung pelet yang memiliki kadar protein lebih dari 40 persen, karena pada umur tersebut benih lele membutuhkan banyak protein untuk perkembangan. Jenis pakan yang diberikan bisa berupa pelet jenis PSC atau pakan udang DO-A. Pemberian pakan jenis ini harus teliti, karena pakan akan tenggelam dan menumpuk di dasar kolam. Penumpukan sisa pakan akan membentuk amonia yang berbahaya bagi benih ikan. Selanjutnya benih ikan bisa dipindahkan ke kolam pendederan benih.

Apabila ikan sudah mencapai ukuran 2-3 cm berikan pakan F999 atau PF1000, atau jenis pelet yang berbentuk butiran kecil. Berikan pakan ini setidaknya hingga benih berukuran 4-6 cm. Pada prinsipnya, ukuran pakan harus disesuaikan dengan bukaan mulut benih ikan.

Pakan diberikan dengan frekuensi 4-5 kali sehari. Waktu pemberian pakan bisa dilakukan pada pagi, siang, sore dan malam hari. Karena ikan lele jenis binatang nokturnal atau aktif dimalam hari, hendaknya porsi pemberian makan pada malam hari lebih besar. Lamanya proses pendederan berkisar 5-6 minggu atau hingga benih ikan lele berukuran 5-7 cm.

Panen pembenihan ikan lele

Pembenihan ikan lele memakan waktu 8-9 minggu sejak benih menetas. Ukuran benih lele siap panen berkisar 5-7 cm. Cara pemanenan dilakukan dengan mengeringkan air kolam pelan-pelan hinga ikan berkumpul pada titik yang dalam atau saluran kemalir. Kemudian ambil ikan dengan jaring yang halus. Lakukan pengambilan ikan dengan hati-hati, karena benih tersebut masih rentan apabila mengalami luka pada permukaan tubuhnya. Tampung benih ikan dalam wadah yang telah diisi dengan air dari kolam yang sama agar ikan tidak mengalami stres.

Hal terakhir namun penting dalam pembenihan ikan lele, adalah menyiapkan pembeli bagi benih yang sudah siap panen. Karena apabila waktu panen terlambat karena benih belum ada pembelinya, peternak harus menanggung biaya pemeliharaan ekstra. Pada ujungnya, semakin lama panen tertunda akan semakin tipis marjin yang akan diterima peternak.

 

sumber:

https://alamtani.com/pembenihan-ikan-lele/

Cara pembenihan ikan nila

Budidaya pembenihan ikan nila

Pembenihan ikan nila merupakan usaha budidaya yang sangat produktif. Meskipun jumlah telurnya relatif sedikit, namun frekuensi pemijahan ikan nila cukup sering. Ikan ini bisa dikawinkan setiap bulan, sampai usia produktifnya habis.

Ikan nila mudah memijah secara alami. Bahkan ikan ini gampang sekali memijah secara liar di kolam-kolam budidaya. Tidak seperti ikan mas atau ikan lele yang memerlukan banyak rekayasa. Pengaturan hanya diperlukan untuk mengelola agar pemijahan berlangsung terkendali.

Dengan pengelolaan yang tepat, pembenihan ikan nila akan menjadi usaha yang menguntungkan. Pada kesempatan kali ini akan diulas apa saja yang perlu dipersiapkan untuk memulai pembenihan ikan nila.

Tempat pembenihan ikan nila

Hal pertama yang harus disiapkan dalam pembenihan ikan nila adalah penyiapan tempat atau kolam budidaya. Terdapat empat tipe kolam yang dibutuhkan untuk pembenihan ikan nila, diantaranya:

  1. Kolam pemeliharaan indukan. Kolam ini digunakan untuk memelihara indukan jantan dan betina. Ikan jantan dan betina harus ditempatkan di kolam yang berbeda. Sehingga dibutuhkan setidaknya dua kolam pemeliharaan induk. Kolam tidak perlu terlalu luas, hnaya saja harus cukup dalam untuk ikan dewasa, sekitar 100-140 cm.
  2. Kolam pemijahan. Kolam pemijahan digunakan untuk mengawinkan induk jantan dan betina. Jenis kontruksi kolam pemijahan ikan nila sebaiknya berlantai dasar tanah. Dasar kolam dilengkapi dengan kubangan-kubangan atau kemalir.
  3. Kolam pemeliharaan larva. Kolam ini diperlukan untuk memelihara larva ikan yang baru menetas. Tipe kolam yang digunakan bisa bak semen,  kolam tanah atau hapa. Hapa merupakan jaring yang halus seperti kelambu yang dibuat mengapung di atas kolam. Persis seperti jaring apung di danau, namun ukurannya kecil. Hapa bisa diletakan di kolam pemijahan.
  4. Kolam pendederan benih. Kolam ini diperlukan untuk membesarkan benih ikan sampai ukuran 10-12 cm. Atau, sampai ikan nila kuat untuk dibesarkan di kolam budidaya pembesaran.

Pemilihan indukan ikan nila

Calon indukan untuk pembenihan ikan nila hendaknya menggunakan galur murni yang secara genetis memiliki sifat-sifat unggul. Dewasa ini indukan nila yang beredar di masyarakat banyak yang sudah mengalami penurunan kualitas. Untuk mendapatkan indukan yang unggul, sebaiknya cari di tempat-tempat terpercaya seperti, BBPBAT atau balai-balai perikanan setempat.

Indukan nila matang gonad atau sudah siap memijah, harganya cukup mahal. Untuk itu, kita bisa memelihara calon indukan sedari kecil hingga ikan siap untuk dipijahkan. Adapun ciri-ciri calon indukan nila yang baik adalah sebagai berikut:

  • Merupakan galur murni dan berasal dari keturunan yang berbeda.
  • Kondisinya sehat dan bentuk badannya normal (tidak cacat).
  • Sisik besar, susunannya rapi.
  • Bagian kepala relatif kecil dibandingkan badannya.
  • Badan tebal dan warnanya mengkilap.
  • Gerakannya lincah, responsif terhadap pemberian pakan.

Ikan nila betina memasuki matang gonad setelah berumur 5-6 bulan. Induk betina yang akan dipijahkan setidaknya telah mencapai bobot 200-250 gram dan untuk induk jantan 250-300 gram.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, ikan nila termasuk ikan yang jumlah telurnya sedikit. Satu induk betina seberat 200-250 gram hanya mengandung telur 500-1000 butir. Dari jumlah tersebut yang menetas menjadi larva biasanya berkisar 200-400 ekor.

Masa produktivitas indukan untuk pembenihan ikan nila berkisar 1,5-2 tahun. Indukan yang sudah dibenihkan lebih dari 2 tahun sebaiknya diganti dengan yang baru. Karena kualitas dan kuantitas anakannya akan menurun. Induk ikan nila yang telah memijah siap dipijahkan kembali setelah 3-6 minggu.

Pemeliharaan indukan

Induk jantan dan betina yang disiapkan untuk pembenihan ikan nila harus dipelihara di kolam terpisah. Induk betina disatukan dengan betina lainnya, begitu pula dengan induk jantan. Padat tebar untuk kolam pemeliharaan induk sekitar 3-5 ekor/m2.

Kolam pemeliharaan induk jantan dan betina harus memiliki sumber pengairan yang berbeda (disusun seri). Buangan air dari kolam jantan tidak masuk ke kolam betina dan sebaliknya. Hal ini untuk menghindari terjadinya pemijahan liar. Misalnya, sperma jantan terbawa ke kolam betina sehingga terjadi pembuahan.

Pemberian pakan untuk calon indukan sebaiknya memiliki kadar protein tinggi, lebih dari 35%. Berbeda dengan pakan ikan nila untuk pembesaran yang hanya membutuhkan kadar protein sekitar 2%. Kandungan protein yang tinggi diperlukan agar pertumbuhan gonad maksimal. Jumlah pakan yang diperlukan untuk pemeliharaan indukan sebanyak 3% dari bobot ikan per hari.

Pemijahan ikan nila

Seperti sudah diuraikan sebelumnya, ikan nila sangat gampang memijah secara alami. Pemijahan ikan nila intensif biasanya dipakai untuk memproduksi benih dalam jumlah besar. Karena untuk membangun infrastrukturnya membutuhkan modal besar. Kali ini kami hanya akan mengulas pemijahan ikan nila secara alami.

Dasar kolam pemijahan ikan nila sebaiknya dibuat miring sekitar 2-5%. Kemudian buat kemalir atau kubangan di dasar kolam tersebut sedalam 20-30 cm sebagai lokasi-lokasi ikan memijah.

Sebelum ikandimasukkan ke kolam pemijahan, lakukan pengolahan dasar kolam terlebih dahulu. Silahkan lihat cara persiapan kolam tanah.

Pemijahan ikan nila dilakukan secara massal. Indukan jantan dan betina ditebarkan ke kolam pemijahan secara bersama-sama. Padat tebar kolam pemijahan sebanyak 1 ekor/m2, dengan perbandingan jantan dan betina 1:3.

Selama proses pemijahan, berikan pakan seperti di kolam pemeliharaan induk. Pemijahan ikan nila biasanya akan berlangsung pada hari ke-7 sejak indukan ditebar.

Pemijahan berlangsung di dasar kolam, biasanya dalam kubangan atau cekungan. Apabila terjadi kecocokan, telur yang dikeluarkan induk betina akan dibuahi oleh ikan jantan. Kemudian telur tersebut dierami dalam mulut induk betina.

Selama proses pengeraman telur, induk ikan betina biasanya berpuasa. Maka, sebaiknya pemberian pakan dikurangi hingga tinggal setenganya. Hal ini penting untuk menekan ongkos produksi dan mencegah pembudukan sisa pakan di dasar kolam.

Proses pengeraman biasanya berlangsung sekitar satu minggu. Telur akan mentas menjadi larva ikan. Bila induk betina merasa kolam ditumbuhi pakan alami ikan, ia akan mengeluarkan larva dari mulutnya secara serempak. Oleh karena itu, dalam selama proses persiapan kolam penting untuk memupuk dasar kolam agar pakan alami ikan tumbuh.

Larva ikan yang baru menetas akan berenang ke pinggir kolam. Segera ambil dengan saringan halus dan pindahkan ke tempat pemeliharaan larva.

Pemeliharaan larva

Larva ikan nila yang telah menetas, sebaiknya dibesarkan di tempat khusus. Pemindahan dilakukan setelah larva berumur 5-7 hari.

Kolam pemeliharaan larva bisa berupa kolam tembok, akuarium, kontainer plastik atau hapa. Padat tebar untuk pemeliharaan larva 50-200 ekor/m2, tergantung jenis kolamnya.

Berikan pakan berprotein tinggi berbentuk tepung halus berukuran 0,2-0,5 mm. Frekuensi pemberian pakan 4-5 kali sehari, setiap kalinya sebanyak 1 sendok teh pakan berbentuk tepung.

Alternatif lain, pakan larva ikan nila bisa dibuat dengan cara merebus satu butir telor ayam. Kemudian ambil kuning telurnya, lalu lumat dan campur dengan 1/2 liter air. Masukkan dalam botol semprotan dan berikan pada ikan sebanyak 100 ml, setiap kali pemberian.

Lama pendederan larva berkisar 3-4 minggu, atau sampai larva ikan berukuran 2-3 cm. Larva yang telah mencapai ukuran tersebut harus segera dipindah ke kolam pendederan selanjutnya. Karena daya tampung kolam larva sudah tidak layak lagi untuk ukuran ikan sebesar itu.

Pada tahap pendederan larva, pembenihan ikan nila bisa dibuat agar menghasilkan benih ikan yang kelaminnya jantan semua. Para pembudidaya pembesaran lebih memilih benih nila jantan untuk dibesarkan, atau budidaya nila secara monosex. Karena pertumbuhan ikan jantan lebih cepat daripada ikan betina.

Tips untuk membuat benih ikan jantan semua adalah dengan memberikan hormon 17 alpha methyltestosteron pada tahap pendederan larva. Campurkan hormon tersebut pada pakan ikan. Berikan pada larva hingga ikan berumur 17 hari. Cara ini akan menghasilkan benih ikan jantan lebih dari 95%.

Pendederan benih

Setelah larva dibesarkan hingga ukuran 2-3 cm, selanjutnya lakukan pendederan untuk mendapatkan benih ikan yang siap dibudidayakan di tempat pembesaran. Pendederan hendaknya menggunakan kolam yang lebih luas.

Padat tebar untuk pendederan benih 30-50 ekor/m2. Lama pemeliharaan benih ikan nila pada tahap ini sekitar 1-1,5 bulan. Atau, kira-kira sampai ukuran benih 10-12 cm.

Pakan untuk pendederan menggunakan pelet dengan kadar protein 20-30%. Jumlah pakan yang diperlukan 3% dari bobot tubuh ikan. Frekuensi pemberiannya 2-3 kali sehari.

Namun tidak menutup kemungkinan ukuran benih yang dikehendaki pasar lebih besar dari itu. Apabila demikian, lakukan tahap pendederan tahap ke-2 hingga ukuran benih sesuai dengan permintaan pasar.

Selanjutnya, hasil pembenihan ikan nila siap untuk dibesarkan di kolam budidaya pembesaran ikan nila. Silahkan lihat panduan lengkap budidaya ikan nila.

Panen pembenihan ikan nila

Hal lain yang harus diperhatikan dalam pembenihan ikan nila adalah pengendalian hama dan penyakit. Dalam hal ini upaya pencegahan lebih lebih diutamakan daripada pengobatan. Karena pengobatan ikan yang telah sakit cukup menyita sumber daya. Untuk lebih lengkapnya silahkan lihat hama dan penyakit ikan nila.

Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari. Pengemasan atau pengangkutan benih yang akan dijual bisa menggunakan wadah tertutup atau terbuka. Untuk pengiriman jarak dekat wadah terbuka masih memungkinkan.

Namun bila pengiriman membutuhkan waktu yang lama dan jaraknya jauh, dianjurkan menggunakan wadah tertutup. Pengiriman dengan wadah tertutup memerlukan aerasi untuk memperkaya kandungan oksigen air. Wadah diisi air sampai 1/3-nya saja, sisanya oksigen.

—–
Referensi

  1. Khairuman dan Khairul Amri. 2003. Budidaya ikan nila secara intensif. Agromedia Pustaka
  2. Usni Arie. 2004. Pembenihan dan pembesaran nila gift. Penebar Swadaya
  3. Rahmat Rukmana. 1997. Ikan nila, budidaya dan prospek agribisnis. Kanisius

 

sumber:

https://alamtani.com/pembenihan-ikan-nila/

Seperti Apa Peran Teknologi Bioflok untuk Ketahanan Pangan Nasional?

 

Peran ikan sebagai benteng ketahanan pangan nasional, hingga kini dinilai masih belum maksimal. Padahal, dengan potensi yang dimiliki Indonesia, ikan berpeluang menggantikan lauk pauk berbahan nabati sebagai pendukung utama ketahanan pangan. Oleh itu, Pemerintah Indonesia ditantang untuk terus melakukan inovasi untuk memanfaatkan ikan sebagai penopang ketahanan pangan utama.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mengatakan, untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional yang semakin tinggi, maka langkah utama yang perlu dilakukan adalah melalui intensifikasi teknologi yang efektif dan efisien.

“Semua pelaku perikanan budidaya harus berkreasi mengedepankan Iptek dalam pengelolaan usaha budidaya ikan. Intinya dengan kondisi saat ini, produktivitas budidaya harus bisa dipacu dalam lahan terbatas dan dengan penggunaan sumberdaya air yang efisien,” ungkap dia di Jakarta awal pekan ini.

Menurut Slamet, dalam mewujudkan ketahanan pangan yang bersumber dari ikan, masyarakat saat ini dihadapkan pada kondisi terjadinya perubahan iklim disertai penurunan kualitas lingkungan secara global. Kondisi tersebut kemudian diperparah dengan semakin sedikitnya lahan untuk kebutuhan pangan dan berdampak pada penurunan suplai bahan pangan nasional.

“Kebutuhan pangan dari ikan akan meningkat tajam seiring dengan target Indonesia untuk meningkatkan konsumsi masyarakat hingga 50 kilogram per orang per kapita pada 2019. Dengan target itu, maka suplai ikan perlu setidaknya 14,6 juta ton per tahun,” ujar dia.

Salah satu upaya untuk menambah suplai ikan untuk masyarakat, kata Slamet, adalah dengan menambah produksi ikan secara nasional. Namun, untuk melakukan itu, diperlukan upaya yang sangat keras karena produksi ikan nasional berada dalam kondisi fluktuatif.

Teknologi Bioflok

Slamet Soebjakto mengungkapkan, salah satu upaya yang dilakukan KKP dalam menambah suplai ikan secara nasional, adalah dengan mengembangkan inovasi teknologi sistem bioflok dalam budidaya lele. Teknologi tersebut, kata dia, dinilai berhasil karena bisa meningkatkan produksi dalam jumlah yang banyak.

“Bioflok ini menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, apalagi saat ini produk lele sangat memasyarakat sebagai sumber gizi yang digemari,” jelas dia.

 

Budidaya lele dengan menggunakan teknologi system bioflok yang sedang digalakkan oleh Dirjen Perikanan Budidaya KKP. Teknologi bioflok ini diyakin dapat meningkatkan produksi lele sampai tiga kali lipat. 

Tentang teknologi tersebut, Slamet memaparkan, saat ini popularitasnya semakin meningkat di kalangan masyarakat dan pembudidaya ikan. Kondisi itu bisa terjadi, karena teknologi tersebut dinilai mampu menggenjot produktivitas lele, penggunaan lahan yang tidak terlalu luas dan juga hemat sumber air.

Menurut Slamet, semua efek positif itu bisa didapat, karena teknologi tersebut mengadopsi bentuk rekayasa lingkungan yang mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme, dan secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan.

“Dengan mengunakan teknologi bioflok, produksi lele bisa mengalami peningkatan hingga tiga kali lipat dari produksi biasa. Ini yang disukai para pembudidaya dan bermanfaat untuk menambah suplai ikan secara nasional,” ungkap dia.

Slamet membandingkan, untuk budidaya dengan sistem konvensional dengan padat tebar 100 ekor/m3 itu memerlukan waktu 120-130 hari untuk panen. Sedangkan untuk sistem bioflok dengan padat tebar 500-1000 ekor/m3 itu hanya membutuhkan 100-110 hari saja.

Tidak hanya itu, Slamet menyebut, teknologi bioflok membuat produksi lele di banyak daerah menjadi sangat efisien. Dia mencontohkan, dengan rata-rata padat tebar 1.000 ekor/m3, maka dalam satu kolam bulat ukuran diameter 3 m, dapat ditebar benih lele sebanyak min. 3.000 ekor.

“Dengan ukuran dan jumlah ekor yang ditanam tersebut, bioflok mampu menghasilkan lele konsumsi mencapai lebih dari 300 kilogram per siklus. Artinya jika dibanding dengan teknologi konvensional, bioflok mampu menaikan produktivitas lebih dari 3 kali lipat,” papar dia.

Dengan kelebihan itu, Slamet menyebut kalau budidaya dengan bioflok sangat menguntungkan. Hal itu karena, pendapatan dari satu kolam akan mengalami peningkatan tiga kali lipat jika dibandingkan dengan menggunakan budidaya biasa.

Syamsul Mansur, pembudidaya ikan dengan metode bioflok di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sulsel. Ada sekitar 3000 ekor ikan nila yang ditebar di kolam yang hanya berukuran 2×3 meter itu setinggi 80 cm itu. Begitu padatnya sehingga tak ada ruang yang cukup bagi ikan untuk berenang bebas. Foto: Wahyu Chandra.

Kelebihan lain dari teknologi bioflok ini, kata Slamet, adalah bisa mengintegrasikan diri dengan sistem lain seperti hidroponik. Sistem tersebut,yaitu memanfaatkan air buangan limbah budidaya yang mengandung mikroba sebagai pupuk untuk tanaman sayuran.

“Tentunya ini adalah bentuk keberhasilan inovasi teknologi budidaya, dan sekaligus menjadi jawaban tepat bagiamana memenuhi kebutuhan pangan masyarakat saat ini. Inovasi teknologi harus mampu menjawab tantangan dan masalah, serta mampu memanfaatkan peluang yang ada,” tambah dia.

Manfaat positif yang dihasilkan dari teknologi tersebut, menurut Slamet, membuktikan kalau bioflok adalah teknologi yang ramah lingkungan. Fakta tersebut juga menjadi catatan positif karena teknologi budidaya perikanan kini mengarah pada konsep keberlanjutan.

Ketua I Assosiasi Pengusaha Catfish Indonesia Iimsa Hemawan menyampaikan budidaya lele bioflok merupakan usaha yang mengandalkan teknologi, sehingga faktor kedisiplinan dalam penerapan prosedur operasi standar (SOP) menjadi sangat penting.

“Pendampingan teknologi harus dilakukan secara intens, dengan metode yang memungkinkan masyarakat memahami dan mengadopsi secara mudah,” jelas dia.

Dengan penggunaan teknologi, Slamet berharap, target produksi ikan lele secara nasional yang diproyeksikan sebesar 1,39 juta ton pada 2017 bisa tercapai. Saat ini, realisasi hingga triwulan 1, produksi nasional lele sudah mencapai 225 ribu ton

yamsul Mansur, pembudidaya ikan di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sulsel, mulai mencoba budidaya ikan lele metode bioflok ini di pekarangan rumah. Kelebihannya karena tidak meninggalkan bau seperti halnya budidaya lele secara konvensional. Foto: Wahyu Chandra.

Bioflok untuk Pesantren

Untuk memasyarakatkan teknologi bioflok, Pemerintah Indonesia menjadikan pesantren di berbagai daerah sebagai lokasi pengembangan untuk budidaya perikanan tersebut. Dengan cara tersebut, ke depan diharapkan produksi ikan, khususnya lele bisa meningkat secara nasional dan akan membantu suplai bahan pangan ikan nasional.

“Kita punya tanggung jawab moral untuk membangun pesantren, bukan hanya secara ekonomi saja, namun juga bagaimana turut serta dalam meningkatkan kualitas SDM yang ada. Dengan mulai memperkenalkan ikan sebagai sumber pangan bagi mereka, kita ingin generasi muda di lingkungan pondok pesantren lebih cerdas dengan mulai membiasakan mengkonsumsi ikan,” ungkap dia.

Untuk melaksanakan pengenalan teknologi tersebut, Slamet menuturkan, KKP pada tahun ini menyalurkan bantuan untuk 7 pesantren, 12 kelompok pembudidaya dan 2 lembaga pendidikan. Kesemuanya itu ada di 16 provinsi yang mencakup wilayah perbatasan RI seperti Belu (Nusa Tenggara Timur), Sarmi dan Wamena (Papua), Nunukan (Kalimantan Utara).

Khusus untuk pesantren, Slamet memperkirakan akan ada 78.500 santri yang ikut serta dalam program pengembangan budidaya berbasis bioflok tersebut. Program tersebut nantinya akan menghasilkan pergerakan ekonomi di pondok pesantren dan yayasan.

Dukungan ini diharapkan akan mampu menghasilkan produksi ikan lele konsumsi sebanyak 370,8 ton per siklus atau 1.452 ton, dengan nilai ekonomi produksi sebesar Rp21,78 miliar per tahun. Untuk hasil produksi tersebut, diperkirakan tenaga kerja yang dapat terlibat mencapai 1.030 orang.

“Kedua, meningkatnya konsumsi ikan per kapita di kalangan masyarakat pondok pesantren,” kata dia.

sumber:

http://www.mongabay.co.id/2017/05/28/seperti-apa-peran-teknologi-bioflok-untuk-ketahanan-pangan-nasional/