INFO DUNIA PERIKANAN

Blog Stats

  • 79,499 hits

Start here

Lamun, Penopang Ekosistem Laut yang Sering Terlupa

Dalam ekosistem laut, kita tentunya mengenal mangrove (hutan bakau) dan terumbu karang sebagai bagian yang berpengaruh terhadap keberlanjutan lingkungan. Namun ada satu komponen yang kerap dilupakan, yakni lamun.

Lamun (seagrass) merupakan tumbuhan laut yang hidup terbenam di lingkungan laut, berpembuluh, berimpang (rhizome), berakar dan berkembang biak secara genetatif (biji) dan vegetatif. Lamun kerap dianggap sama dengan rumput laut (seaweed). Hamparan lamun, baik satu jenis maupun multijenis membentuk padang lamun yang menutupi area perairan laut dangkal dan membentuk ekositem lamun.

Ekosistem lamun umumnya berada di daerah pesisir pantai dengan kedalaman kurang dari 5 meter (m) saat pasang. Namun, beberapa jenis lamun dapat tumbuh lebih dari kedalaman 5 m sampai kedalaman 90 m selama kondisi lingkungannya menunjang. Ekosistem lamun di Indonesia biasanya terletak di antara ekosistem mangrove dan karang, atau terletak di dekat pantai berpasir dan hutan pantai.

Lamun dapat ditemukan di seluruh benua yang ada di dunia kecuali Antartika. Di Indonesia sendiri, luas padang lamun diperkirakan mencapai 3 juta hektare (ha). Namun data dari Pusat Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI) menyatakan sejauh ini, baru 25.752 ha padang lamun yang tervalidasi dari 29 lokasi di Indonesia.

“Sisanya masih belum bisa terpetakan. Pemetaan lamun memang cukup sulit, apalagi karena data citra satelit yang terbatas. Lamun susah dipetakan karena berasosiasi dengan pasir. Kalau karang kan gampang ya. Namun, kalau kita memiliki yang peta dari citra beresolusi tinggi, mungkin akan lebih terlihat,” ujar peneliti Oseanografi LIPI, Indarto Happy Supriyadi ketika ditemui selepas penetapan LIPI sebagai wali data ekosistem terumbu karang dan padang lamun beberapa waktu lalu.

Lamun juga ternyata kaya manfaat. Selain menjadi sumber makanan bagi herbivora seperti dugong dan penyu hijau, lamun menjadi tempat tinggal beberapa biota laut yang ekonomis seperti ikan baronang, kepiting, kerang dan teripang. Lamun juga berperan sebagai area asuhan(nursery) bagi ikan kecil dan udang.

Lamun juga mampu memperlambat arus sepanjang pantai dan menjadi perangkap suspensi sedimen serta filter bagi karang. Yang paling penting, lamun sebenarnya menjadi penyerap karbon tertinggi dibandingkan mangrove dan terumbu karang. Selain itu, menurut penuturan Happy,  ada jenis lamun yang buahnya bisa dimakan dan bernilai ekonomis tinggi, bahkan mencapai Rp 20 jutaan.

“Orang melihat ke laut biasanya juga yang dicari karang. Atau mangrove. Lamun itu nggak seksi. Bahkan kadang juga lamun dianggap tidak penting, paling dibilang ah itu mah bikin kotor pantai. Padahal dia tertinggi loh dalam urusan karbon,” ungkap Happy.

Kondisi kesehatan lamun diukur menggunakan metode tutupan lamun (seagrass cover).Perhitungan dilakukan dengan cara menghitung presentase kerapatan tutupan dengan kotak kuadrat. Lamun dinyatakan sehat jika presentase tutupannya lebih besar dari 60 persen. Sementara presentase 29-59,9 persen dinyatakan kurang sehat dan kurang dari angka itu lamun dinyatakan tidak sehat.

Kondisi Saat Ini
Data P2O LIPI menyatakan ada 15 jenis lamun yang ditemukan di Indonesia, namun kini yang mudah ditemukan hanya sembilan jenis. Sisanya mulai langka. Sementara sebagian besar padang lamun di Indonesia berada pada kondisi kurang sehat. Dari 37 titik lokasi yang dijadikan sampel, 27 di antaranya kurang sehat, lima titik tidak sehat dan lima sisanya dalam kondisi sehat. Di dunia sendiri, penurunan luas padang lamun terjadi sejak awal abad XX dengan laju penurunan mencapai 7 persen pertahun pada 1990-an.

Lamun sangat peka terhadap perubahan kondisi air, terutama akibat aktivitas manusia di pesisir pantai. Kebanyakan spesies lamun tak mampu bertahan dengan kondisi air yang keruh dan kotor. Pembukaan lahan di daratan, pengerukan dan pengambilan pasir juga menjadi ancaman serius bagi lamun karena menyebabkan degradasi dan sedimentasi.

Happy menjelaskan, adanya pembukaan lahan membuat sedimen di laut ketika hujan. Layaknya tumbuhan, lamun yang memerlukan cahaya untuk fotosintesis akhirnya tak bisa berfotosintesis di tengah keruhnya air. Cahaya tak bisa menembus keruhnya air tersebut. Akibatnya, banyak lamun yang tidak bertahan hidup. Sejauh ini, kata Happy, salah satu yang mampu bertahan hidup di tengah kondisi ekstrem adalah jenis enhalus acroides.

Rachma Mutia B./WBP
Sumber : Beritasatu.com, 6 Maret 2016

Sivitas Terkait : Drs. Indarto Happy Supriyadi M.Si.

sumber tulisan: http://lipi.go.id/lipimedia/lamun-penopang-ekosistem-laut-yang-sering-terlupa/15184

Kabar Buruk Jika Makan Daging Mamalia Terdampar

Masih ingat Pearlie? Paus betina kecilini mati terdampar di Pantai Mertasari, Sanur, Bali pada 23 Januari 2017 lalu. Ia digigit hiu cookie cutter shark yang terkenal gemar mengintai hewan laut muda. Pearlie, sebut saja demikian ditemukan sudah lemas dengan sejumlah luka di pesisir.

Tak hanya itu, dalam tubuhnya terdapat banyak cacing melebih batas normal. Hasil nekropsi menegaskan hal ini. Jadi, peringatan larangan mengambil daging hewan terdampar itu masuk akal. Makan daging hewan mati gratis bisa berbonus penyakit.

Hasil nekropsi atau pembedahan si Pearlie yang romannya mirip figur Pearl anak Tuan Krab di serial kartun Spongebob ini menyimpulkan, ditemukan investasi parasit (Ascaris sp.) pada sistem gastrointestinal. “Terdapat banyak cacing (anisakis) pada saluran sistem  pencernaan. Dari lambung hingga usus,” ujar Maulid Dio Suhendro, salah satu tim medik veteriner, mahasiswa S2 Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Udayana yang melakukan nekropsi ke Pearlie.

Dio, dokter hewan sedang memimpin identifikasi dan nekropsi untuk mencatat detail ukuran dan menganalisis penyebab kematian paus sperma kerdil yang terdampar dan mati di perairan Pantai Matahari Terbit, Sanur pada Senin (23/01/2017). Foto Luh De Suriyani

 

Anggota tim medik lainnya adalah Made Jaya Ratha (Coral Reef Alliance), Clara Dewinda dan Ida Bagus Windia Adnyana (Universitas Udayana). Sejumlah mahasiswa FKH lainnya terlihat ikut mempelajari proses nekropsi ini yang dilakukaan sesaat setelah Pearlie mati di laboratorium patologi kampus.

Menurut Dio, kadar normal itu jika ada cacing tetapi tidak terlalu banyak. “Ini hampir semua saluran pencernaan terdapat cacing. Artinya jika kita memakan paus terdampar memungkinkan untuk terjadinya penyakit zoonosis yangg ditularkan oleh hewan ke manusia atau sebaliknya,” papar pria muda yang menyukai hewan liar ini. Sama seperti penyakit zoonosis dari bakteri ataupun virus. Sementara pada paus sperma jenis Kogia ini jenisnya parasit.

Hasil lainnya ada cairan berwarna hitam pekat keluar urogenital. Dio menjelaskan ini cairan bewarna hitam dari sistem perkencingan dan reproduksinya. “Kami menduga pertama adanya indikasi penyakit erysipelas. Tetapi mungkin juga cairan pekat ini untuk mengelebui predator jika kogia merasa terancam,” jelasnya.

Paus ini roman mukanya mirip karakter kartun Spongebob bernama Pearl, si paus sperma remaja betina anak Tuan Crabs. Paus sperma kerdil ini terdampar dan mati di perairan Pantai Matahari Terbit, Sanur pada Senin (23/01/2017). Foto Luh De Suriyani

 

Kemudian ada hemorragi pada gastrointestinal dan selaput jantung. Terjadi perdarahan pada gastro intestine atau sistem pencernaan. Bisa terjadi akibat parasit atau penyakit lainnya. Sementara uji apung pada paru menunjukkan organ mengapung (berisi udara), artinya kematian bukan karena tenggelam.

Diagnosisnya, kematian Pearlie bersifat  non infeksius artinya adanya gigitan predator cookie cutter shark. Diperparah dengan inveatasi parasit cacing anisakis yang membuat kondisi Kogia menjadi buruk.

Berita acara nekropsi tim medis memaparkan detail identifikasinya. Ciri-ciri Pearlie si paus sperma kerdil muda ini adalah kepala berwarna abu-abu, bentuk rahang underslung seperti hiu. Warna keseluruhan biru tua sampai abu-abu dengan kulit berwarna coklat dengan abdominal abu-abu. Flipper depan sangat mendekati kepala. Bentuk blowhole sedikit berlekuk atau melengkung. Dorsal fin berukuran kecil, berbentuk persegi di belakang punggung. Jumlah gigi 14 pasang dan usianya masih anakan atau juvenile.

Bagaimana dengan hewan laut lain? Dari pengalaman Dio melakukan nekropsi, penyu juga membawa banyak penyakit baik virus, bakteri, dan parasit. “Penyu merupakan hewan kuat. Ketika mengalami kerusakan tubuh hingga 95% dia masih bisa bertahan. Artinya dia kuat terhadap penyakit,” tambahnya. Bukan berarti manusia yang gemar memakan daging penyu juga kebal penyakit.

Terlebih saat ini Polair Polda Bali makin banyak menangkap penyelundupan penyu yang sudah dipotong-potong. Jika sebelumnya selalu penyu terikat dan masih hdup, sekarang untuk mengelabui sudah berupa daging. Kondisi ini lebih buruk karena tak mungkin ada harapan bisa merehabilitasi penyu hasil selundupan dan dilepaskan kembali ke laut.

Beberapa potongan tubuh penyu yang sudah beku, para penyu dipotong dengan bagian karapasnya. Foto Luh De Suriyani

 

Walau sudah ada hasil sementara, direkomendasikan ada diagnosa banding. Misalnya peneguhan diagnostik melalui diagnostik laboratorium histopatologi, bakteriologi, dan parasitologi. Juga laboratorium genetika (menentukan spesies) dan rekonstruksi anatomi (osteologi)

Tim evakuasi paus terdampar di Mertasari ini dilakukan oleh tim life guard Sanur, BPSPL Denpasar, TCEC Serangan, dan FKH Unud. Seorang turis melaporkan melihat mamalia berenang di tepi laut, lalu coba direhabilitasi karena banyak perlukaan.

Sangat sedikit mamalia laut yang dibedah dan uji lab karena perlu biaya. Sementara nekropsi dinilai penting untuk mempelajari kehidupan hewan liar dan dampaknya pada manusia. Contohnya kewaspadaan mengonsumsi dagingnya ini.

Dio menyebut nekropsi Pearlie ini sukarela dengan biaya sendiri karena kecintaanya pada hewan liar. “Ada dana dari luar tapi harus ngajuin grant terkait forensik tapi kebanyakan forensic DNA,” ujarnya.   Masalah dana juga muncul jika hewan perlu perawatan. Ia mencontohkan dugong terdampar di Sulawesi. Bayi dugong memerlukan perawatan lumayan lama hingga 10 tahun.

Relawan dokter dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana mengungkap ada apa di balik kematian seekor paus kogia pada Janauri 2017 lalu dengan nekropsi. Foto Luh De Suriyani

 

Konteks lebih luas kewaspadaan penyakit pada hewan laut terkait daur ekologi dan dampaknya pada manusia salah satunya ditulis oleh Lena N. Measures, Anisakiosis and Pseudoterranovosis, editor Rachel C. Abbott dan Charles van Riper, III USGS National Wildlife Health Center (Circular 1393).

Dalam publikasi yang sudah ada versi online ini disebutkan munculnya penyakit zoonosis pada manusia dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar hasil dari padat penduduk, dan terganggu lingkungan dunia yang mengalami perubahan iklim yang cepat. Penyakit zoonosis seperti anisakiosis dan pseudoterranovosis akan mulai muncul lebih sering pada hewan lintang utara dan populasi manusia.

Infeksi larva Anisakis spp. dan Pseudoterranova spp. Disimpulkan sangat tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan. Dalam daging ikan mereka dapat bertahan hidup dalam kondisi dingin, cukup penggaraman, dan suhu beku (Hauck, 1977; Bier, 1976; Deardorff dan Throm, 1988; Gardiner, 1990; Wharton dan Aalders, 2002). Beberapa metode persiapan ikan dapat digunakan untuk mengurangi kemungkinan tertular infeksi.

Larva Anisakis spp. pada ikan daging bermasalah bagi konsumen, karena ukurannya yang kecil dan warna transparan atau putih membuat sulit untuk dideteksi. Di sisi lain, larva Pseudoterranova spp., Yang umumnya banyak ditemukan dalam daging ikan, sering terlihat oleh konsumen, tergantung pada ketebalan fillet ikan.

Mengiris atau fillet ikan menggunakan pencahayaan kuat untuk melihat larva kemudian mencabuti secara manual (candling) masih digunakan secara komersial di beberapa pabrik pengolahan ikan.Tapi candling mahal, mengurangi nilai dari produk, dan tidak efisien sebagai yang khasiat tergantung pada ketebalan fillet yang diperiksa (Power, 1958, 1961; Valdimarsson dan lain-lain, 1985; Hafsteinsson dan Rizvi, 1987).

Seekor paus sperma betina atau sperm whale (Physeter macrocephalus), terdampar dan mati di sebuah pesisir pulau kecil di Gili Batu, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada pada Kamis (12/01/2017). Petugas dari BPSPL KKP Denpasar Bali dan petugas setempat dibantu masyarakat kemudian menenggelamkan bangkai paus di tengah laut. Foto : BPSPL Denpasar wilayah NTB

 

Dalam sejumlah kasus mamalia laut terdampar misalnya di Bali dan Lombok,  tantangannya adalah mencegah warga sekitar mengambil daging dan bagian tubuh hewan yang diyakini sebagai obat. Misalnya saat paus sperma sekitar 5 ton terdampar mati pada 12 Januari di Lombok.

“Sudah ada warga yang memotong sebagian giginya. Ada kepercayaan gigi dan minyaknya untuk obat,” urai Lalu Adrajatun petugas lapanganB alai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP Denpasar yang juga mewilayahi NTB.

 

sumber: http://www.mongabay.co.id/2017/03/12/kabar-buruk-jika-makan-daging-mamalia-terdampar/

Antara Ikan Salmon dan Ikan Kembung

Antara Ikan Salmon dan Ikan Kembung

Ikan salmon kerap kali diidentikkan sebagai ikan yang paling bergizi. Ikan yang berasal dari famili Salmonidae ini hidup di Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Salmon adalah salah satu spesies ikan yeng bermigrasi untuk berkembang biak. Karena memiliki kandungan gizi yang tinggi serta jumlah populasinya tidak sebanyak ikan lain, nilai jual ikan satu ini membumbung tinggi.

Satu kilogram ikan dengan nama latin Salmonidae sp. ini dipatok seharga Rp. 165.000 bahkan ada yang mencapai Rp 300.000 per kilonya, padahal berat satu ekor ikan salmon bisa mencapai 5-7 kg. Tidak heran jika ikan ini lebih kakrab dengan kalangan menengah ke atas.

Ikan salmon
Ikan salmon

Harga mahal bukan berarti masyarakat Indonesia tidak bisa mendapaatkan gizi setara seperti memakan ikan salmon. Ternyata di perairan Indonesia sendiri ada satu jenis ikan yang memiliki kandungan gizi tidak kalah dengan ikan salmon.

Namanya adalah ikan kembung. Berasal dari famili Scombridae dan genus Rastrelliger, ikan ini adalah jenis ikan pelagis kecil yang menjadi komoditas utama para nelayan kelas menegah. Agar menjadi lebih tahan lama, ikan satu ini biasanya diolah menjadi ikan asin atau pindang.

Memiliki perawakan yang kecil serta jumlah populasi yang melimpah, ikan ini memiliki nilai jual yang jauh lebih terjangkau jika dibandingkan dengan ikan salmon. Selain itu, ikan dengan nama latin Rastrellinger sp. ini juga memiliki beberapa spesies yang sama-sama bergizi tinggi, mulai dari Rastrelliger brachysoma, Rastrelliger faughni, sampai Rastrelliger kanagurta, dan masih banyak lagi. Harga ikan ini berkisar antara Rp. 30.000 sampai Rp. 35.000 per kilonya.

Ikan kembung
Ikan kembung

Kabar baiknya, ikan kecil ini ternyata memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi serta harga lebih murah daripada ikan Salmon. Jika ikan salmon biasanya dikaitkan sebagai ikan yang kaya omega 3, ternyata omega 3 yang dimiliki ikan kembung ini lebih tinggi loh. Tercatat dari 100 gram ikan salmon mengandung energi 142 kkal, protein 19,84, lemak tak jenuh 6,343 gr, zat besi 0,80 gr, dan kalsium 12 gr. Sedangkan dari 100 gr ikan kembung mengandung energi 162 kkal, protein 19,32gr, lemak tak jenuh 2,343 gr, zat besi 1 mg, dan kalsium 20 mg. Bukan hanya sampai situ, yang paling mengejutkan adalah ternyata omega 3 yang terdapat pada ikan kembung tiga kali lebih besar daripada ikan salmon.

Omega tiga merupakan salah satu jenis lemak tak jenuh yang hanya bisa diperoleh dari asupan makanan maupun suplemen yang bersumber dari makanan seperti ikan kembung, ikan salmon, ikan tuna, minyak kanola, walnut, kacang kenari, kacang kedelai, alpukat, dll.

Asupan omega 3 dibutuhkan bagi tubuh, terutama untuk janin, ibu hamil, serta anak-anak. Untuk orang dewasa, omega 3 bermanfaat menurunkan resiko penyakit jantung, menyehatkan mata, anti inflamasi, membantu penyerapan vitamin, sampai meningkatkan perkembangan anak. Bahkan ikan kembung yang sudah diolah menjadi ikan asin dan ikan kemasan dalam kaleng masih memiliki kandungan omega 3 yang tinggi.

Ikan kembung dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan
Ikan kembung dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan

Jadi tidak berlebihan jika ikan kembung disebut sebagai salah satu ikan primadona yang ada di Indonesia. Menawarkan berbagai kelebihan, selain bergizi tinggi, ikan ini sangat mudah ditemui di Indonesia karena tersebar di perairan Indonesia, belum lagi harganya yang terjangkau untuk berbagai lapisan masyarakat. Jadi tunggu apa lagi? Yuk, penuhi kebutuhan gizi sekaligus membudayakan makan makanan laut.

sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/04/23/antara-ikan-salmon-dan-ikan-kembung

KEMBANGKAN RUMPUT LAUT, ENDRY TELITI ICE-ICE

Potensi pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia sangat besar. Namun, saat ini usaha tersebut mengalami kendala serius akibat serangan penyakit Ice-ice. Diperlukan sebuah solusi yang tepat untuk mengatasinya. Hal inilah yang dilakukan oleh Dr techn Endry Nugroho Prasetyo SSi MEng beserta timnya. Bagaimana caranya mengatasi penyakit Ice-ice?

Belum adanya solusi yang tepat terkait masalah ini, menyebabkan Dosen Biologi ITS yang akrab disapa Endry ini beserta timnya melakukan penelitian. Dalam penelitian ini, Endry dan tim menggunakan agen-agen pengendali alami seperti anti mikroba biologis guna mencegah serangan dari penyakit Ice-ice. “Karena dasar ilmu kita adalah natural sains, maka agen pengendali utama yang digunakan adalah agen biologis,” jelasnya.

Lebih lanjut, Endry menjelaskan, Ice-ice merupakan jenis penyakit yang menyerang rumput laut. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan pada rumput laut. Jika hal ini terus dibiarkan akan menyebabkan kerugian besar pada petani rumput laut. “Tak tanggung-tanggung kerugian yang dialami petani dapat mencapai hampir seluruh dari jumlah total rumput laut yang dipanen. Namun, hal ini juga tergantung dari seberapa luas obyek yang terpapar Ice-ice,” paparnya.

Penyakit ice-ice ini biasa menyerang pada pergantian musim antara panas ke dingin atau sebaliknya. Namun, tidak menutup kemungkinan juga penyakit ini dapat menyerang pada setiap musim. Serangan penyakit ice-ice ini dapat dilihat dari berubahnya warna hijau pada rumput laut menjadi putih dan akhirnya rusak. “Penyakit ini menyerang sel-sel yang ada pada rumput laut. Sehingga menyebabkan kerusakan,” jelas Nur Shabrina salah satu mahasiswa bimbingan Endry yang turut serta menggarap proyek ini.

Dalam penelitiannya, Endry menggunakan dua metode pendekatan yaitu laboratorium dan aplikasi. Pendekatan laboratorium dilakukan dengan cara mengisolasi penyebab dari timbulnya penyakit Ice-ice. Setelah diketahui penyebabnya, langkah selanjutnya adalah menganalisis sampel uji dengan metode yang sesuai. Langkah terakhir adalah mempelajari hasil yang didapat untuk mengetahui proses selanjutnya yang akan diambil.

Selain pendekatan secara laboratorium, Endry juga menggunakan pendekatan secara aplikasi. Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat efektifitas dari penelitian yang telah dilakukan. “Setelah dilakukan beberapa kali uji laboratorium, barulah kita lakukan pendekatan secara aplikasinya,” jelasnya.

Endry mengungkapkan bahwa penelitiannya ini didanai secara penuh oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS dan Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD) Jerman. Selain itu penelitian ini juga mendapat bantuan tenaga ahli dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Sumenep yang bekerjasama dengan Universitas Wiraraja Sumenep. Sebab, penelitiannya dilakukan di pulau Poteran Madura.

Disamping itu, dalam penelitian ini, Endry juga menjalin kerjasama dengan Sustainable Island Development Initiatives (SIDI) untuk bersama-sama mengembangkan potensi pulau terpencil melalui jalur penelitian hingga pengembangan wisata dan industri. “Salah satu faktor penelitian kita dilakukan di pulau Poteran Madura adalah untuk mengembangkan potensi dari pulau tersebut,” jelasnya.

Memanfaatkan Potensi Pulau Poteran
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan penelitian ini dilakukan di pulau Poteran Madura. Diantaranya, jika dilihat dari faktor kimia fisika perairan, pulau ini sangat cocok sebagai tempat budidaya rumput laut. Selain itu lokasi pulau ini dengan ITS tidak terlalu jauh. “Untuk mendukung penelitian, biasanya saya melakukan aklimatisasi langsung di pulau ini,” tutur mahasiswa Biologi ITS semester akhir ini.

Secara gamblang Shabrina menjelaskan, anti mikroba yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun ketapang. “Banyaknya penelitian yang menjelaskan kandungan daun ketapang, mendasari kita memilih daun ini sebagai obyek penelitian,” ungkap Shabrina. Ia menambahkan, bahwa mereka dapat menemukan daun ketapang dengan mudah di pulau ini. “Banyak potensi alam yang dapat dikembangkan untuk penelitian di pulau ini,” jelasnya.

Rencananya, penelitian ini akan dipublikasikan di beberapa publikasi internasional dan akan diikutkan dalam international conference. “Selama ini banyak penelitian yang dilakukan terkait obyek ice-ice ini. Namun sedikit dari penelitian tersebut yang di publikasikan secara internasional,” tutur Shabrina.

Endry berharap agar penelitiannya dapat digunakan secara langsung oleh petani. Sehingga serangan penyakit ice-ice dapat di karangi. “Jika penelitian ini berhasil dan serangan penyakit Ice-ice dapat dicegah. Maka petani tidak perlu khawatir lagi akan terjadinya kegagalan panen,” pungkasnya. (sho/fin)

Mari bergerak selamatkan laut dari sampah plastik!

JAKARTA, Indonesia – Penelitian dari Journal Science tahun 2015 menyebut Indonesia menjadi negara terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok yang menyumbang sampah ke laut. Data itu hingga kini masih banyak yang menanyakan kebenarannya.

Sebagian pihak berargumen bahwa sampah-sampah yang ada di laut bisa saja hanyut dan terbawa dari negara lain menuju ke Indonesia. Namun, bukan itu permasalahannya.

Keberadaan sampah di laut khususnya yang terbuat dari plastik pada akhirnya akan membahayakan kesehatan manusia. Sebab, sampah tersebut akan dimakan secara langsung oleh ikan-ikan yang menjadi santapan manusia.

Salah satu area di Indonesia yang mengalami secara langsung dampak dari menumpuknya sampah plastik adalah Kepulauan Seribu. Bupati Kepulauan Seribu, Budi Utomo menyebut dasar laut di wilayahnya sebagai “Mall Laut”. Hal itu lantaran berbagai plastik dari beragam produk dan supermarket dapat ditemukan.

“Dalam satu hari, Kepulauan Seribu menghasilkan sampah 8-10 ton. 60 persn di antaranya adalah sampah plastik. Oleh sebab itu, kami mengimbau masyarakat dan wisatawan di Kepulauan Seribu untuk bijak memanfaatkan sampah yang ada,” ujar Budi ketika mengisi dialog di Pusat Kebudayaan Amerika Serikat di Jakarta Selatan pada Sabtu, 1 April.

Sementara, aktivis lingkungan dan penyelam dari Wicked Diving Komodo di Labuan Bajo, Marta Ruslin mengatakan sampah di laut mencoreng sektor pariwisata di Nusa Tenggara Timur (NTT). Padahal, berdasarkan hasil survei, salah satu alasan terbesar wisatawan datang ke Labuan Bajo karena ingin menikmati panorama alamnya.

“Mereka ingin pulau, pantai, snorkeling, dan diving,” ujar Marta di acara yang sama.

Dia menegaskan menumpuknya sampah bisa merusak citra Pulau Komodo yang menjadi bagian dari wisata Labuan Bajo. Padahal, Pulau Komodo masuk ke dalam daftar area pariwisata yang dijuluki “The New 7 Wonders”.

Oleh sebab itu, sebagai pelatih diving, dia mendorong calon diving master untuk ikut peduli terhadap kebersihan wilayah laut dan pantai.

“Salah satu cara yang saya terapkan yakni para calon diving master harus memiliki kepekaan terhadap isu tersebut baru kemudian bisa lulus,” kata Marta.

Hancurkan rantai makanan

Sementara, Akbar Tahir dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan dari Universitas Hasanuddin Makassar menjelaskan sampah plastik dalam beragam bentuk dapat merugikan biota laut. Plastik dalam ukuran makro dan mega dapat menjerat biota laut, termasuk terumbu karang. Sementara, plastik ukuran mikro dan nano dapat dimakan oleh ikan-ikan serta kerang karena dikira itu adalah plankton.

Sampah mikro berukuran kurang dari 330 mikro meter. Sementara sampah nano berukuran antara 330 mikro meter hingga 5 mili meter. Keduanya dapat mengapung, melayang dan tersedimentasi di dasar laut. Oleh karena itu beragam biota laut dapat tertipu.

“Kami khawatir (sampah plastik) bias mencederai ikan yang memakannya karena tajam. Ikan juga bisa menyerap bahan-bahan beracun (dari sampah plastik yang tertelan) hingga terserap oleh daging-daging ikan,” tutur Akbar.

Daging ikan itu kemudian dikonsumsi oleh manusia yang bisa menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya kanker. Selain itu, partikel plastik juga bisa menghancurkan rantai makanan.

“Bakteri sudah mulai mengolonisasi partikel-partikel plastik, terutama styrofoam. Padahal styrofoam mengandung POPs (Persitant Organic Pollutants). Mikroflora sebagai decomposer bisa jadi punah dalam jangka waktu yg panjang,” kata dia.

Kerja sama semua lini

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk meminimalisasi dampak buruk sampah plastik terhadap laut? Menurut Marta, semua itu bisa terealisasi dengan semua lini turun tangan untuk mengantisipasi sampah plastik dan limbah lainnya di laut.

Dia kemudian mendorong semua lini untuk terkoneksi melalui satu situs bernama “Indonesian Waste Platform”.

“Aksi personal dan aksi kolektif dapat dilakukan, termasuk mendorong orang lain untuk peduli,” kata Marta.

Dia juga pernah bekerja sama dengan Kemenko bidang Maritim dengan membagikan 1.500 botol minum kepada para siswa di SMA di Labuan Bajo.

“Kami juga pernah menyediakan tempat pengisian air minum di beberapa tempat,” kata dia.

Sementara, pemerintah rencananya akan kembali memberlakukan program kantong plastik berbayar. Deputi Bidang SDM, IPTEK, dan Budaya Maritim Kemenko Maritim, Safri Burhanuddin mengatakan program tersebut sebelumnya dinilai berhasil dan dapat mengurangi konsumsi plastik sebesar 30 persen.

Kemenko bidang maritim sedang mengupayakan kekuatan hukum dari penanggulangan plastik marine debris.

“Sudah ada Instruksi Presiden no. 12 tahun 2016 tentang Gerakan Indonesia Bersih. Kini, kami sedang mengupayakan instuksi presiden baru yang fokus ke plastic marine debris. Sambil terus mengupayakan kajian di bidang kesehatan,” tutur Safri.

Lalu, bagaimana dengan kamu? Apa solusi yang kamu tawarkan untuk mencegah menumpuknya sampah plastik di laut? Tulis solusi mu di kolom di bawah. – Rappler.com

 

sumber: http://www.rappler.com/indonesia/berita/166283-selamatkan-laut-sampah-plastik

Ancaman Sampah Plastik yang ‘Menggunung’ di Laut Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia — Persoalan sampah plastik di laut kembali menjadi sorotan dunia saat sebanyak 30 kantong plastik dan sampah plastik lainnya ditemukan dalam perut paus berparuh cuvier di perairan Norwegia, beberapa waktu lalu.

Temuan sampah plastik itu mencerminkan betapa sampah plastik di lautan pada saat ini telah menjadi satu dari sekian banyak masalah serius yang harus segera diatasi oleh negara-negara yang memiliki laut dan garis pantai, termasuk Indonesia.

Hal ini juga berlaku bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan ratusan garis pantai, tentu akan sangat mengerikan bagi wisatawan saat mendapati dirinya berjalan-jalan di pantai yang penuh dengan plastik sampah. Sayangnya, itulah yang terjadi di Indonesia.

Sampah plastik di pesisir laut Indonesia membuat pemerintah semakin serius untuk mengatasinya. Pemerintah menargetkan mengurangi sampah plastik hingga 70 persen pada akhir 2025 mendatang.

“Pemerintah akan memberikan pembiayaan hingga Rp1 miliar dollar AS per tahun untuk mengurangi sampah di laut,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dalam siaran pers, Kamis kemarin (23/2).

Target yang ambisius itu sangat bisa dipahami. Pasalnya, sampah plastik di laut bukan hanya mengancam keindahan pesisir pantai bagi wisatawan, melainkan juga mengancam kehidupan ikan, mamalia, burung laut, bahkan terumbu karang.

Luhut mengatakan, ikan-ikan yang memakan sampah plastik ini akan berbahaya untuk keberlanjutan industri perikanan yang pada akhirnya bisa berimbas pada pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Masalah sampah ini saling kait-mengait antara satu dengan yang lain, dari mulai kesehatan, wisata, hingga pertumbuhan ekonomi,” kata dia.

Masyarakat kata Luhut, akan terkena dampak negatif dari segi ekonomi. Nelayan misalnya akan sulit mendapatkan ikan, bahkan budidaya rumput laut tidak akan berhasil jika lautnya tercemar sampah plastik.

Efek Pertumbuhan Ekonomi

Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut (PPKPL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Heru Waluyo mengatakan, Indonesia hingga akhir tahun 2016 lalu tercatat sebagai kontributor sampah plastik di laut urutan kedua terbesar di dunia.

Sementara dari data yang dihimpun CNNIndonesia.com, setiap tahunnya Indonesia rata-rata menyumbang 3,2 juta ton sampah plastik. Indonesia hanya kalah dari China, penyumbang sampah plastik terbesar di dunia yang menghasilkan 8,8 juta ton sampah plastik per tahun.

Heru khawatir terhadap fakta tersebut lantaran saat menjadi sampah, bahan plastik membutuhkan waktu sangat lama untuk diurai.

Persoalannya adalah, sampah plastik sulit dihindari bagi negara-negara yang perekonomiannya sedang mengalami pertumbuhan cukup baik.

Heru menyadari itu. Ia mengakui bahwa negara penyumbang sampah plastik biasanya adalah negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi cukup baik seperti Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi yang cukup baik secara langsung meningkatkan penggunaan plastik di masyarakat untuk menunjang berbagai aktivitas,” kata Heru.

Sampah plastik memang menjadi persoalan yang sangat dilematis jika dihadapkan dengan pertumbuhan ekonomi.

Di satu sisi, sampah plastik merupakan ekses tak terhindarkan dari pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain sampah plastik juga bisa mengancam perekonomian masyarakat. Pada titik ini, pemerintah dituntut untuk bisa bersikap tegas sekaligus cerdas, memberantas sampah plastik tanpa harus mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi.

 

sumber: http://www.cnnindonesia.com/nasional/20170224090306-20-195843/ancaman-sampah-plastik-yang-menggunung-di-laut-indonesia/

Hiu Paus Dalam Legenda Nelayan Indonesia

 

Hiu Paus

Hiu Paus, spesies ikan terbesar. (Foto: Thinkstock/Mihtiander)

Kehadian hiu paus sudah lama ada di perairan Indonesia. Perairan Indonesia merupakan jalur migrasi mereka. Tak heran juga kalau hiu paus menjadi salah satu cerita legenda dalam masyarakat nelayan Indonesia.
Dikutip dari panduan monitoring Hiu Paus yang diterbitkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Senin (13/2) hiu paus atau ‘Gurano Bintang’ dianggap sebagai hantu laut oleh masyarakat di Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC). Di kawasan ini, hiu paus ada setiap tahun.
Ketika hiu paus muncul, maka nelayan akan mematikan mesin dan tinggal diam di dalam perahu sampai hiu paus lewat. Kemunculan hiu paus juga dipercaya sebagai pertanda bahwa akan ada kedukaan (orang meninggal). Namun sejak hiu paus menjadi atraksi wisata, masyarakat mulai menganggap hiu paus sebagai ikan yang bersahabat.
Dahulu hiu paus di kawasan TNTC hanya melintas saja. Namun ketika masyarakat membuat bagan ikan, hiu paus menetap. Mereka tertarik dengan ikan-ikan kecil di dekat bagan.

Hiu Paus

Hiu Paus. (Foto: Thinkstock/Crisod)

Tak hanya itu saja, kemunculan hiu paus oleh nelayan bagan yang biasanya berasal dari suku Bugis, Buton, dan Makassar juga dianggap sebagai pertanda baik karena kemunculannya biasa diikuti oleh ikan-ikan pelagis kecil yang menjadi target bagan.
Di Probolinggo, masyarakat mengeramatkan hiu paus yang dipercaya sebagai penunggu pantai Utara. Hiu paus yang biasa dipanggil “Kikaki” dipercaya menjadi kendaraan nenek moyang masyarakat Probolinggo bila pergi ke tanah leluhur di Pulau Madura.
Masyarakat tidak berani menangkap hiu paus karena dianggap akan mendatangkan petaka. Saking menghormati hiu paus, bahkan pada tahun 2010, dua ekor hiu paus yang terdampar dan mati dikuburkan dengan ritual. Sampai sekarang makamnya masih dapat ditemukan di Desa Randu Putih.
Sementara itu, masyarakat Bajo di Lamalera percaya bahwa hiu paus atau “Kareo Dede” adalah ikan yang dijaga oleh dewa dan dapat melindungi atau membantu nelayan pada saat dibutuhkan. Oleh karena itu, masyarakat Bajo tidak memburu hiu paus dan jika tidak sengaja tertangkap pun, harus segera dibebaskan.

 

sumber:

https://kumparan.com/indra-subagja/hiu-paus-dalam-legenda-nelayan-indonesia