INFO DUNIA PERIKANAN

Blog Stats

  • 96,307 hits

Start here

Inilah Cara Tepat Budidaya Ikan Nila Di Kolam Beton

Inilah Cara Tepat Budidaya Ikan Nila Di Kolam Beton

Sebelum Anda melakukan budidaya ikan nila di kolam beton ada berbagai hal yang mesti Anda perhatikan. Anda mesti mengetahui ukuran kolam ikan yang akan dibuat karena ukuran kolam ikan harus disesuaikan dengan banyaknya ikan yang ada pada kolam tersebut. Bila jumlah ikannya melebihi dari aturan yang ideal maka hal ini dapat menyebabkan beberapa ikan tidak bisa tumbuh maksimal, bahkan dapat menimbulkan kematian karena tidak mendapatkan makanan.

Budidaya Ikan Nila Di Kolam Beton

Sesudah kolam dibuat berilah pupuk kandang pada dasar kolamnya. Lalu tebarkan daun-daun kering atau jerami kering di atas pupuk kandang tersebut. Kemudian taburkan garam secukupnya pada kolam supaya airnya terasa asin. Biarkan selama 2 hari dan baru setelah itu tambahkan air ke dalam kolam.

Tahap selanjutnya adalah memilih bibit ikan nila yang dapat Anda beli di penjual bibit ikan atau pasar terdekat. Pastikan bibit ikan nila yang ditebar itu memiliki kualitas baik dan sehat. Sebaiknya ukuran bibitnya diseragamkan, yakni memiliki ukuran 8-12 cm dengan kepadatan tebarnya kira-kira 10-15 ekor per meter persegi. Adapun beberapa ciri yang menunjukkan bibit ikan nila itu bagus, diantaranya lincah berenang, tidak ada cacat fisik, kondisinya sehat dan ukuran tubuh ikannya sama (seragam).

Cara budidaya ikan nila di kolam beton yang selanjutnya mesti dilakukan ialah merawat ikan. Merawat ikan nila mesti dilakukan secara rutin, teliti dan baik. Anda harus selalu memberikan pakan untuk ikan pada setiap pagi hari dan sore hari. Berilah ikan dengan pakan yang mengandung banyak nutrisi baik. Bahkan bila perlu dalam waktu satu bulan sekali Anda dapat  memberinya pakan bervitamin.

Jangan sampai lupa untuk memperhatikan kebersihan kolam supaya ikan tidak gampang sakit. Anda dapat mempergunakan pompa untuk membuat air terus mengalir supaya pembesaran ikan nila bisa berjalan optimal. Pasalnya ikan nila merupakan ikan sungai, maka dengan mengalirkan air pada kolam tersebut akan menyebabkan ikan merasa berada dalam lingkungan habitat aslinya.

Disamping itu, Anda mesti memperhatikan penyakit yang mungkin akan menyerang ikan. Ada hal-hal yang dapat menyebabkan ikan sakit, seperti bakteri, jamur dan stres. Namun ikan pun dapat mengalami sakit dikarenakan kalah ketika memperebutkan makanan dengan ikan-ikan yang lainnya sehingga ikan menjadi kekurangan makan dan mati kelaparan.

Nah, untuk itulah Anda mesti benar-benar memperhatikan tanda penyakit pada ikan dan bila ikan sudah benar-benar terkena penyakit sebaik segera pisahkan ikan sakit tersebut pada kolam khusus (kolam karantina). Hal terakhir yang selalu ditunggu-tunggu para pembudidaya ikan atau peternak ikan adalah masa panen. Dalam cara budidaya ikan nila di kolam beton ini masa panen baru bisa dilakukan setelah proses pembesaran ikan berlangsung selama maksimal 6 bulan.

sumber:

http://urbanina.com/perikanan/ikan-nila/inilah-cara-tepat-budidaya-ikan-nila-di-kolam-beton/

Advertisements

Cara Penanganan Ikan Segar Untuk Konsumsi

Urbanina.com – Orang sudah mengetahui, ikan merupakan salah satu makanan yang mengandung protein hewani yang tinggi. Dari segi kandungan gizi, ikan merupakan salah satu makanan yang terbaik, malah lebih baik dari daging lainnya. Hanya saja ikan ini mudah sekah rusak bila telah mati. Kerusakan ini disebabkan oleh kegiatan jasad renik yang menghasilkan lendir. Ikan yang rusak dicirikan oleh bau busuk, kaku, sorot mata yang loyo, warna insang yang kelabu dan lengket serta berlendir. Kalau sudah seperti ini, kitapun akan hilang selera untuk memakannya. Yang membangkitkan selera ialah ikan segar bukan yang busuk. Karena itulah kita perlu mempertahankan kesegaran ini, sebelum siap untuk diolah. Lalu, bagaimana cara penanganan ikan segar untuk konsumsi tersebut?

Agar ikan tetap segar, ada dua cara penanganan ikan segar untuk konsumsi yang dapat kita lakukan. Pertama dengan mempertahankan ikan itu tetap hidup selama pengangkutan. Kedua, mempertahankan kesegaran ikan dalam keadaan mati sekalipun. Cara penanganan ikan segar yang pertama ini, memerlukan tempat khusus agar kandungan oksigen dalam air cukup tinggi dan perlu diperhatikan keadaan kualitas airnya seperti suhu dan sebagainya. Bagi ikan laut yang setelah ditangkap pada umumnya segera mati cara ini tidak bisa kita lakukan. Kalaupun kita lakukan, sewaktu ditangkap kemudian dipertahankan agar tidak mati tentulah tidak efisien dan praktis. Lain halnya bagi ikan air tawar.

Cara Penanganan Ikan Segar Untuk Konsumsi []

Mempertahankan kesegaran ikan dalam keadaan mati, bertujuan memperpanjang daya simpan, tidak mudah rusak dan tetap bernilai gizi tinggi. Caranya ialah dengan mencegah atau menghambat penyebab kerusakan dan reaksi kimia yang terjadi. Kita bisa melakukannya dengan merendahkan suhu, pengeringan, penggaraman, pengasapan dan pengalengan.

Penggunaan suhu rendah, umumnya sudah dilakukan oleh nelayan kita, yaitu dengan menggunakan es. Cara ini memang dapat memperpanjang daya simpan tetapi tidak lama (1-2 hari). Sebabnya, pada suhu 0°C, mikroba yang aktif pada ikan masih mampu untuk hidup dan aktif. Cara yang lebih modern lagi ialah dengan menggunakan freezer atau penyimpanan di cold storage. Dengan cara ini suhu penyimpanan dapat diatur hingga mencapai minus 18°C atau lebih.

Perlu diingat, pembekuan atau penggunaan suhu rendah ini harus didahului dengan membersihkan ikan, menghilangkan kulit atau sisiknya dan juga isi perutnya. Cara ini tidak cocok untuk ikan-ikan yang mempunyai tekstur lunak, karena kristal es yang terbentuk akan merusak tekstur ikan yang bersangkutan. Pada waktu akan dikonsumsi suhu ikan akan naik sampai sama dengan suhu kamar. Naiknya suhu ikan membuat kristal es yang terbentuk mencair dan ikan menjadi lunak atau lembek.

Pengeringan merupakan usaha menghilangkan sebagian kandungan air sampai kadar air tertentu yang dapat menghambat kegiatan mikroba dan reaksi kimia yang tidak dikehendaki. Cara yang mudah dan murah ialah dengan menggunakan sinar matahari. Biasanya proses ini dikombinasikan dengan cara penggaraman.

Penggaraman juga merupakan salah satu usaha mengawetkan ikan. Tentu saja yang dimaksud di sini bukan hanya garam, tetapi juga bahan pengawet lainnya seperti natrium nitrit, natrium nitrat, gula dan marinading (penggunaan asam cuka untuk mengawetkan ikan). Dalam penggaraman, banyaknya garam tergantung pada ukuran ikan, suhu perlakuan dan kadar garam yang dikehendaki. Kemurnian garam akan mempengaruhi mutu ikan awetan. Gunakanlah garam yang berwarna putih bersih, karena garam yang demikian mendekati kemurnian (NaCl 99%).

Cara pengawetan lainnya yaitu pengalengan. Ada beberapa macam hasil pengalengan ikan ini antara lain berupa produk asli, ikan dalam minyak tumbuh-tumbuhan, dicampur sayur, saus tomat dan ikan pasta. Dalam proses pengalengan ini yang perlu diperhatikan ialah derajat sterilisasi.

 

sumber:

http://urbanina.com/perikanan/cara-penanganan-ikan-segar-untuk-konsumsi/

TLV: Ancaman Langsung Perikanan Budidaya Indonesia

 

Artikel yang ditulis aquaculture scientist kami berikut ini adalah rangkuman materi dari acara “Seminar Pencegahan Penyakit Tilapia Lake Virus (TiLV) di Indonesia” yang diselenggarakan KKP di Jakarta, 9 Agustus 2017 lalu.

Virus TiLV pertama kali ditemukan melalui studi kematian massal ikan nila (Oreochromis niloticus) yang terjadi di Danau Kinneret, Israel. Studi tersebut dilakukan oleh Eyngor et. al.  pada tahun 2014. Virus tersebut kemudian menyebar ke negara lain secara cepat sehingga pada tahun 2017 negara yang telah terkonfirmasi terkena wabah virus TiLV pada ikan nila meliputi Israel sebagai negara awal wabah, Mesir, Ekuador, Kolombia dan Thailand (FAO 2017). Penyebaran dan kekhawatiran ancaman langsung pada sektor budidaya perikanan secara umum karena ikan nila sangat populer untuk budidaya, mempunyai sifat unggul berupa mudah dalam pembenihan, cepat tumbuh, relatif tahan serangan penyakit (sebelum ada wabah TiLV), rasa dapat diterima semua selera dan diterima pasar global karena dapat di-fillet.

Ikan nila tak hanya populer di kalangan pembudidaya ikan namun juga merupakan jenis komoditas ikan kedua paling banyak dibudidayakan setelah ikan mas (Cyprinus carpio). Indonesia saat ini produsen ikan nila terbesar kedua dunia dengan produksi per tahun mencapai 1,12 MT (Metric Tone) dibawah Cina dengan nilai 1,78MT (FAO 2017). Negara produsen ikan nila lainnya yaitu Mesir, Thailand, Laos, Honduras, Ekuador, Colombia dan Costarica. Serangan wabah terhadap budidaya ikan nila akan menyebabkan jumlah produksi perikanan budidaya berkurang drastis seperti yang terjadi ketika virus KHV (Koi Herphes Virus) menyerang budidaya ikan mas pada tahun 1998 (Nica 2013).

Gejala TiLV

Beberapa gejala wabah TiLV secara umum antara lain mata infeksi mengkerut atau membengkak, luka lecet, dan ginjal membesar. Gejala penularan muncul 10-13 hari semenjak penularan individu pertama (Eyngor 2014). Ketika budidaya ikan nila terkena wabah maka kerugian akan sangat besar karena kematian  yang ditimbulkan bisa mencapai 80-100% dari populasi pada 14 hari setelah terkena infeksi (Suracetphong et. al. 2017). Gejala serangan  virus secara umum juga mengakibatkan lumpuhnya organ olfaktori sehingga mempersulit ikan menemukan sumber pakan (Keawcharoen 2013), dengan gejala kematian terjadi pada 14 hari semenjak tertular pemberian pakan untuk meningkatkan bobot semenjak teramati gejala akan menjadi tak berarti.

Pengendalian TiLV

Tindakan pengendalian virus TiLV yang bsa dilakukan secara praktis antara lain biosecurity ikan baru datang beserta airnya (Dong et. al. 2017), mensucihamakan peralatan perikanan yang berasal dari luar, memusnahkan ikan yang terindikasi sakit dengan cara dibakar atau dikubur, pembatasan perdagangan ikan antar daerah atau antar negara, serta pengendalian perantara wabah penyakit tersebut. Karena wabah penyakit virus pada dasarnya tak bisa disembuhkan, maka prosedur vaksinasi dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan serangan wabah efektif (Jansen dan Vishnumurti 2017) selain usaha terus menerus untuk menyeleksi ikan nila tahan virus TiLV. Secara umum Standar Operasional Prosedur (SOP) Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) sudah melingkupi usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran wabah TiLV dan fasilitas karantina ikan merupakan komponen penting terutama dalam usaha budidaya pembenihan ikan nila (KKP 2007).

Pada saat ini Indonesia belum terkonfirmasi masuk ke dalam negara terkena wabah TiLV, tetapi langkah cepat dan terstruktur perlu dilakukan untuk mendiagnosa penularan  awal dan tindakan pencegahan penularan lebih lanjut. Analisa resiko perlu dilakukan bagi perusahaan yang berkonsentrasi pada produksi ikan nila, karantina ketat terhadap ikan nila yang akan masuk ke wilayah Indonesia juga perlu dilakukan, selain penyelidikan lengkap mengenai laporan wabah kematian ikan nila (terutama mencolok) yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia (BKIPM 2017).

Referensi

Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu. 2017. Keputusan Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Penetapan Tilapia Lake Virus (TiLV) Sebagai Penyakit Ikan Yang Dicegah Pemasukannya Kedalam Wilayah Negara Republik Indonesia.   http://www.bkipm.kkp.go.id/bkipmnew/public/files/regulasi/SK%20PENETAPAN%20TiLV%20SBG%20PENYAKIT%20IKAN%20YG%20DICEGAH%20MASUK%20KE%20RI.pdf
Dong, H. T., Rattanarojpong, T., Senapin, S. 2017.  Urgent Update on Possible Worldwide Spread of Tilapia Lake Virus (TiLV)https://enaca.org/?id=870&title=urgent-update-on-possible-worldwide-spread-of-tilapia-lake-virus-tilv
Eyngor M., Zamostiano R., Kembou TJE., Berkowitz A., Bercovier H., Tinman S., Lev M., Hurvitz A., Galeotti M., Bacharach E., Eldar A. 2014. Identification of a Novel RNA Virus Lethal to Tilapia. J Clin Microbiol. 2014 Dec;52(12):4137-46. doi: 10.1128/JCM.00827-14. Epub 2014 Sep 17.
Food and Agriculture Organization. 2017. Outbreaks of Tilapia Lake Virus (TiLV) Threatens the Livelihoods and Food Security of Millions People Dependent on Tilapia Farming. http://www.fao.org/fileadmin/user_upload/newsroom/docs/web_GIEWS%20Special%20Alert%20338%20TiLV.pdf
Jansen, M. D., Vishnumurthy, C.  2017. Tilapia Lake Virus (TiLV): Literature Review. Authors Mohan Affiliation, Norwegian Veterinary Institute. WorldFish
Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2007. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. Kep. 02/Men/2007 Tentang Cara Budidaya Ikan Yang Baik. https://empangqq.files.wordpress.com/2013/07/kep-02-men-2007-tentang-cara-budidaya-ikan-yang-baik.pdf
Nica, A. 2013. The Current Problem: Koi Herpher Virus. Dunarea de Jos University, Galati, Romania. http://www.uaiasi.ro/zootehnie/Pdf/Pdf_Vol_59/Aurelia_Nica.pdf.
Surachetpong, W., Taveesak, J., Nutthawan, N., Puntanat, T., Kwanrawee, S., Alongkorn A. 2017. Outbreaks of Tilapia Lake Virus Infection, Thailand, 2015–2016.
Kasetsart University, Bangkok, Thailand. Chulabhorn Research Institute, Bangkok (K. Sirikanchana); Ministry of Education, Bangkok (K. Sirikanchana). https://wwwnc.cdc.gov/eid/article/23/6/pdfs/16-1278.pdf. 2017

 

sumber tulisan:

http://efishery.com/guest-post/tlv-ancaman-langsung-perikanan-budidaya-indonesia/

Potensi Udang Pisang

 

Potensi Udang Pisang

Udang pisang, apakah itu?

Bagi sebagian sahabat pembudidaya udang, nama udang pisang mungkin pernah terlintas, atau bahkan sudah dikenal baik. Udang pisang (banana shrimp) atau yang dikenal juga sebagai udang putih adalah udang asli perairan Indonesia. Dikembangkan oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, udang yang memiliki nama latin Penaeus merguensis ini digadang-gadang berpotensi membuka peluang usaha baru sekaligus mampu menyaingi pendahulunya, yaitu vannamei dan windu karena memiliki keunggulan yang layak dibandingkan.

Menurut Sugeng Rahardjo, Kepala BBPBAP, udang pisang memiliki beberapa keunggulan, di antaranya;

  • Siklus reproduksi lebih cepat

Dalam waktu 6 bulan, udang pisang dapat mencpapai bobot 30 – 40 gram per ekor dan dapat dijadikan induk. Berbeda dengan windu yang membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk siap dijadikan indukan.

  • FCR lebih rendah

Banana shrimp masih memanfaatkan detritus dalam kolam sehingga pemberian pakan lebih hemat. Kebutuhan protein udang ini di kisaran 28 – 33%, lebih rendah dari yang dibutuhkan vannamei.

  • Lebih tahan penyakit

Setelah diuji di Jepara selama 2 tahun, udang pisang tidak menunjukkan adanya gejala-gejala, sehingga dapat dinyatakan bebas dari berbagai penyakit udang.

  • Indukan Lokal

Jika selama ini tantangan vannamei adalah karena benurnya didapat secara impor dari Hawaii, maka untuk budidaya udang pisang tidak perlu jauh-jauh. Indukan dapat ditemukan di perairan Indonesia sehingga akan lebih hemat dan lebih mudah mempersiapkan induk. Terlebih jika Balai sudah dapat memproduksi indukan dengan kualitas yang stabil.

  • Lebih menguntungkan

Udang pisang yang saat ini beredar di pasar lokal dipatok dengan harga Rp 90.000/kg dengan size 60. Harga ini lebih tinggi 10.000 dari udang vannamei dengan size yang sama.

udang pisang yang dikembangkan BBPBAP Jepara

Produksi udang pisang

Beberapa waktu yang lalu, BBPBAP Jepara baru saja memanen perdana udang pisang ini sebanyak 8 – 10 ton dari sekitar 8 kolam. Ukurannya 50 – 70 ekor/kg setelah melalui masa budidaya selama 4 bulan (padat tebar 150 ekor/m2). Selain itu juga Balai Jepara sedang berupaya untuk melakukan pembenihannya. Masih menurut Sugeng seperti yang dilansir dari majalah Trobos Aqua, hingga kini kapasitas produksi hatchery mampu menyediakan 18 juta ekor benur per tahun.

Tidak hanya Balai Jepara, Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee (Aceh) juga telah melakukan pembenihan. Dikatakan Muhamad, pengawas BPBAP Ujung Batee, budidaya udang ini sebetulnya sudah menjadi tren di Aceh semenjak 2 tahun yang lalu, tapi dengan cara tadisional. Budidaya udang pisang yang telah dilakukan oleh Balai Ujung Batee sendiri telah menghasilkan 1,5 – 3 ton per siklus dari satu kolam ukuran 3000 m2. “Saat ini sudah ada 2 kolam di Balai sehingga totalnya sekitar 4 – 5 ton udang per siklus dalam kurun waktu 4 bulan,” jelas Muhamad.

Adanya udang asli Indonesia ini berpotensi terciptanya produksi udang yang mandiri, dimulai dari penyediaan indukan yang didapat tanpa harus impor. Salam budidaya.


Sumber:

sumber tulisan:
http://efishery.com/efishery-university/kabar-budidaya/potensi-udang-pisang/

Macam-macam Udang Budidaya

Ada banyak jenis udang yang beredar di Indonesia. Baik sebagai pembudidaya dan penggemar udang, apakah Anda sudah mengenal berbagai macam udang berikut?

Udang vannamei

Udang bernama latin Litopenaeus vannamei ini adalah udang yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Meski berukuran kecil, udang vannamei relatif lebih tahan penyakit dibanding udang windu dan udang lainnya. Udang kaki putih ini juga memiliki toleransi salinitas yang cukup lebar yaitu 2 – 40 ppt sehingga mudah beradaptasi.

Di berbagai belahan dunia, vannamei dikenal dengan sebutan udang putih Pasifik (Pacific white shrimp) atau raja udang (king prawn).

Udang windu

Sebelum banyak terjangkit penyakit bintik putih (white spot), udang windu adalah primadona udang budidaya di Indonesia. Udang windu betina memiliki panjang hingga 33 cm, bobot 200 – 300 gram. Udang windu jantan panjangnya 25 cm dengan bobot 100 – 170 gram. Ukurannya yang besar menjadi favorit konsumen karena memiliki daging yang banyak.

Udang windu (Penaeus modon) ini dikenal juga dengan nama tiger giant/black tiger/tiger prawn. Ciri fisiknya adalah berkulit tebal dan keras. Warnanya hijau kebiruan dengan garis gelap melintang meski ada pula yang berwarna merah dengan garis coklat kemerahan.

Udang galah

Udang berukuran besar ini memiliki ciri khas yang sangat mudah dikenali, yaitu sepasang capit yang panjang dan besar, terutama pada udang galah jantan. Ciri lainnya adalah kepalanya yang berbentuk kerucut, badannya memanjang serta melengkung ke atas. Berukuran 30 cm, tidak heran udang ini menjadi udang terbesar di antara udang tambak dan dikenal dengan nama giant river prawn.

udang galah

Udang galah memiliki nama latin Macrobrachium rosenbergii dan memiliki warna yang bermacam, ada yang biru kehijauan, hijau kecoklatan, kuning kecoklatan, dan bercak-bercak seperti udang windu. Udang galah kurang menjadi favorit petani karena perawatannya cukup sulit, ditambah udang ini bersifat kanibal. Namun, pada beberapa sentra produksi, udang galah tetap dibudidayakan karena harga jualnya yang cukup tinggi dan mampu menembus pasar ekspor ke Jepang dan negara-negara Eropa. Sentra produksi udang galah sebagian besar terletak di pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur).

Udang jerbung

Dikenal dengan nama white shrimp/udang putih. Kulitnya berwarna putih dengan bintik yang berbeda-beda sesuai jenisnya, ada yang bintik hijau, kuning, dan hitam. Terdapat 3 jenis udang cerbung yaitu udang peci, udang bambu, dan udang pisang.

udang jerbung

Udang peci (white shrimp) memiliki warna kulit lebih gelap dan berbintik hitam. Udang bambu (bamboo shrimp) mendapatkan namanya karena warnanya kuning bercak merah seperti bambu. Udang pisang (banana shrimp) memiliki warna kulit yang kekuningan.

Udang yang bernama latin Penaeus merguiensis ini sudah banyak dibudidayakan secara tradisional di beberapa daerah di Indonesia, terutama di Aceh dan Sumaterta Utara. Saat ini pengembangan budidaya udang ini tidak hanya di dua daerah tersebut tapi juga di Jawa Barat, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Udang barong

Udang yang bernama latin Panulirus sp ini lebih dikenal dengan sebutan “lobster”. Ukurannya besar, kulitnya keras, dan memiliki warna hijau, coklat, coklat kemerahan, dan hitam kebiruan. Produksi udang ini tersebar di Sumatra Utara, Jawa Timur, Bali, NTB, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Timur.

lobster

Selain udang-udang terkenal di atas, ada pula jenis udang lain yang tidak sepopuler udang di atas, yaitu:

  • Udang flower

Disebut flower (bunga) karena corak warnanya yang seperti bunga dengan warna hijau kehitaman dengan garis melintang coklat, kulit, dan kakinya agak kemerahan. Udang ini diketahui memiliki harga yang fantastis karena sulit didapatkan di lautan. Udang ini dikenal juga dengan sebutan tiger flower.

udang bunga

  • Udang kucing

Udang kucing atau cat prawn berukuran kecil dengan warna hijau dan garis melintang kuning dan putih. Ada juga yang berwarna kuning dengan garis melintang coklat dan putih.

udang kucing

  • Udang kipas

Udang ini seperti udang barong/lobster hanya saja ukurannya lebih kecil, kulitnya lebih lunak, dan kasar. Kulitnya bewarna kecoklatan dengan garis melintang. Dikenal juag dengan sebutan “baby slipper lobster”.

udang kipas

  • Udang rostris

Udang ini masih satu kelompok dengan vannamei yang bisa dilihat dari nama latinnya, yaitu Litopenaeus styliorostris. Pembesaran udang ini dapat dilakukan pada metode intensif dengan sistem tertutup. Sentra lokasi budidaya ini berada di Aceh dan NTB.

udang rostris

  • Udang api-api

Udang ini memiliki berbagai nama lain, seperti udang dogol, udang dugul, udang kayu, udang werus, udang kupas, dan sebagainya. Dalam dunia perdagangan, udang ini disebut endeavour prawn. Awalnya, Metopenaeus monoceros ini adalah udang tangkap yang memiliki fungsi dalam siklus rantai makanan di ekosistem mangrove.

udang api-api

  • Udang hias

Selain udang konsumsi, udang hias juga banyak dibudidayakan karena keindahannya. Jenis udang hias ini ada red cherry (warna merah transparan), yellow fire (kuning), dan red rili (mirip dengan red cherry, lebih transparan). Ukuran udang hias ini jauh lebih kecil dibandingkan udang-udang konsumsi.

udang yellow fire


Sumber:

sumber tulisan:

http://efishery.com/direktori-perikanan/macam-macam-udang-budidaya/

Azolla: Protein Nabati Bagi Ikan

Ada banyak jenis pakan alternatif yang bisa dimanfaatkan pembudidaya untuk mengganti (sebagian atau seluruh) pakan pelet pabrikan. Salah satunya adalah tanaman Azolla microphylla, tanaman paku air berukuran 2 cm yang biasanya tumbuh alami di area rawa-rawa atau persawahan.

Azolla, yang kadang disebut “kiyambang” atau “mata lele” ini, dapat diperbanyak juga dengan mudah menggunakan peralatan yang ada. Setelah itu, Azolla segar dapat langsung diberikan pada ikan atau diproses lebih lanjut dengan fermentasi (menjadi tepung Azolla) dan dibuat pelet. Azolla mengandung protein sekitar 30% sehingga cocok untuk pakan ikan lele, nila, gurame, ataupun tawes.

Cara Budidaya Azolla

  1. Siapkan wadah pembiakkan. Idealnya adalah kolam tanah karena menyerupai habitat asli Azolla, tapi ember, nampan, atau kolam terpal dapat digunakan sebagai wadah.
  2. Pada wadah selain kolam tanah, campurkan tanah dan pupuk kandang (70% : 30%) dengan ketebalan sekitar 5 cm. Pupuk kandang dapat diganti dengan bahan alami yang memiliki fungsi sama, seperti MOL (mikroorganisme lokal).
  3. Isi wadah pembiakkan dengan air dengan ketinggian 5 – 15 cm dari media tanah di bawah.
  4. Biarkan selama 2 minggu sampai pupuk terfermentasi dengan baik (ditandai dengan hilangnya bau amonia)
  5. Tebar bibit Azolla sebanyak 50 – 70 gr/m2.Pastikan Azolla dalam wadah pembiakkan terpapar sinar matahari cukup.
  6. Diamkan sekitar 2 minggu sambil menjaga ketinggian air (jangan sampai kering).
  7. Azolla siap dipanen.
  8. Untuk pemberian langsung, Azolla sebaiknya diangin-anginkan terlebih dahulu agar mengurangi kandungan airnya (tapi tidak dijemur), baru kemudian diberikan pada ikan.

Saat ini cukup banyak penjual bibit Azolla sehingga sahabat pembudidaya sekalian dapat membelinya dengan mudah. Salah satu penjual membanderol bibit Azolla-nya dengan harga Rp 100.000 per 2 kg.

Proses lebih lanjut dengan fermentasi bertujuan untuk menurunkan serat kasar pada Azolla sehingga akan lebih mudah dicerna ikan.

Cara Fermentasi Azolla

  1. Bahan yang diperlukan adalah Azolla segar, dedak/bekatul, dan tepung ikan dengan perbandingan 70 : 20 : 10. Campurkan bahan tersebut secara merata.
  2. Tambahkan biang Trichoderma sebanyak 10 gram untuk 1 kg bahan tersebut. Anda bisa juga menggunakan probiotik EM4 dan tetes tebu. Untuk fermentasi menggunakan EM4, Azolla disemprot terlebih dahulu dengan campuran probiotik EM4 dan tetes tebu, baru kemudian dicampur dengan tepung dan dedak.
  3. Masukkan semua bahan ke dalam plastik atau karung kedap air, ikat sampai rapat.
  4. Diamkan agar terjadi proses fermentasi selama 3-4 hari (atau bisa sampai 7 hari).
  5. Campuran fermentasi Azolla dapat langsung diberikan sebagai pakan atau dibentuk pelet menggunakan mesin.

 

Hitung Untung dengan Pakan Azolla

Beberapa pembudidaya sudah mempraktekkan pemberian Azolla ini pada ikannya. Hasilnya, biaya produksi terbukti bisa ditekan sampai sekitar 20%. Menurut apa yang dialami Suminto, peternak lele di Banjarnegara, beliau bisa menghemat biaya pakan sebesar 2,2 juta. “Untuk mencapai ukuran konsumsi ‘sekilo 8’, memerlukan 1300 kg pelet Azolla dengan harga Rp 6.000/kg (Rp 7,8 juta/siklus). Sedangkan jika menggunakan pelet pabrikan yang harganya Rp 10.000/kg, diperlukan 1000 kg, maka per siklusnya dikeluarkan Rp 10 juta,” jelasnya.

Masih di Banjarnegara, Udiono pembudidaya nila membuktikan bahwa menggunakan pakan Azolla dapat menurunkan FCR menjadi 0,9. Ada pula pembudidaya lele di Palu yang berhasil menekan biaya produksi sampai 40% dengan menggunakan Azolla segar sebagai pengganti penuh pakan pabrikan.

Variasi praktek budidaya seperti di atas tentu tidak langsung menuai sukses, yang terpenting adalah terus mencoba dan menerapkan yang terbaik bagi budidaya masing-masing. Apakah Anda siap mencoba?


SUMBER

Berita penggunaan Azolla:

http://www.bibitikan.net/gunakan-rumput-azolla-petani-lele-palu-menghemat-40-persen-biaya-produksi/
http://kolamazolla.blogspot.co.id/2014/12/pelet-azolla-menghemat-pakan-pabrikan.html
http://www.trobos.com/detail-berita/2014/05/15/15/4545/kombinasi-pelet-%E2%80%93-azolla-tekan-biaya-pakan

 sumber:

Peran Probiotik Dalam Budidaya Ikan

Perikanan adalah sektor ekonomi yang memberikan kontribusi besar dalam upaya membangun kesejahteraan masyarakat. Sebagai Negara yang sedang berkembang, kebutuhan akan produk pangan bernilai gizi tinggi selalu meningkat. Oleh karena itu, sektor perikanan harus mendapat perhatian serius. Permintaan produk olahan ikan baik domestik maupun luar negeri meningkat dari tahun ke tahun. Sektor perikanan dapat dikembangkan di kolam atau tambak-tambak dengan menggunakan media air tawar atau air laut. Dan, kita memiliki aset kelautan yang begitu luas yang mendukung sektor perikanan.
  Untuk meningkatkan produktifitas sektor perikanan, perlu dilakukan budidaya secara intensif yaitu dengan pemberian pakan yang berkualitas dan jumlah yang cukup, pencegahan dan penanganan penyakit pada ikan, serta manajamen kolam secara baik. Budidaya ikan secara intensif ditandai oleh tingkat kepadatan ikan yang tinggi dan ketergantungan penuh terhadap pakan buatan pabrik. Hal ini sangat mendukung percepatan penurunan  kualitas air. Padat tebar ikan per volume ruang yang tinggi menyebabkan meningkatkan persaingan kebutuhan oksigen dan buangan hasil pencernaan pakan. Dan, kualitas pakan rendah, kandungan protein yang rendah memperlambat proses pertumbuhan, memperburuk konversi pakan sehingga meningkatkan sedimen dasar kolam oleh sisa pakan.
Dalam usaha budidaya ikan, maka hal yang sangat menentukan keberhasilan adalah perawatan ikan dan pencegahan, serta penanganan penyakit. Wabah penyakit dapat mengakitbatkan usaha budidaya ikan menjadi gagal, dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Oleh karena itu pentingnya mengendalikan penyakit pada ikan secara efektif dan efesien. Kita perlu mengenal jenis-jenis penyakit pada ikan, dan bagaimana penanggulangannya.
Salah satu jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri aeromonas hydrophila mampu menyerang ikan dan menyebabkan kematian ikan secara massal dalam waktu singkat. Aeromonas merupakan bakteri gram negatip yang  oportunis yang dapat menginfeksi ikan dengan cepat apabila ikan dalam kondisi stres atau dipelihara dalam kepadatan tinggi. Umumnya, tindakan pengobatan dilakukan melalui pemberian bahan kimia dan antibiotika. Pemberian antibiotika seringkali menimbulkan resistensi dan pemberian bahan kimia berpotensi meracuni ikan. Vaksinasi merupakan tindakan yang banyak dilakukan untuk pencegahan infeksi aeromonas. Terhadap benih ikan dilakukan perendaman dalam larutan vaksin hidrovet (biakan murni bakteri aeromoas hydrophila).
Penyakit koi herpes virus (KHV) merupakan penyakit yang sangat cepat menyebar. Penyakit ini disebabkan oleh virus herpes yang diklasifikasikan sebagai virus DNA dan termasuk dalam famili herpesviridae. Pada populasi ikan yang peka tingkat mortalitas akibat serangan KHV dapat mencapai 80 – 100 %. Gejala klinis pada ikan biasanya terlihat pada kisaran suhu air 22 – 27 C. Sejauh ini belum ada pengobatan yang ampuh untuk mengendalikan penyakit KHV.
Pada penyakit yang disebabkan oleh bakteri biasanya ditanggulangi melalui pemberian antibiotika dengan dosis pengobatan. Tetapi langkah pengobatan yang di antaranya dengan pemberian quinolone, ataupun tetrtacycline acapkali tidak efektif jika diberikan langsung di kolam karena salah satunya takaran dosis yang tidak tepat. Pemberian lewat pakan langsung dari pabrik mungkin lebih efektif tetapi penggunaan seperti itu biasanya tidak dibenarkan dan skala pabrik adalah skala massal. Penggunaan antibiotika dalam pakan dengan dosis preventif yang dilakukan dalam jangka panjang menimbulkan resistensi dan belum lagi memperhitungkan dampak residu dalam daging. Oleh karena itu langkah tepat dalam upaya meminimalkan potensi serangan penyakit adalah dengan melakukan manajemen pemeliharaan yang baik khususnya memelihara kualitas air dan lingkungan ekosistem yang mendukung pertumbuhan ikan secara optimal.
Aplikasi pemberian antibiotik dalam budidaya perikanan untuk mengendalikan infeksi mikro organisme pathogen telah meningkatkan potensi penggunaan probiotik perlu dipertimbangkan secara hati-hati. Selain menggunakan antibiotic untuk mengatasi penyakit pada ikan, kita dapat pula menggunakan probiotik untuk mencegah berkembangnya penyakit pada ikan. Probiotik merupakan mikroorganisme yang mempunyai sifat menguntungkan bagi hewan inang, sehingga berperan menekan pertumbuhan populasi mikroorganisme pathogen (bakteri yang merugikan).
Bakteri probiotik yang umumnya digunakan adalah bakteri gram positif diantaranya adalah genus Lactobacillus. Bakteri lactobacillus sp. merupakan jenis bakteri yang menghasilkan asam laktat. Probiotik banyak digunakan dalam budidaya perikanan untuk tujuan memelihara dan memperbaiki kesehatan air yang secara tidak langsung akan meningkatkan kesehatan ikan peliharaan. Mikroorganisme yang dapat digunakan sebagai probiotik tidak hanya berasal dari golongan bakteri (Bacillus,Thiobacillus) tetapi juga berasal dari golongan yeast (Sacharomices cerevicae) dan mikro-alga (Tetraselmis sp). Terkadang probiotik yang diindikasikan mengandung beberapa bakteri spesies Clostridium, Pseudomonas dan Enterococcus sebenarnya bersifat pathogen terhadap manusia dan hewan.
Probiotik mampu mengubah keseimbangan mikro flora yang ada dalam saluran pencernaan. Probiotik bisa terdiri atas satu atau campuran (mix) beberapa kultur mikro organisme hidup. Probiotik merupakan makanan tambahan bagi hewan inang berupa sel mikro organisma (mikroba) atau sebagai pakan mikroskopik yang bertujuan memenangkan kompetisi dalam sistem saluran pencernaan ikan (hewan inang) dengan bakteri merugikan (pathogen). Kompetisi tersebut berlangsung dalam hal pemanfaatan nutrisi yang berasal dari hasil metabolisme pakan dan upaya penempatan ruang dalam saluran pencernaan untuk membentuk koloni.
Kualitas air sangat menentukan performansi ikan yang biasanya diukur dengan mengamati beberapa parameter utama seperti faktor fisika (pH, O2 terlarut, suhu, Fe, Hg, dll) dan faktor kimia (NH3, NO2, CaCO3 dll). Kualitas air yang buruk (tidak mendukung kesehatan ikan) banyak disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya meningkatnya timbunan bahan organik di dasar kolam yang berasal dari ekskreta ikan, sisa pakan pabrik, pupuk organik maupun bangkai ikan dan sampah budidaya lainnya. Hal ini juga dapat diperparah oleh sistem budidaya perikanan yang tingkat kepadatan yang tinggi yang memicu peningkatan stres ikan. Manajemen pengelolaan air yang baik sangat diperlukan untuk tetap mempertahankan ekosistem yang mendukung usaha budidaya ikan. Pemberian probiotik mampu memperbaiki kondisi kualitas air dengan bertindak sebagai agen pengurai yang ditebarkan secara langsung ke air. Pengendalian penyakit pada budidaya ikan dengan menggunakan probiotik sangat efektif, aman dan murah.
Probiotik akan bekerja secara eksternal yaitu menguraikan senyawa toksik yang terdapat dalam air kolam seperti NH3, NO3, NO2, juga menguraikan bahan organik, dan menekan populasi alga biru hijau. Beberapa jenis mikroba sebagai probiotik pengurai antara lain nitrosomonas, cellumonas, bacillus subtilus, dan nitrobacter. Bakteri gram positip Bacillus sp. banyak digunakan sebagai probiotik untuk memperbaiki kualitas air dibandingkan dengan jenis bakteri gram negatip. Bacillus sp. lebih efisien dalam mengkonversikan kembali bahan organik menjadi CO2. Sedangkan bakteri gram negative mengkonversi karbon organik menjadi biomas bakteri dalam persentase lebih banyak. Sehingga dengan mengupayakan populasi bakteri Bacillus sp. tetap dalam jumlah besar di dalam perairan kolam akan meminimalkan pembentukan partikulat terlarut karbon organik selama siklus budidaya. Sekaligus juga akan memacu perkembangan phytoplankton dengan meningkatnya produksi CO2.
Populasi dan jenis mikroorganisme (mikro flora) yang terdapat di dalam sedimen atau dalam air pemeliharaan ikan sangat dipengaruhi oleh jenis mikroba yang terdapat dalam feses yang dihasilkan banyak spesies hewan di lingkungan tersebut. Jika terdapat populasi bakteri pathogen dalam lingkungan, maka populasinya dalam tubuh ikan akan meningkat dengan cepat melalui interaksi dalam saluran pencernaan dan dalam feses. Bakteri tersebut akan terserap ke dalam pakan yang diberikan sebelum dikonsumsi ikan. Sedangkan, probiotik yang ditambahkan ke dalam air juga akan diserap oleh pakan dan ikut masuk ke dalam sistem pencernaan untuk berkompetisi dengan bakteri pathogen.
Adanya suplai nutrisi yang berlebihan di dalam air khususnya fosfor dan nitrogen menyebabkan meningkatnya populasi ganggang (alga) atau (phytoplankton). Unsur nutrisi tersebut dapat berasal dari sisa pemupukan di lahan pertanian yang terbawa arus air, pemupukan dasar kolam dengan menggunakan pupuk kandang secara berlebihan, atau sisa kelebihan pakan yang tidak termakan oleh ikan. Ganggang menyebabkan perubahan warna permukaan air, kebanyakan berwarna hijau atau warna merah, dan kuning kecoklatan. Populasi ganggang yang tinggi apabila mati akan didekomposisi oleh bakteri pengurai yang menggunakan lebih banyak oksigen terlarut dalam air. Menurunnya kadar oksigen dalam air menyebabkan bakteri vibrio yang bersifat pathogen menjadi lebih aktif dikarenakan kondisi yang anaerob yang dapat membahayakan kesehatan ikan. Rendahnya oksigen terlarut dalam air menimbulkan kendala yang besar bagi kelangsungan kehidupan ikan
Peranan probiotik dalam budidaya akuakultur adalah: 1). Menekan populasi mikroba yang bersifat merugikan yang berada dalam saluran pencernaan dengan cara berkompetisi untuk menempati ruang (tempat menempel) dan kesempatan mendapatkan nutrisi; 2). Menghasilkan senyawa anti mikroba yang secara langsung akan menekan pertumbuhan mikroba pathogen dan mencegah terbentuknya kolonisasi mikroba merugikan dalam sistem pencernaan hewan inang; 3). Menghasilkan senyawa yang bersifat imunostimulan yaitu meningkatkan sistem imun ikan (hewan inang) dalam menghadapi serangan penyakit dengan cara meningkatkan kadar antibodi dan aktivitas makrofag, misalnya lipo polisakarida, glikan dan peptidoglikan; 4). Menghasilkan senyawa vitamin yang bermanfaat bagi hewan inang (yang diberikan probiotik) dan secara tidak langsung akan menaikkan nilai nutrisi pakan. Probiotik adalah bahan hidup yang seperti halnya antibiotik bekerja secara spesifik dan khusus. Demikian halnya, mikro organisma dalam probiotik sangat rentan terhadap kondisi situasi fisika dan kimia dalam saluran pencernaan hewan inang dan kondisi perairan. Lingkungan yang tidak cocok akan membunuh mikro organisma dalam probiotik dan dengan demikian tidak memungkinkan untuk berkompetisi dengan mikro organisma pathogen. Oleh karena itu kapasitas spesies mikro organisme yang digunakan sebagai probiotik apakah dalam bentuk tunggal atau campuran menjadi sangat penting yang menentukan keampuhan probiotik.
Probiotik yang digunakan harus memiliki persyaratan khusus untuk dapat bekerja secara efektif adalah berikut:
  1. Mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan (fisika dan kimia) dan hewan inang.
  2. Mampu bertahan hidup pada suhu rendah dan konsentrasi asam organik yang tinggi di saluran pencernaan, juga terhadap cairan pankreas dan empedu yang dihasilkan di saluran usus halus bagian atas.
  3. Tidak bersifat pathogenik dan menghasilkan senyawa toksik yang merugikan hewan inang.
  4. Mampu hidup dan bermetabolisme dalam saluran usus hewan inang
  5. Dapat diproduksi dalam skala besar (industri) dengan kualitas dan kuantitas yang terjaga dan terukur.
Sebagaimana antibiotic, probiotik juga tidak dapat diharapkan mengendalikan semua jenis bakteri yang ada di dalam sistem pencernaan ikan ataupun yang terdapat di lingkungan air. Efektivitas probiotik sangat tergantung pada jenis bakteri yang digunakan karena populasi bakteri yang hidup pada suatu lingkungan dengan kondisi fisika kimia berbeda kemungkinan akan berbeda pula. Akan lebih efektif apabila probiotik menggunakan jenis mikroorganisme indigenous (asli) yaitu yang diperoleh berasal dari saluran pencernaan dan lingkungan yang sama / mirip dengan hewan inang, diharapkan mampu beradaptasi dengan lokasi perlakuan dibandingkan jika mikroorganisma diperoleh dari lingkungan yang berbeda.
Efektifitas probiotik tidak dapat dirasakan seketika atau memberikan perbaikan / penyembuhan dalam waktu singkat. Kemanjuran probiotik membutuhkan waktu meskipun tidak berarti bahwa penggunaan probiotik tidak pernah gagal. Kegagalan probiotik bisa terjadi karena disebabkan oleh berbagai hal di antaranya salah penggunaan aplikasi di lapangan, cara penyimpanan probiotik yang salah mengakibatkan menurunnya viabilitas mikroorganisma. Jenis bakteri yang digunakan mungkin saja tidak sesuai dengan kondisi hewan inang, dosis yang digunakan tidak memadai atau kepadatan populasi bakteri dalam probiotik terlalu rendah.
Cara kerja mikro organisma probiotik dalam kaitannya dengan bakteri pathogen meliputi berbagai model yaitu dengan cara menghasilkan senyawa penghambat, berkompetisi terhadap ketersediaan unsur kimia maupun energi, berkompetisi untuk memperoleh tempat perlekatan, meningkatkan respon imun hewan inang, memperbaiki kualitas air lingkungan budidaya, berinteraksi dengan phytoplankton, sebagai sumber nutrisi mikro dan makro, serta menghasilkan enzym untuk meningkatkan kecernaan.
Mikroba pada umumnya dapat melepaskan substansi kimia yang bersifat baktrerisidal ataupun bakteriostatik terhadap populasi mikroba yang lain. Adanya substansi penghambat kimia yang terdapat di dalam saluran pencernaan, di permukaan tubuh inang atau di dalam media pemeliharaan ikan akan menciptakan semacam rintangan untuk mencegah perbanyakan dari bakteri pathogen. Efek anti-bakterial disebabkan oleh produksi beberapa faktor yang bertindak secara sendiri atau dalam kombinasi dari antibiotik, bakteriosin, sideophores, lysozyme, protease dan atau hidrogen peroksida. Produksi asam organik oleh bakteri akan merubah nilai pH. Koloni bakteri yang menempel di dinding saluran pencernaan dengan ekskresi senyawa penghambatnya akan mencegah kolonisasi dan perbanyakan bakteri pathogen di tempat yang sama. Perlekatan bakteri ke permukaan jaringan merupakan tahapan awal dari infeksi pathogenik sehingga kerja bakteri probiotik yang berkompetisi ruang dengan bakteri pathogen menjadi sangat penting untuk pencegahan penyakit. Perlekatan bisa bersifat non spesifik didasarkan atas faktor psikokemis atau bersifat spesifik melibatkan molekul pelekat di permukaan bakteri pelekat dan molekul reseptor dari sel – sel epithel.
Penambahan probiotik apakah via pakan atau ditambahkan ke dalam air apabila diberikan dalam jumlah yang tepat dan jenis mikro organisme yang cocok akan memberikan pengaruh positip bagi performansi ikan yang dipelihara.Selamat berwirausaha! Semoga sukses selalu menanti anda!
sumber:
Kontak:
Agrotekno Sarana Industri
085741862879
Jual Aneka Mikroba: Aspergillus niger, Aspergillus sojae, Aspergillus oryzae, Lactobacillus sp. saccaromyces sp, Acetobacter xylinum, dll