INFO DUNIA PERIKANAN

Blog Stats

  • 77,555 hits

Start here

Hiu Paus Dalam Legenda Nelayan Indonesia

 

Hiu Paus

Hiu Paus, spesies ikan terbesar. (Foto: Thinkstock/Mihtiander)

Kehadian hiu paus sudah lama ada di perairan Indonesia. Perairan Indonesia merupakan jalur migrasi mereka. Tak heran juga kalau hiu paus menjadi salah satu cerita legenda dalam masyarakat nelayan Indonesia.
Dikutip dari panduan monitoring Hiu Paus yang diterbitkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Senin (13/2) hiu paus atau ‘Gurano Bintang’ dianggap sebagai hantu laut oleh masyarakat di Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC). Di kawasan ini, hiu paus ada setiap tahun.
Ketika hiu paus muncul, maka nelayan akan mematikan mesin dan tinggal diam di dalam perahu sampai hiu paus lewat. Kemunculan hiu paus juga dipercaya sebagai pertanda bahwa akan ada kedukaan (orang meninggal). Namun sejak hiu paus menjadi atraksi wisata, masyarakat mulai menganggap hiu paus sebagai ikan yang bersahabat.
Dahulu hiu paus di kawasan TNTC hanya melintas saja. Namun ketika masyarakat membuat bagan ikan, hiu paus menetap. Mereka tertarik dengan ikan-ikan kecil di dekat bagan.

Hiu Paus

Hiu Paus. (Foto: Thinkstock/Crisod)

Tak hanya itu saja, kemunculan hiu paus oleh nelayan bagan yang biasanya berasal dari suku Bugis, Buton, dan Makassar juga dianggap sebagai pertanda baik karena kemunculannya biasa diikuti oleh ikan-ikan pelagis kecil yang menjadi target bagan.
Di Probolinggo, masyarakat mengeramatkan hiu paus yang dipercaya sebagai penunggu pantai Utara. Hiu paus yang biasa dipanggil “Kikaki” dipercaya menjadi kendaraan nenek moyang masyarakat Probolinggo bila pergi ke tanah leluhur di Pulau Madura.
Masyarakat tidak berani menangkap hiu paus karena dianggap akan mendatangkan petaka. Saking menghormati hiu paus, bahkan pada tahun 2010, dua ekor hiu paus yang terdampar dan mati dikuburkan dengan ritual. Sampai sekarang makamnya masih dapat ditemukan di Desa Randu Putih.
Sementara itu, masyarakat Bajo di Lamalera percaya bahwa hiu paus atau “Kareo Dede” adalah ikan yang dijaga oleh dewa dan dapat melindungi atau membantu nelayan pada saat dibutuhkan. Oleh karena itu, masyarakat Bajo tidak memburu hiu paus dan jika tidak sengaja tertangkap pun, harus segera dibebaskan.

 

sumber:

https://kumparan.com/indra-subagja/hiu-paus-dalam-legenda-nelayan-indonesia

Bakau (Rhizophora apiculata)

Nama setempat Lenro, bakau
Deskripsi umum Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter, dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah
Daun Berkulit, warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: elips menyempit. Ujung: meruncing. Ukuran: 7-19 x 3,5-8 cm.
Bunga Biseksual, kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. Letak: Di ketiak daun. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). Daun mahkota: 4; kuning-putih, tidak ada rambut, panjangnya 9-11 mm. Kelopak bunga: 4; kuning kecoklatan, melengkung. Benang sari: 11-12; tak bertangkai
Buah Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir, warna coklat, panjang 2-3,5 cm, berisi satu biji fertil. Hipokotil silindris, berbintil, berwarna hijau jingga. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. Ukuran: Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm
Ekologi Tumbuh pada tanah berlumpur, halus, dalam dan tergenang pada saat pasang normal. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. Tumbuh lambat, tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun
Penyebaran Sri Lanka, seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik
Kelimpahan Melimpah di Indonesia, tersebar jarang di Australia
Manfaat Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan, kayu bakar dan arang. Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (persen berat kering). Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan

 

Referensi:

Environmental Assessment Report Lalang Oilfield Development Sumatera Indonesia Volume 1 – Hudbay Oil (Malacca Strait) Ltd tahun 1983

Studi Evaluasi Dampak Lingkungan Pengembangan Lapangan Minyak Melibur Volume II – Hudbay Oil (Malacca Strait) Ltd. Tahun 1991

Yus Rusila Noor, M. K. (1999). Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor: Wetlands International Indonesia Programme

 

Sumber gambar:

http://eol.org/data_objects/31916576

 

PEMIJAHAN IKAN GUPPY (Poecilia reticulata)

guppy fish

Guppy merupakan salah satu jenis ikan hias yang sangat menarik dan cantik. Corak warna-warninya yang menonjol dan sirip ekornya yang lebar menambah kecantikan yang khas bagi ikan guppy itu sendiri. Ikan guppy ini juga sangat mudah untuk dikembangbiakkan, sehingga menjadikan guppy bukan hanya sekedar ikan pajangan, namun juga merupakan lahan usaha yang produktif.

Guppy termasuk ikan yang sangat mudah dipijahkan. Sepasang induk jantan dan induk betina yang ditempatkan di dalam akuarium sudah dapat menghasilkan keturunan. Namun, kendala yang sering dihadapi oleh para pembudidaya guppy ini, yaitu terserangnya penyakit yang bisa menyebabkan kerugian bagi petani.

Penyakit yang menyerang ikan guppy di dalam akuarium disebabkan oleh beberapa faktor, ada beberapa faktor yang merupakan penyebab dan cara penularan penyakit ikan dalam akuarium, diantaranya yaitu :

  1. Faktor yang berasal dari kondisi air (kepekatan, keracunan)
  2. Faktor yang berasal dari sinar (terlalu tajam, kurang kuat, suhu)
  3. Faktor filter (kotoran tak tersedot, keracunan, pH, air)
  4. Faktor yang berasal dari pompa udara (O2, sirkulasi air, suhu air)
  5. Faktor kepadatan ikan di dalam akuarium (O2, suhu dan kotoran)
  6. Faktor tanaman dalam akuarium (O2, kotoran, ruang gerak ikan)
  7. Faktor pergantian air, sanitasi

  

Sistematika

Sistematika ikan guppy menurut Dr. Herbert R. Axelord dalam Heru Susanto adalah sebagai berikut:

  • Filum            : Chordata
  • Subfilum          : Craniata
  • Superklass       : Gnathostomata
  • Klass            : Osteichthyes
  • Subklass          : Actinopterygii
  • Superordo      : Teleostei
  • Ordo          : Cyprinodontoidai
  • Subordo         : Peocillidea
  • Famili          : Peocillidae
  • Genus           : Poecillia / Lebistes
  • Spesies            : Poecillia reticulata

 

Ciri-ciri Ikan Guppy

Jenis dan varietas ikan guppy setiap tahunnya bertambah. Namun demikian warna dasar badan guppy yang asli berwarna kecoklatan, dengan variasi warna sisik di samping badannya serupa pelangi. Bentuk sirip ekor ikan guppy lebar, sehingga menambah kecantikan ikan guppy itu sendiri. Kalau dilihat sekilas ikan guppy mirip burung merak yang mempunyai ekor memukau.

Tanpa sirip ekornya, guppy tidak berarti apa-apa. Karena sirip ekornya yang membuat badan sebelah depannya biasa-biasa saja menjadi lebih unik. Ikan guppy betina mempunyai ukuran tubuh 7 cm, sedangkan guppy jantan berukuran 4 cm.

 

Habitat dan Penyebaran

Di alam aslinya ikan ini hidup di dua jenis perairan yang berbeda, yaitu air payau, dan air tawar. Menurut Dr. Herber R. Axelord dalam Bambang dan Donny, salinitas yang baik untuk guppy berkisar antara 0,5 – 1 ppt. Ikan guppy dapat ditemukan di perairan Indonesia dengan mudah, yang lebih dikenal dengan nama ikan seribu.

Ternyata guppy yang kelihatan kecil dan lemah berasal dari perairan mengalir, itulah sebabnya apabila ditempatkan di akuarium ikan ini tidak mau diam. Bila kita perhatikan dalam akuarium, ikan lebih banyak menempati bagian permukaan air dari pada di bagian tengah dan dasar akuarium.

  

Pemilihan Induk

Ada beberapa faktor yang dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam memilih calon induk berkualitas, diantaranya sebagai berikut:

  1. Tubuh tidak cacat dan tidak terdapat penyakit
  2. Gerakannya lincah dan gesit
  3. Nafsu makan tinggi
  4. Bagian perut calon induk betina membesar
  5. Panjang total tubuh induk betina minimal 4 cm dan jantan 3,5 cm
  6. Warna tubuh dan sirip cemerlang dan corak jelas
  7. Tipe sirip ekor calon induk sama.

 

Teknik Pemijahan

Guppy dapat dipijahkan secara massal. 1 ekor guppy jantan dapat mengawini 5-10 ekor guppy betina. Induk jantan dan betina disatukan pada pagi  hari pukul 07.30-08.00 atau sore hari pukul 16.30-17.00, karena pada saat tersebut suhu tidak terlalu tinggi.

Induk guppy yang telah disatukan biasanya akan memijah pada pagi hari hingga matahari terbenam. Guppy jantan akan mengejara dan mengikuti guppy betina matang kelamin berenang. Selanjutnya induk guppy jantan akan melakukan penetrasi dan spermanya akan dikeluarkan di dalam tubuh induk betina. Selang waktu antara kelahiran berkisar 15- 20 hari. Satu ekor induk betina akan menghasilkan sebanyak 25-30 ekor burayak berukuran sekitar 3,5-4 mm.

 

Pemeliharaan Larva

Larva ikan guppy dipelihara di dalam akuarium. Untuk akuarium berukuran 150 cmx75 cmx75 cm dengan ketinggian air minimal 50 cm, dapat menampung benih guppy sebanyak 3.500-4.000 ekor. Benih ikan guppy dapat dipisahkan dari induknya  pada saat guppy telah berumur 7-10 hari. Waktu yang tepat memindahkan larva guppy yaitu pada pagi hari pukul 07.00-09.30.

 

Pemberian pakan

Pakan yang diberikan kepada guppy disesuaikan dengan umurnya. Burayak guppy yang berumur di bawah satu bulan sebaiknya diberi kutu air. Setelah burayak berumur satu bulan, pakan yang diberikan adalah pakan yang banyak mengandung Crude Oil. Jenis pakan tersebut antara lain cacing sutra (Tubivex worm). Setelah guppy berumur tiga bulan, tambahkan pakan yang banyak mengandung Crude Fiber  (serat) untuk meningkatkan kualitas warna. Pakan alami berserat yang mudah diperoleh antara lain larva nyamuk, cacing super, atau cacing darah (Blood worm). Semua jenis pakan yang diberikan untuk ikan guppy secara adlibitum.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dalimartha. S, 2004. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3. Puspa Swara.    Jakarta.

Eka. B dan Sitorus. P, 2003. Menghasilkan Guppy Kualitas Kontes. Penebar Swadaya. Jakarta.

http://world-aquaculture.blogspot.com/2009/11/ guppy-awalnya-hidup-di-rawa-air-payau.html

Lesmana. S, 2003. Mencegah dan Menanggulangi Penyakit Ikan Hias. Penebar swadaya. Jakarta.

Susanto. H, 1990. Budidaya Ikan Guppy. Kanesius. Yogyakarta.

Tambunan N.L. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Guppy Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Whendrato dan Madyana, 1988. Mengenal Ikan Hias Pemeliharaan, Penyakit dan Pengobatan. Eka Offset. Semarang.

 

sumber gambar:

http://www.mnn.com/earth-matters/animals/stories/5-reasons-why-guppies-are-the-perfect-pet

BARU BARU (Osbornia octodanta)

Berkas:Osbor octod 110319-13636 sagt.jpg

Berkas:Osbor octod 110319-13638 sagt.jpg

Nama setempat Baru-baru
Deskripsi umum Berupa pohon atau belukar dengan ketinggian dapat mencapai 7 meter, selalu hijau, tangkai/dahannya tunggal atau berjumlah banyak. Kadang-kadang memiliki akar nafas. Kulit kayu berwarna coklat atau abu-abu, berserat dan berserabut. Ranting halus berwarna abu-abu pucat dan berbentuk segi empat pada saat muda. Individu yang lebih besar memiliki batang yang berlubang di tengahnya
Daun Berkulit tipis, menimbulkan aroma pada saat disentuh, ada kelenjar minyak yang tembus cahaya dan berukuran kecil serta ada pembengkakan pada gagang daun sepanjang 2 mm yang berwarna merah. Unit & Letak: sederhana, bersilangan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 2,5-5 x 1-3 cm.
Bunga Biseksual. Dalam satu tandan terdapat 1-3 bunga yang bergerombol, bunga tidak bertangkai tapi langsung menempel pada tandan. Terdapat 2 pinak daun berbentuk elips, panjang 6 mm, terletak pada pangkal gagang bunga. Pinak daun tersebut kemudian rontok. Letak: di ketiak daun. Formasi: kelompok. Daun mahkota: Tidak ada. Kelopak bunga: 8; hijau (3-6 mm). Benang sari: berwarna putih hingga kuning, jumlahnya sampai 48 helai, ukurannya lebih panjang dibanding cuping kelopak bunga
Buah Buah ditutupi oleh cuping kelopak bunga dan kelopak tidak membuka pada saat telah matang. Biji berjumlah 1-2, berbentuk datar dan bulat telur terbalik. Ukuran: panjang 5-10 mm; diameter 5 mm
Ekologi Tumbuh di tempat yang lebih terbuka pada tepi daratan di daerah mangrove atau pada pinggiran alur air yang dipengaruhi oleh pasang surut. Tidak memiliki ketergantungan khusus terhadap substrat tumbuh, dan dapat ditemukan pada lumpur halus, batuan, dan pasir. Meskipun demikian, jenis tumbuhan ini tidak ditemukan tumbuh pada daerah yang kerap tergenang oleh air tawar. Di Australia jenis ini ditemukan berbunga dari bulan Juni sampai Desember dengan puncaknya pada bulan November dan berbuah pada bulan Februari. Bunga diserbuki oleh serangga. Buah disebarkan lewat air dan terapung di air karena adanya rambut-rambut yang dapat memerangkap udara.
Penyebaran Di Indonesia (Irian Jaya, Sulawesi, Jawa Timur, Kepulauan Sunda Kecil), Kalimantan Utara, Filipina, Papua New Guinea, Australia Tropis
Kelimpahan
Manfaat Para nelayan menggunakan daunnya untuk mengusir serangga. Kulit kayu kadang kadang digunakan untuk menambal perahu dan kayunya tahan lama

 

Referensi:

• Yudasakti P, dkk.2014. Mangroves Siak & Kepulauan Meranti.Environmental & Regulatory Compliance Division Safety, Health & Environment Department, ENERGI MEGA PERSADA

• Environmental Assessment Report Lalang Oilfield Development Sumatera Indonesia Volume 1 – Hudbay Oil (Malacca Strait) Ltd tahun 1983

• Studi Evaluasi Dampak Lingkungan Pengembangan Lapangan Minyak Melibur Volume II – Hudbay Oil (Malacca Strait) Ltd. Tahun 1991

• Yus Rusila Noor, M. K. (1999). Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor: Wetlands International Indonesia Programme

sumber foto:

POTENSI PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN GABUS

Berkas:Channa stri 060627 7957 jtgno ed resize.jpg

Ikan gabus (Channa striata Bloch) merupakan salah satu jenis komoditas perairan tawar yang hidup di perairan sungai utama, sungai mati, danau, rawa banjiran, yang merupakan rawa hutan,rawang dan lebung atau cekungan di daerah rawa (Utomo et al, 1992), dan   tersebar di Indonesia, seperti Sungai Musi Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Papua, Jawa Timur dan maupun dibeberapa daerah lainnya di Indonesia.

Daerah rawa banjiran merupakan salah satu tipe ekosistem yng produktif bagi perikanan air tawar (welcomme, 1985). Pada perairan rawa banjiran tinggi air (volume air) sangat bervariasi sepanjang tahun, karena dipengaruhi oleh musim hujan. Pada saat musim kemarau volume air kecil hanya tinggal di sungai utama, cekungan-cekungan tanah (lebung) dan danau. Pada saat musim penghujan air meluap menutupi permukaan tanah dapat mencapai 3-4 meter. Keadaan ini akan mempengaruhi sifat biologi dan ekologi pada daerah tersebut. Pada musim kemarauikan tinggal di cekungan-cekungan tanah (lebung), danau dan sungai utama, sedangkan pada saat air banjir ikan menyebar keseluruh penjuru perairan. Fungsi vegetasi di perairan rawa pada saat air besar sebagai tempat mencari makanan bagi ikan dan sebagai tempat asuhan serta sebagai tempat untuk melekatkan telur bagi ikan-ikan yang sedang memijah, puncak musim pemijahan umumnya terjadi pada awal musim penghujan (Utomo et al, 1992; MRG, 1994).

Morfologi

Berdasarkan Kottelat et al. (1993), Syafei,et al. (1995); ICLARM (2002), ikan gabus (gambar dibawah ini) di kelompok ke dalam ordo Pleuronecti formes dan famili Channidae mempunyai ciri-ciri seluruh tubuh dan kepala ditutupi sisik sikloid dan stenoid. Bentuk badan hampir undar di bagian depan dan piph tegak ke arah belakang sehingga disebut ikan berkepala ular (snakedhead). Ikan ini mampu menghirup udara dari sungai atmosfer karena memiliki organ napas tambahan pada bagian atas insangnya. Hal ini juga yang memuat ikan tersoebut mampu bergerak dalam jarak jauh pada musim kemarau untuk mencari sumber air.

Distribusi

Berdasarkan FAO (2002) dan Allington (2002), ikan gabus mempunyai distribusi yang luas dari China hingga India dan Srilangka, kemudian India Timur dan Philipina, juga Nepal, Burma, Pakistan, Banglades, Singapura, Malaysia dan dan Jawa). Indonesia (Sumatera, Kalimantan).

Ukuran dan Habitat

Menurut Allington (2002), di alam panjang ikan gabus dapat mencapai 1 meter dengan ukuran rata-rata mencapai antara 60-75 cm. Panjang larva sekitar 3,5 mm, pasacalarva setelah 4 minggu dengan panjang antara 10-20 mm, setelah 6 minggu ikan mempunyai ukuran 4-5 cm.

Ikan gabus merupakan jenis ikan air tawar yang dapat hidup di sungai, danau, kolam, bendungan, rawa, banjiran, sawah bahkan parit dan air payau (Syafei et al, 1995; Anonim, 2002). Menurut Le fish Corner (1999); Allington (2002), bahwa ikan gabus sangat toleran terhadap kondisi anaerobik, karena mereka mempunyai sistim pernapasan tambahan pada bagian atas insangnya. Berdasarkan Syafei et al. (1995) yang melakukan penelitian perairan umum Jambi, ikan gabus hidup dengan kondisi perairan yang mempunyai : pH 6,2-7,8 dan temperatur 26,5-31,5 0C.

Penangkapan

Berdasarkan Prasetyo et al. (1993), alat tangkap yang dipergunakan oleh nelayan di perairan umum sangat beraneka ragam, cara pengoperasiannya ada yang pasif dan ada yang aktif. Ditambahkan oleh Utomo dan Arifin (1991), di DAS musi, penangkapan ikan di daerah rawa atau lebak lebung kebanyakan menggunakan alat tangkap yang bersifat pasif, sedangkan di sungai adalah alat tangkap yang bersifat aktif. Menurut Nasution dan Rupawan (1997), alat tangkap yang tergolong pasif adalah empang (barrier and trap), corong (Filtering device), bingkai bila (bamboo pot trap), dan rawai (hooks and line). Alat tangkap yang bersifat aktif adalah jala (cast net), jaring (gillnet) dan langgian (scoop net).

Beberapa jenis alat tangkap yang biasa digunakan untuk menangkap ikan gabus oleh nelayan di daerah rawa banjiran berdasarkan Samuel et al.(1997), Nasution dan Rupawan (1997) adalah jala, penggilar kawat, bengkirai bilah, tajur, rawai dan empang.

Makanan

Ikan gabus merupakan ikan karnivora dengan makanan utamanya adalah udang, katak, cacing, serangga dan semua jenis ikan. Menurut Allington (2002), pada masa larva ikan gabus memakan zooplankton dan pada ukuran fingeling, makanannya berupa seraangga, udang dan ikan kecil. Sementara itu menurut Anonim (2002), pada fase pascalarva ikan gabus memakan makanan yang mempunyai kuantitas yang lebih besar seperti Daphnia dan Cyclops, sedangkan ikan dewasa akan memakan udang, serangga, katak, cacing dan ikan. Pada penelitian Sinaga et al. (2002) di sungai Banjiran Jawa Tenga, diketahui makanan ikan gabus dengan kisaran panjang total antara 5,78-13,4 cm adalah serangga air, potongan hewan air, udang dan detritus. Sementara itu  berdasarkan penelitian Buchar (1998) di danau Sabuah Kalimantan Tengah, makanan ikan gabus adalah potongan hewan air, siput air, rotifera dan Rhizopoda.

Reproduksi

Ikan gabus membuat sarang di sekitar tumbuhan air atau pingiran perairan yang dangkal. Sarang ikan gabus membentuk busa di antara tanaman air di periran yang berarus lemah (Syfei et al.,1995; Alington, 2000).  Berdasarkan Anonim (2002), di Srilangka ikan gabus di alam memijah beberapa kali dalam setahun, sedangkan di Philipina ikan gabus dapat memijah setiap bulan. Ditambahkan oleh Allington (2002), ikan gabus dapat memijah pada umur 9 bulan dengan panjang total sekitar 21 cm. Musim pemijahan ikan gabus di Thailand antara bulan mei sampai oktober, dengan puncaknya pada bulan juli sampai september. Sementara itu berdasarkan duong nhut Long et al.I (2002), yang melakukan penelitian terhadap ikan gabus di delta Mekong, diperoleh ikan gabus yang matang kelamin lebih dahulu adalah ikan gabus betina. Berdasarkan penelitian Kartamihardja (1994), di waduk kedungombo Jawa Tengah ikan gabus betina mulai matang kelamin pada ukuran panjang total 16,5 cm.

Umumnya telur-telur yang telah dibuahi akan menetas dalam waktu 24 jam (pada kondisi alami) sedangkan pada kondisi laboratorium atau budidaya telur akan menetas setelah 48 jam Anonim, 2002). Umumnya induk jantan akan menjaga sarang dan telur selama periode inkubasi paling lama 3 hari. Benih ikan akan bergerombol dan salah satu dari induknya akan menjaga mereka sepanjang waktu (Syafei et al, 1985; Allington, 2002).

Referensi

 

Sumber gambar:

https://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_gabus

BEREMBANG (Sonneratia alba)

Nama lokal: Berembang, Prapat, Pedada

Deskripsi umum

Pohon selalu hijau, tumbuh tersebar, ketinggian kadang-kadang hingga 15 m. Kulit kayu berwarna putih tua hingga coklat, dengan celah longitudinal yang halus. Akar berbentuk kabel di bawah tanah dan muncul kepermukaan sebagai akar nafas yang berbentuk kerucut tumpul dan tingginya mencapai 25 cm

Daun

Daun berkulit, memiliki kelenjar yang tidak berkembang pada bagian pangkal gagang daun. Gagang daun panjangnya 6-15 mm. Unit & Letak:
sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat telur
terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 5-12,5 x 3-9 cm.

Bunga

Biseksual; gagang bunga tumpul panjangnya 1 cm. Letak: di ujung atau pada cabang kecil. Formasi: soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). Daun mahkota: putih, mudah rontok. Kelopak bunga: 6-8; berkulit, bagian luar hijau, di dalam kemerahan. Seperti lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. Benang sari: banyak, ujungnya putih dan pangkalnya kuning, mudah rontok

Buah

Seperti bola, ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak bunga. Buah
mengandung banyak biji (150-200 biji) dan tidak akan membuka pada saat telah matang. Ukuranbuah: diameter 3,5-4,5 cm Ekologi Jenis pionir, tidak toleran terhadap air tawar dalam periode yang lama. Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan karang. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai. Di lokasi di mana jenis tumbuhan lain telah ditebang, maka jenis ini dapat membentuk tegakan yang padat. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga hidup tidak terlalu lama dan mengembang penuh di malam hari, mungkin diserbuki oleh ngengat, burung dan kelelawar pemakan buah. Di jalur pesisir yang berkarang mereka tersebar secara vegetatif. Kunang-kunang sering menempel pada pohon ini dikala malam. Buah mengapung karena adanya jaringan yang mengandung air pada bijinya. Akar
nafas tidak terdapat pada pohon yang tumbuh pada substrat yang keras

Penyebaran

Dari Afrika Utara dan Madagaskar hingga Asia Tenggara, seluruh Indonesia, Malaysia, Filipina, Australia Tropis, Kepulauan Pasifik barat dan Oceania Barat Daya

Kelimpahan

Umum. Melimpah setempat.

Manfaat

Buahnya asam dapat dimakan. Di Sulawesi, kayu dibuat untuk perahu dan bahan bangunan, atau sebagai bahan bakar ketika tidak ada bahan bakar lain.

Referensi:

• Yudasakti P, dkk.2014. Mangroves Siak & Kepulauan Meranti.Environmental & Regulatory Compliance Division Safety, Health & Environment Department, ENERGI MEGA PERSADA

• Environmental Assessment Report Lalang Oilfield Development Sumatera Indonesia Volume 1 – Hudbay Oil (Malacca Strait) Ltd tahun 1983

• Studi Evaluasi Dampak Lingkungan Pengembangan Lapangan Minyak Melibur Volume II – Hudbay Oil (Malacca Strait) Ltd. Tahun 1991

• Yus Rusila Noor, M. K. (1999). Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor: Wetlands International Indonesia Programme

sumber foto:

FAQs about strandings

What is a stranding?
NOAA’s National Marine Fisheries Services (NMFS) defines a stranded animal as any dead marine mammal on shore, any live dolphin or whale cast ashore or unable to return to its natural habitat, or any live seal that cannot leave shore due to injury or poor health.

A single stranding occurs when one dolphin, whale, porpoise, or seal comes ashore by itself dead or alive and in need of intervention.  A mass stranding is an event where two or more dolphins or whales (other than a mother/calf pair) strand at the same time in close proximity to one another.  (Seals and baleen whales do not mass strand.)  Mass strandings sometimes involve over 100 individual animals. On Cape Cod, we have frequent single and mass strandings, averaging 226 stranded animals per year.

What types of marine mammals are stranding on Cape Cod?
Four species of seals and fifteen species of cetaceans (dolphins, whales and porpoises) have stranded on Cape Cod’s shores since the stranding network began consistently documenting these events in 1998.

Why are there so many mass strandings on Cape Cod?
Cape Cod is one of only a few places in the world where mass strandings (multiple whales, dolphins or porpoises beaching simultaneously) occur on a regular basis.  There are many theories regarding the causes of these strandings throughout the world.  Often, the causes of these large events remain a mystery.  While we may not know definitively what caused a given mass stranding event on Cape Cod, there are several factors that contribute to their occurrence:

  1. Social bonds – Some cetacean species have very strong social bonds.  These cohesive social groups make a lot of sense in the wild because there is safety in numbers.  Animals evade predators and hunt more effectively in a group.  However, these same social bonds can lead to trouble when one individual ventures into tidally influenced coastal waters.  Whether it is a dominant animal, a sick individual, or a very young animal that heads toward shore, the whole group will often follow leading to a mass stranding when the tide falls.
  2. Location, location, location – There are a handful of places on the planet that experience mass strandings on a regular basis.  Cape Cod usually ranks among the top three sites each year for the frequency of events.  Many of these sites share similar traits with Cape Cod, including a hook-shaped land mass jutting out into the water, gently sloping beaches and convoluted estuarine systems.  All of these factors can contribute to a mass stranding.
  3. Tides – The species that commonly mass strand are pelagic, or offshore animals.  In the Cape Cod region, this includes Atlantic white-sided dolphins, common dolphins, pilot whales, and Risso’s dolphins.  Since these animals spend most of their lives in the deep waters of the open ocean, they are not accustomed to tidal fluctuations.  As a result, when they venture into nearshore coastal waters, they can be caught high and dry when the tide recedes.
  4. Weather – Scientists also theorize that extreme weather may play role in causing some mass strandings and we believe this is true for some of the events that have occurred on Cape Cod.  High winds, coupled with extreme tides may push animals closer to shore, leaving them stranded when the tide falls.

 

sumber: http://www.ifaw.org/united-states/our-work/animal-rescue/faqs-about-strandings