INFO DUNIA PERIKANAN

Blog Stats

  • 81,646 hits

Start here

Ikan Napoleon – Raja Laut Yang Diambang Kepunahan

Ikan Napoleon Sulawesi Tenggara Terancam Punah  

Sebaran dan Habitat Ikan Napoleon

Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) merupakan salah satu spesies yang masuk daftar merah International Union for The Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), lembaga yang menetapkan potensi sumber daya sebagai batas kritis, langka, dan terancam populasinya. Ikan yang juga disebut sebagai ikan batu karang ini, hidup di wilayah perairan Raja Ampat Papua, Wakatobi, Bunaken, Buton, Sikka dan perairan Maluku.

Seperti namanya ikan batu karang, ikan Napoleon hidup di antara terumbu karang dan mengisi sebagian besar perairan yang memiliki gugus batu karang yang besar. Populasi di Indonesia masih dalam tahap sensus Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), namun bisa diperkirakan bahwa setiap hektar wilayah laut didiami hanya sekitar 20 ekor. Faktor pemijahan yang rendah dan eksploitasi besar-besaran menjadi penyebab utama semakin menurunnya jumlah populasi ikan yang juga dijuluki King of Ocean ini.

Ikan Napoleon – Raksasa Perairan Dangkal

Keistimewaan ikan ini bisa berukuran besar yakni mencapai panjang 2 meter dengan berat mencapai 180 Kg. Berukuran raksasa menjadikan ikan ini juga dinobatkan sebagai penguasa wilayah perairan dangkal. Ikan ini juga memiliki mata yang mampu berotasi 180 derajat dengan warna sisik yang menyala kebiruan meski di perairan dalam. Dampak bila ikan Napoleon punah otomatis akan memutus rantai keseimbangan laut. Sebagaimana diketahui bahwa ikan Napoleon adalah pemangsa bulu babi, karang cots, dan bintang laut raksasa yang penuh duri.

Menjaga Populasi Ikan Napoleon

Ikan Napoleon juga termasuk daftar appendik II Convention on International Trade in Endangered Species (CITES). Belum tegasnya penerapan sistem Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) dalam hal perikanan dan kelautan membuat hasil kekayaan laut sering dijarah dan dirusak baik oleh penangkap ikan dalam negeri maupun luar negeri. Pemakaian bom untuk meledakkan karang dan racun sianida yang dipakai untuk menangkap ikan merupakan pelanggaran laut yang sangat berat. Tentunya bukan hanya spesies ikan kecil dan besar yang akan mati, melainkan juga vegetasi lautan akan turut rusak. Sudah menjadi tugas kita bersama untuk membantu menjaga sumber daya laut kita.

Penangkapan yang dilakukan secara ilegal dan brutal juga menjadi risk factor utama populasi ikan Napoleon semakin menurun. Oleh karena itulah, seyogyanya kita menjaga aset laut kita.usaha untuk menjaga populasi harus terus dilakukan dengan melakukan penelitian dan pemijahan. Selain itu, penangkapan yang diizinkan hanya dengan surat resmi dan itupun harus menangkap ikan dengan cara dipancing, bubu atau jaring insang.

Ikan Napoleon ini menjadi salah satu nilai kekayaan laut kita. Jangan sampai hanya karena kelalaian kita menjaga laut, di masa depan akan ada rubrik “Ikan ini pernah dimiliki Indonesia”. Mari melestarikan sumber daya laut kita secara bijak dan memberi wawasan kepada generasi penerus yang akan merawat laut Nusantara ini selanjutnya.

 

sumber: https://pecintasatwa.com/ikan-napoleon-raja-laut-yang-diambang-kepunahan/

sumber gambar: https://m.tempo.co/read/news/2013/04/10/206472357/ikan-napoleon-sulawesi-tenggara-terancam-punah

Virus Tilapia Hanya Serang Ikan Nila dan Mujair

Jakarta, CNN Indonesia — Badan Karantina dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan penyakit Tilapia Virus Lake (TiLV) tidak menular kepada ikan selain nila dan mujair.

Bahkan, menurut, BKIPM Heri Yuwono, TiLV tidak akan menular kepada ikan lain jika hidup dalam satu tempat tinggal secara bersamaan. Dia mengatakan hal tersebut merujuk dari hasil uji kompetensi yang dilakukan pakar dari berbagai negara.

“Selama ini, uji kompetensi yang sudah dilakukan para pakar di luar negeri, dengan jenis lain itu tidak menular,” imbuh Heri kepada CNNIndonesia.com di kantor KKP, Jakarta, Selasa (4/7).

Heri lalu menjelaskan, uji kompetensi yang telah dilakukan yakni dengan menempatkan ikan nila yang terkena penyakit TiLV dengan ikan jenis lain dalam kolam yang sama. Akan tetapi, hasil membuktikan, ikan jenis lain sama sekali tidak terkena gejala-gejala penyakit TiLV.

“Ikan sehatnya terbukti tidak ikut tertular,” tutur Heri.

Meski sejauh ini riset menunjukan hasil demikian, Heri mengaku pihaknya akan terus mengikuti perkembangan riset yang dilakukan di luar negeri. Bilamana ada hasil baru dan bertentangan dengan hasil riset sebelumnya, Heri mengaku akan lekas menindaklanjuti. Khususnya terkait pengidentifikasian penyakit TiLV di dalam negeri dan bekerja sama dengan Direktorat Perikanan dan Budidaya.

Sebelumnya, BKIPM mengaku akan melakukan survei aktif dan pasif dalam rangka mengantisipasi persebaran TiLV jika ditemukan di suatu daerah.

BKIPM melakukan Survei aktif dengan cara turun ke lapangan jika ada kasus kematian massal ikan nila dan mujair. Perihal survei pasif, BKiPM akan melakukan riset data yang dimiliki dinas perikanan setempat serta Ditjen Perikanan dan Budidaya.

Upaya yang akan dilakukan tersebut merupakan tindak lanjut dari KKP yang secara resmi mengimbau kepada pembudidaya ikan nila dan mujair agar meningkatkan kewaspadaan terkait penyakit TiLV.

Imbauan itu dikeluarkan setelah TiLV ditemukan di peternakan ikan nila di Thailand belakangan ini setelah ditemukan di Israel, Mesir, Ekuador, dan Kolombia.

“KKP terus memonitor dan mencermati perkembangan penyebaran penyakit Tilapia Lake Virus yang sudah mulai mendekat ke Indonesia. Berbagai langkah pencegahan telah dilakukan pemerintah,” ungkap Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Slamet Soebjakto, di Jakarta, Senin (3/7) seperti dilansir dari Antara.

Slamet juga mengaku bakal memperketat Proses impor induk, calon induk maupun benih ikan yang rentan terkena penyakit tersebut dari luar negeri khususnya dari negara-negara yang sudah terjangkit penyakit TiLV. (rah)

 

sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170705075012-260-225799/virus-tilapia-hanya-serang-ikan-nila-dan-mujair/

Busmetik, Solusi Petambak Udang Skala Kecil

Pengembangan teknologi Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik atau yang dikenal dengan Busmetik saat ini sedang gencar digalakkan. Pengembangan Busmetikmerupakan upaya meningkatkan produktivitas dan efisien produk hasil perikanan yang makin diminati pasar lokal dan internasional.

Busmetik merupakan pengembangan teknologi budidaya udang, yang saat ini dijadikan media pembelajaran untuk mencetak peserta didik yang terampil dalam budidaya udang. Mengapa udang? Tak lain karena hingga saat ini udang menjadi komoditas bisnis yang sangat menguntungkan.

Teknologi Busmetik merupakan hasil kajian empiris sejak akhir tahun 2009, yang dilakukan oleh civitas akademika Sekolah Tinggi Perikanan (STP). Inilah instrument pokok dalam pembelajaran pendidikan vokasi untuk program studi Teknologi Akuakultur di STP Serang, Banten.

Banyak keuntungan dari teknologi Busmetik, antara lain biaya murah sehingga terjangkau oleh petambak kecil dan menegah. Pengolahan tambak pun menjadi lebih mudah karena luasan petak menjadi lebih kecil dibandingkan tambak ekstensif/tradisional.

Teknologi Busmetik sangat cocok untuk budidaya udang vannamei (Litopeneus vannamei) karena udang vannamei dapat dipelihara dalam kepadatan tinggi, di atas 100 ekor/m3. Selain itu, udang vannamei memiliki pertumbuhan lebih cepat, lebih tahan terhadap penyakit, dan memiliki segmen pasar yang fleksibel.

Prosedur pemeliharaan

Beberapa komponen penting dalam penerapan teknologi Busmetik, yaitu: (1) wadah budidaya, (2) media budidaya, (3) biota budidaya, dan (4) Lingkungan sekitar.

Wadah budidaya dibuat dengan dimensi yang tidak terlalu luas dan dilapisi plastik jenis high density poly ethylene (HDPE) dengan ketebalan 0,5 mm. Sementara kedalaman tambak berkisar 80—100 cm. Media budidaya, dalam hal ini air, harus memenuhi kriteria secara fisik, kimia, maupun biologi. Di samping itu, bebas dari hama dan penyakit. Biota budidaya yang akan dibudidayakan harus sehat, berukuran seragam (PL 10—12) dan bebas dari penyakit. Sementara dalam teknologi Busmetik, kondisi sekeliling tambak sangat berpengaruh. Oleh sebab itu, tambak hendaknya dikelilingi ekosistem mangrove.

AK 9 Budidaya 2 2 Udang vannamei memiliki pertumbuhan lebih cepat dan lebih tahan terhadap penyakit (istimewa)

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Pusluh), proses pemeliharaan udang pada teknologi Busmetik diawali dengan penyiapan petakan tambak. Dimensi tambak berbentuk empat persegi panjang dengan luas 600—1.000 m2. Petakan tambak yang dilapisi plastik akan sangat memudahkan persiapan. Tambak cukup dikeringkan 1—2 hari, lalu dibersihkan dan selanjutnya siap diisi air.

Kegiatan selanjutnya adalah pensucihamaan dengan mengunakan kaporit. Dosis kaporit yang digunakan 50—60 mg per liter. Setelah 2—3 hari, air di dalam tambak akan netral dari klorin dan siap untuk diberikan bakteri probiotik jenis Bacillus.

Berdasarkan rilis Pusluh, ada dua faktor penting yang harus diperhatikan dalam memberikan probiotik jenis Bacillus. Pertama, stochastic, yaitu berkaitan dengan waktu untuk memberikan probiotik. Kedua, deterministic, yaitu dosis yang cukup agar Bacillus mampu menjalankan perannya dengan baik.

Berdasarkan pemahaman terhadap kedua faktor tersebut, dalam teknologi Busmetik, Bacillusdiberikan pada awal persiapan setelah air tambak netral dari klorin. Hal ini dimaksudkan agar Bacillus mendominasi mikroorganisme pada media pemeliharaan. Selanjutnya, pemberian Bacillus dilakukan secara berkala hingga akhir pemeliharaan untuk mempertahankan populasinya dalam air tambak. Pengalaman lapangan membuktikan, aplikasi Bacillus dengan cara seperti ini mampu mempertahankan kualitas air tambak lebih lama sehingga udang lebih stabil dan meminimalkan pergantian air.

Teknologi Busmetik telah terbukti menghasilkan panen udang dengan maksimal, yaitu tiga kali panen dalam 1 tahun. Tak heran jika pada tahun 2013, teknologi Busmetik mendapatkan apresiasi dari Menteri Kelautan dan Perikanan, yang waktu itu dijabat oleh Sharif C. Sutardjo.

Sebagai contoh, berdasarkan pengalaman kelompok pembudidaya ikan Posdaya Mulyosari di Desa Sidomulyo, Ngadirejo, Pacitan, Jawa Timur, empang seluas 600 m2 dengan padat tebar tinggi 250 ekor/m3 menghasilkan 2.280 kg udang vannamei. Volume panen sudah memperhitungkan kelangsungan hidup udang selama budidaya sebesar 95%.

Empang plastik dapat dipakai untuk 3 kali siklus budidaya. Dengan investasi awal sebesar Rp 165 juta dan ongkos operasional Rp 67 juta, pendapatan per siklus mencapai Rp 114 juta. Bila dihitung setiap siklus, petambak Busmetik dapat memetik laba bersih sebesar Rp 47 juta di luar nilai investasi.

Produksi udang harus terus ditingkatkan guna mendongkrak peningkatan produksi perikanan budidaya secara nasional. Oleh sebab itu, di samping mengembangkan wirausaha dan perluasan lapangan pekerjaan, berbagai upaya akan terus dilakukan termasuk inovasi teknologi, salah satunya dengan teknologi Busmetik. Melihat hasil produksi udang yang sangat menjanjikan dalam Busmetik, sudah saatnya inovasi teknologi ini dapat diterima oleh masyarakat secara luas, terutama pelaku perikanan budidaya. Dengan begitu, keberhasilannya diharapkan dapat meningkatkan produksi udang nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kala itu, Sharif mengatakan bahwa teknologi Busmetik mampu meningkatkan produktivitas udang sehingga perlu terus dikembangkan. Harapannya, pengembangan tidak hanya dilakukan pemerintah, melainkan juga pihak swasta. Sharif menerangkan bahwa sejumlah tenaga ahli perikanan dari negara lain juga sudah mempelajari teknik budidaya tersebut dan berharap bisa dikembangkan di negaranya masing-masing. Tenaga ahli perikanan asing tersebut antara lain nerasal dari Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, India, dan China.

“Kesempatan memproduksi udang dengan teknologi Busmetik harus bisa dimanfaatkan Indonesia, mengingat sejumlah negara pesaing saat ini produksi udangnya gagal karena terserang penyakit ‘Early Mortality Syndrome (EMS)’ yang mematikan,” ujarnya. “Saya berharap agar di masa datang Indonesia tidak tertinggal lagi soal budidaya udang dari negara yang justru sebelumnya belajar dari kita. Kemampuan teknologi ini hendaknya bisa terus ditingkatkan dan terus dilakukan inovasi” (Althaf Danayah)

 

sumber: http://infoakuakultur.com/blog/busmetik-solusi-petambak-udang-skala-kecil/

5 Manfaat Hutan Mangrove Untuk Manusia

Sebagai negara kepulauan, Indonesia merupakan salah satu negara dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia. Hutan mangrove memiliki peranan penting dan manfaat yang banyak baik langsung maupun tidak langsung bagi lingkungan sekitar khususnya bagi penduduk pesisir.

Secara umum hutan bakau atau mangrove mempunyai definisi sebagai hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak di garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut tepatnya di daerah pantai dan sekitar muara sungai, sehingga tumbuhan yang hidup di hutan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Berikut merupakan beberapa manfaat dan peranan Hutan Mangrove :

  • Mencegah Intrusi Air Laut
    Intrusi laut merupakan peristiwa perembesan air laut ke tanah daratan. Intrusi laut dapat menyebabkan air tanah menjadi payau sehingga tidak baik untuk dikonsumsi. Hutan Mangrove memiliki fungsi mengendapkan lumpur di akar-akar pohon bakau sehingga dapat mencegah terjadinya Intrusi Air laut ke daratan.
  • Mencegah Erosi dan Abrasi Pantai
    Erosi merupakan pengikisan permukaan tanah oleh aliran air sedangkan abrasi merupakan pengikisan permukaan tanah akibat hempasan ombak laut. Hutan Mangrove memiliki akar yang efisien dalam melindungi tanah di wilayah pesisir, sehingga dapat menjadi pelindung pengikisan tanah akibat air.
  • Sebagai pencegah dan penyaring alami
    Hutan mangrove biasanya yang dipenuhi akar pohon bakau dan berlumpur. Akar tersebut dapat mempercepat penguraian limbah organik yang terbawa ke wilayah pantai.Selain pengurai limbah organik, hutan mangrove juga dapat membantu mempercepat proses penguraian bahan kimia yang mencemari laut seperti minyak dan diterjen, dan merupakan enghalang alami terhadap angin laut yang kencang pada musim tertentu.
  • Sebagai tempat hidup dan sumber makanan bagi beberapa jenis satwa
    Hutan Mangrove juga merupakan tempat tinggal yang cocok bagi banyak hewan seperti biawak, kura-kura, monyet, burung, ular, dan lain sebagainya. Beberapa jenis hewan laut seperti ikan, udang, kepiting dan siput juga banyak tinggal didaerah ini. Akar tongkat pohon mangrove memberi zat makanan dan menjadi daerah nursery bagi hewan ikan dan invertebrata yang hidup di sekitarnya. Ikan dan udang yang ditangkap di laut dan di daerah terumbu karang sebelum dewasa memerlukan perlindungan dari predator dan suplai nutrisi yang cukup di daerah mangrove ini. Berbagai jenis hewan darat berlindung atau singgah bertengger dan mencari makan di habitat mangrove.
  • Berperan dalam pembentukan pulau dan menstabilkan daerah pesisir
    Hutan mangrove seringkali dikatakan pembentuk daratan karena endapan dan tanah yang ditahannya menumbuhkan perkembangan garis pantai dari waktu ke waktu. Pertumbuhan mangrove memperluas batas pantai dan memberikan kesempatan bagi tumbuhan terestrial hidup dan berkembang di wilayah daratan. Sebagai contoh, Buah vivipar yang terbawa air akan menetap di dasar yang dangkal, dapat berkembang dan menjadi kumpulan mangrove di habitat yang baru. Dalam kurun waktu yang panjang habitat baru ini dapat meluas menjadi pulau sendiri.

 

sumber: http://earthhour.wwf.or.id/5-manfaat-hutan-mangrove-untuk-manusia/

Analisa Usaha Budidaya Udang Vaname Intensif

Bagaimana menghitung modal atau analisa usaha budidaya udang vaname intensif? Sistem budidaya intensif memang menjadi arah dari petambak udang saat ini. Dengan sistim ini, petambak tidak membutuhkan area yang terlalu besar namun dapat memaksimalkan area tambak yang berukuran kecil dan bisa mendapatkan panen yang melimpah.

Budidaya udang vaname sistim intensif ini memang membutuhkan modal yang besar karena harus menyediakan alat seperti 1). Central Drain atau alat pengisap limbah secara otomatis, 2). Automatic Feeder atau alat pemberi pakan secara otomatis, 3). kincir untuk keperluan oksigen dan pompa air laut.

Analisa Usaha Budidaya Udang Vaname Intensif

Di sini kami akan mengulas lengkap analisa usaha budidaya udang vaname yang menggunakan sistim teknologi intensif. Luas tambak yang akan kami analisis adalah 1 Hektar (10.000 m2) dengan padat tebar udang 200 ekor/m2.

#1. Biaya Investasi Awal.

No. Komponen Jumlah Harga Beli Satuan (Rp) Total Harga
1. Lahan 1 Hektar 30.000.000 30.000.000
2. Kincir 1 HP, 750 Watt 64 4.500.000 288.000.000
3. Listrik 1 35.000.000 35.000.000
4. Terpan / HDPE 2.0mm 1 4.000/meter 40.000.000
Total Biaya Investasi Awal 393.000.000


Penjelasan:

Jumlah kolam yang akan dibuat di lahan dengan luas 1 hektar yaitu 4 buah kolam, masing-masing kolam berukuran 2400 m(ukuran paling ideal) dengan ukuran tandon 400 m2. Total kebutuhan kincir untuk ke 4 kolam yaitu 64 buah dengan perkiraan setiap 1 kincir untuk 30.000 ekor udang (paling efektif). Target size 60 ekor/kg di DOC 90 hari.

(Baca juga : 13 Istilah-Istilah Penting dalam Budidaya Udang)

#2. Biaya Operasional 1 Siklus.

No. Komponen Jumlah Harga (Rp) Total Harga
1. Benur PL 10-PL12 (Kualitas  F1) 1.920.000 ekor 43/ekor 82.560.000
2. Pakan 30 ton 14000/kg 420.000.000
3. Biaya Listrik 1 1 siklus 120.000.000
4. Pegawai(1 teknisi, 2 pemberi pakan, 1 teknisi mesin) 4 6.000.000/siklus 24.000.000
5. Probiotik, Media Probiotik, Disinfektan dll 30.000.000
6. Akomodasi dan komsumsi 5.000.000
7. Lain-lain 10.000.000
Total 691.560.000

Penjelasan:

Dengan 4 kolam ukuran 2400 m2 (9.600 m2) dengan 200 ekor per meternya , berarti jumlah benur yang di tebar adalah 1.920.000 ekor.

#3. Menghitung Hasil Penjualan.

No. Panen Size (jumlah udang/kg) Harga per kg (Rp) Total Harga
1. 20 ton (20.000 kg) 60 80.000 1.600.000.000,-

*Dengan FCR 1.5 maka akan mendapatkan panen 20 ton.

(Baca juga: 2 Cara Mengatur Pemberian Pakan Udang Vaname)

#4. Menghitung Keuntungan.

No. Total harga udang (panen)(Rp) Biaya Operasional(Rp) Biaya Investasi Awal(Rp) Keuntungan per siklus(Rp) Keuntungan setelah dikurangi investasi awal (Rp)
1. 1.600.000.000 691.560.000 393.000.000 908.440.000 515.440.000

#5. Kesimpulan.

Investasi awal dan biaya operasional selama 1 siklus sudah bisa kembali dan mendapat untung sekitar Rp. 515.440.000.

 

sumber: http://budidayaudang.com/analisa-usaha-budidaya-udang-vaname-intensif/

Lamun, Penopang Ekosistem Laut yang Sering Terlupa

Dalam ekosistem laut, kita tentunya mengenal mangrove (hutan bakau) dan terumbu karang sebagai bagian yang berpengaruh terhadap keberlanjutan lingkungan. Namun ada satu komponen yang kerap dilupakan, yakni lamun.

Lamun (seagrass) merupakan tumbuhan laut yang hidup terbenam di lingkungan laut, berpembuluh, berimpang (rhizome), berakar dan berkembang biak secara genetatif (biji) dan vegetatif. Lamun kerap dianggap sama dengan rumput laut (seaweed). Hamparan lamun, baik satu jenis maupun multijenis membentuk padang lamun yang menutupi area perairan laut dangkal dan membentuk ekositem lamun.

Ekosistem lamun umumnya berada di daerah pesisir pantai dengan kedalaman kurang dari 5 meter (m) saat pasang. Namun, beberapa jenis lamun dapat tumbuh lebih dari kedalaman 5 m sampai kedalaman 90 m selama kondisi lingkungannya menunjang. Ekosistem lamun di Indonesia biasanya terletak di antara ekosistem mangrove dan karang, atau terletak di dekat pantai berpasir dan hutan pantai.

Lamun dapat ditemukan di seluruh benua yang ada di dunia kecuali Antartika. Di Indonesia sendiri, luas padang lamun diperkirakan mencapai 3 juta hektare (ha). Namun data dari Pusat Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI) menyatakan sejauh ini, baru 25.752 ha padang lamun yang tervalidasi dari 29 lokasi di Indonesia.

“Sisanya masih belum bisa terpetakan. Pemetaan lamun memang cukup sulit, apalagi karena data citra satelit yang terbatas. Lamun susah dipetakan karena berasosiasi dengan pasir. Kalau karang kan gampang ya. Namun, kalau kita memiliki yang peta dari citra beresolusi tinggi, mungkin akan lebih terlihat,” ujar peneliti Oseanografi LIPI, Indarto Happy Supriyadi ketika ditemui selepas penetapan LIPI sebagai wali data ekosistem terumbu karang dan padang lamun beberapa waktu lalu.

Lamun juga ternyata kaya manfaat. Selain menjadi sumber makanan bagi herbivora seperti dugong dan penyu hijau, lamun menjadi tempat tinggal beberapa biota laut yang ekonomis seperti ikan baronang, kepiting, kerang dan teripang. Lamun juga berperan sebagai area asuhan(nursery) bagi ikan kecil dan udang.

Lamun juga mampu memperlambat arus sepanjang pantai dan menjadi perangkap suspensi sedimen serta filter bagi karang. Yang paling penting, lamun sebenarnya menjadi penyerap karbon tertinggi dibandingkan mangrove dan terumbu karang. Selain itu, menurut penuturan Happy,  ada jenis lamun yang buahnya bisa dimakan dan bernilai ekonomis tinggi, bahkan mencapai Rp 20 jutaan.

“Orang melihat ke laut biasanya juga yang dicari karang. Atau mangrove. Lamun itu nggak seksi. Bahkan kadang juga lamun dianggap tidak penting, paling dibilang ah itu mah bikin kotor pantai. Padahal dia tertinggi loh dalam urusan karbon,” ungkap Happy.

Kondisi kesehatan lamun diukur menggunakan metode tutupan lamun (seagrass cover).Perhitungan dilakukan dengan cara menghitung presentase kerapatan tutupan dengan kotak kuadrat. Lamun dinyatakan sehat jika presentase tutupannya lebih besar dari 60 persen. Sementara presentase 29-59,9 persen dinyatakan kurang sehat dan kurang dari angka itu lamun dinyatakan tidak sehat.

Kondisi Saat Ini
Data P2O LIPI menyatakan ada 15 jenis lamun yang ditemukan di Indonesia, namun kini yang mudah ditemukan hanya sembilan jenis. Sisanya mulai langka. Sementara sebagian besar padang lamun di Indonesia berada pada kondisi kurang sehat. Dari 37 titik lokasi yang dijadikan sampel, 27 di antaranya kurang sehat, lima titik tidak sehat dan lima sisanya dalam kondisi sehat. Di dunia sendiri, penurunan luas padang lamun terjadi sejak awal abad XX dengan laju penurunan mencapai 7 persen pertahun pada 1990-an.

Lamun sangat peka terhadap perubahan kondisi air, terutama akibat aktivitas manusia di pesisir pantai. Kebanyakan spesies lamun tak mampu bertahan dengan kondisi air yang keruh dan kotor. Pembukaan lahan di daratan, pengerukan dan pengambilan pasir juga menjadi ancaman serius bagi lamun karena menyebabkan degradasi dan sedimentasi.

Happy menjelaskan, adanya pembukaan lahan membuat sedimen di laut ketika hujan. Layaknya tumbuhan, lamun yang memerlukan cahaya untuk fotosintesis akhirnya tak bisa berfotosintesis di tengah keruhnya air. Cahaya tak bisa menembus keruhnya air tersebut. Akibatnya, banyak lamun yang tidak bertahan hidup. Sejauh ini, kata Happy, salah satu yang mampu bertahan hidup di tengah kondisi ekstrem adalah jenis enhalus acroides.

Rachma Mutia B./WBP
Sumber : Beritasatu.com, 6 Maret 2016

Sivitas Terkait : Drs. Indarto Happy Supriyadi M.Si.

sumber tulisan: http://lipi.go.id/lipimedia/lamun-penopang-ekosistem-laut-yang-sering-terlupa/15184

Kabar Buruk Jika Makan Daging Mamalia Terdampar

Masih ingat Pearlie? Paus betina kecilini mati terdampar di Pantai Mertasari, Sanur, Bali pada 23 Januari 2017 lalu. Ia digigit hiu cookie cutter shark yang terkenal gemar mengintai hewan laut muda. Pearlie, sebut saja demikian ditemukan sudah lemas dengan sejumlah luka di pesisir.

Tak hanya itu, dalam tubuhnya terdapat banyak cacing melebih batas normal. Hasil nekropsi menegaskan hal ini. Jadi, peringatan larangan mengambil daging hewan terdampar itu masuk akal. Makan daging hewan mati gratis bisa berbonus penyakit.

Hasil nekropsi atau pembedahan si Pearlie yang romannya mirip figur Pearl anak Tuan Krab di serial kartun Spongebob ini menyimpulkan, ditemukan investasi parasit (Ascaris sp.) pada sistem gastrointestinal. “Terdapat banyak cacing (anisakis) pada saluran sistem  pencernaan. Dari lambung hingga usus,” ujar Maulid Dio Suhendro, salah satu tim medik veteriner, mahasiswa S2 Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Udayana yang melakukan nekropsi ke Pearlie.

Dio, dokter hewan sedang memimpin identifikasi dan nekropsi untuk mencatat detail ukuran dan menganalisis penyebab kematian paus sperma kerdil yang terdampar dan mati di perairan Pantai Matahari Terbit, Sanur pada Senin (23/01/2017). Foto Luh De Suriyani

 

Anggota tim medik lainnya adalah Made Jaya Ratha (Coral Reef Alliance), Clara Dewinda dan Ida Bagus Windia Adnyana (Universitas Udayana). Sejumlah mahasiswa FKH lainnya terlihat ikut mempelajari proses nekropsi ini yang dilakukaan sesaat setelah Pearlie mati di laboratorium patologi kampus.

Menurut Dio, kadar normal itu jika ada cacing tetapi tidak terlalu banyak. “Ini hampir semua saluran pencernaan terdapat cacing. Artinya jika kita memakan paus terdampar memungkinkan untuk terjadinya penyakit zoonosis yangg ditularkan oleh hewan ke manusia atau sebaliknya,” papar pria muda yang menyukai hewan liar ini. Sama seperti penyakit zoonosis dari bakteri ataupun virus. Sementara pada paus sperma jenis Kogia ini jenisnya parasit.

Hasil lainnya ada cairan berwarna hitam pekat keluar urogenital. Dio menjelaskan ini cairan bewarna hitam dari sistem perkencingan dan reproduksinya. “Kami menduga pertama adanya indikasi penyakit erysipelas. Tetapi mungkin juga cairan pekat ini untuk mengelebui predator jika kogia merasa terancam,” jelasnya.

Paus ini roman mukanya mirip karakter kartun Spongebob bernama Pearl, si paus sperma remaja betina anak Tuan Crabs. Paus sperma kerdil ini terdampar dan mati di perairan Pantai Matahari Terbit, Sanur pada Senin (23/01/2017). Foto Luh De Suriyani

 

Kemudian ada hemorragi pada gastrointestinal dan selaput jantung. Terjadi perdarahan pada gastro intestine atau sistem pencernaan. Bisa terjadi akibat parasit atau penyakit lainnya. Sementara uji apung pada paru menunjukkan organ mengapung (berisi udara), artinya kematian bukan karena tenggelam.

Diagnosisnya, kematian Pearlie bersifat  non infeksius artinya adanya gigitan predator cookie cutter shark. Diperparah dengan inveatasi parasit cacing anisakis yang membuat kondisi Kogia menjadi buruk.

Berita acara nekropsi tim medis memaparkan detail identifikasinya. Ciri-ciri Pearlie si paus sperma kerdil muda ini adalah kepala berwarna abu-abu, bentuk rahang underslung seperti hiu. Warna keseluruhan biru tua sampai abu-abu dengan kulit berwarna coklat dengan abdominal abu-abu. Flipper depan sangat mendekati kepala. Bentuk blowhole sedikit berlekuk atau melengkung. Dorsal fin berukuran kecil, berbentuk persegi di belakang punggung. Jumlah gigi 14 pasang dan usianya masih anakan atau juvenile.

Bagaimana dengan hewan laut lain? Dari pengalaman Dio melakukan nekropsi, penyu juga membawa banyak penyakit baik virus, bakteri, dan parasit. “Penyu merupakan hewan kuat. Ketika mengalami kerusakan tubuh hingga 95% dia masih bisa bertahan. Artinya dia kuat terhadap penyakit,” tambahnya. Bukan berarti manusia yang gemar memakan daging penyu juga kebal penyakit.

Terlebih saat ini Polair Polda Bali makin banyak menangkap penyelundupan penyu yang sudah dipotong-potong. Jika sebelumnya selalu penyu terikat dan masih hdup, sekarang untuk mengelabui sudah berupa daging. Kondisi ini lebih buruk karena tak mungkin ada harapan bisa merehabilitasi penyu hasil selundupan dan dilepaskan kembali ke laut.

Beberapa potongan tubuh penyu yang sudah beku, para penyu dipotong dengan bagian karapasnya. Foto Luh De Suriyani

 

Walau sudah ada hasil sementara, direkomendasikan ada diagnosa banding. Misalnya peneguhan diagnostik melalui diagnostik laboratorium histopatologi, bakteriologi, dan parasitologi. Juga laboratorium genetika (menentukan spesies) dan rekonstruksi anatomi (osteologi)

Tim evakuasi paus terdampar di Mertasari ini dilakukan oleh tim life guard Sanur, BPSPL Denpasar, TCEC Serangan, dan FKH Unud. Seorang turis melaporkan melihat mamalia berenang di tepi laut, lalu coba direhabilitasi karena banyak perlukaan.

Sangat sedikit mamalia laut yang dibedah dan uji lab karena perlu biaya. Sementara nekropsi dinilai penting untuk mempelajari kehidupan hewan liar dan dampaknya pada manusia. Contohnya kewaspadaan mengonsumsi dagingnya ini.

Dio menyebut nekropsi Pearlie ini sukarela dengan biaya sendiri karena kecintaanya pada hewan liar. “Ada dana dari luar tapi harus ngajuin grant terkait forensik tapi kebanyakan forensic DNA,” ujarnya.   Masalah dana juga muncul jika hewan perlu perawatan. Ia mencontohkan dugong terdampar di Sulawesi. Bayi dugong memerlukan perawatan lumayan lama hingga 10 tahun.

Relawan dokter dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana mengungkap ada apa di balik kematian seekor paus kogia pada Janauri 2017 lalu dengan nekropsi. Foto Luh De Suriyani

 

Konteks lebih luas kewaspadaan penyakit pada hewan laut terkait daur ekologi dan dampaknya pada manusia salah satunya ditulis oleh Lena N. Measures, Anisakiosis and Pseudoterranovosis, editor Rachel C. Abbott dan Charles van Riper, III USGS National Wildlife Health Center (Circular 1393).

Dalam publikasi yang sudah ada versi online ini disebutkan munculnya penyakit zoonosis pada manusia dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar hasil dari padat penduduk, dan terganggu lingkungan dunia yang mengalami perubahan iklim yang cepat. Penyakit zoonosis seperti anisakiosis dan pseudoterranovosis akan mulai muncul lebih sering pada hewan lintang utara dan populasi manusia.

Infeksi larva Anisakis spp. dan Pseudoterranova spp. Disimpulkan sangat tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan. Dalam daging ikan mereka dapat bertahan hidup dalam kondisi dingin, cukup penggaraman, dan suhu beku (Hauck, 1977; Bier, 1976; Deardorff dan Throm, 1988; Gardiner, 1990; Wharton dan Aalders, 2002). Beberapa metode persiapan ikan dapat digunakan untuk mengurangi kemungkinan tertular infeksi.

Larva Anisakis spp. pada ikan daging bermasalah bagi konsumen, karena ukurannya yang kecil dan warna transparan atau putih membuat sulit untuk dideteksi. Di sisi lain, larva Pseudoterranova spp., Yang umumnya banyak ditemukan dalam daging ikan, sering terlihat oleh konsumen, tergantung pada ketebalan fillet ikan.

Mengiris atau fillet ikan menggunakan pencahayaan kuat untuk melihat larva kemudian mencabuti secara manual (candling) masih digunakan secara komersial di beberapa pabrik pengolahan ikan.Tapi candling mahal, mengurangi nilai dari produk, dan tidak efisien sebagai yang khasiat tergantung pada ketebalan fillet yang diperiksa (Power, 1958, 1961; Valdimarsson dan lain-lain, 1985; Hafsteinsson dan Rizvi, 1987).

Seekor paus sperma betina atau sperm whale (Physeter macrocephalus), terdampar dan mati di sebuah pesisir pulau kecil di Gili Batu, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada pada Kamis (12/01/2017). Petugas dari BPSPL KKP Denpasar Bali dan petugas setempat dibantu masyarakat kemudian menenggelamkan bangkai paus di tengah laut. Foto : BPSPL Denpasar wilayah NTB

 

Dalam sejumlah kasus mamalia laut terdampar misalnya di Bali dan Lombok,  tantangannya adalah mencegah warga sekitar mengambil daging dan bagian tubuh hewan yang diyakini sebagai obat. Misalnya saat paus sperma sekitar 5 ton terdampar mati pada 12 Januari di Lombok.

“Sudah ada warga yang memotong sebagian giginya. Ada kepercayaan gigi dan minyaknya untuk obat,” urai Lalu Adrajatun petugas lapanganB alai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP Denpasar yang juga mewilayahi NTB.

 

sumber: http://www.mongabay.co.id/2017/03/12/kabar-buruk-jika-makan-daging-mamalia-terdampar/